UNTUK ANAKKU



 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. (Ef 6:4)

Seorang ayah menulis surat untuk putranya, ia menulis dan memberikan surat ini di saat anaknya terlelap tidur, beginilah suratnya:

Dengar, nak, ayah mengatakan ini saat kamu tertidur lelap, kulihat begitu lelapnya engkau tertidur dengan satu tangan tertindih pipimu. Ayah menyesal telah berlaku kasar terhadapmu, ayah tak dapat mengontrol emosi sehingga memukul engkau, karena engkau tak mau belajar dan beradu argumentasi denganmu serta merta ayah menganggap engkau sungguh sudah keterlaluan hingga tak kuasa tanganku melayang ke pipimu, maafkan aku anakku.

Saat kamu selesai mandi pagi dan kamu hanya menggeletakkan handuk begitu saja, itu membuat ayah marah karena kamu tak mau berdisiplin menyimpan barang pada tempatnya. Dan ketika aku lihat di meja belajarmu masih saja bukumu berantakan tak karuan, ayah pun marah padamu.

Bahkan saat sarapan pagi, engkau dengan santai makan tanpa mengunyah dan engkau telan makananmu, banyak sisa makanan yang berceceran, air minum yang tumpah sungguh nak! cara kamu begitu kacau dan itu membuat ayah marah. Pagi-pagipun ayah senantiasa marah kepada engkau dan berharap agar engkau dapat hidup lebih tertib.

Kemudian hal itu berulang di sore hari manakala engkau tengah asyik bermain dengan temanmu, ayah mengelandang engkau  dan membuatmu malu terhadap teman-temanmu. Ayah lantas menyuruhmu mandi dan belajar mengulang pelajaran, padahal kamu mengatakan sudah belajar tadi sepulang sekolah dan baru nanti malam belajar kembali. Namun sore ini ia telah berjanji dengan teman-temanya untuk bermain di lapangan. Ayah tetap berkehendak engkau berdisiplin dalam hidup.

Hmm, nak entah sampai kapan ayah tak memarahi kamu? Ayah terlampau menuntut engkau untuk hidup secara dewasa dan berdisiplin penuh, namun ayah mengesampingkan bahwa engkau masih anak-anak yang butuh bermain. Ayah terlampau berharap agar engkau setara dengan orang dewasa dalam berlaku.

Masih ingatkah engkau? Dimana saat ayah memukul engkau dan engkau menangis, itu membuat hati ayah terluka, maaf kan ayah telah membuat hatimu terluka. Namun engkau tak berkata sepatah katapun dan engkau dengan hangat memeluk dan mencium ku. Sungguh nak! Pelukan dan ciuman engkau membuat taman hati yang kering menjadi segar dan subur kembali. Arti peluk dan cium dari mu membuat hati dan jiwa ini luluh, kekerasan hatiku meleleh semua berkat kasih Tuhan yang tersalurkan melalui dirimu. Arti kecup dan ucapan selamat malam mu kepada ku sungguh telah mengubah segalanya, hati kecilmu sebesar fajar di bukit yang luas.

Inilah sebuah pengakuan dosa; jikalau ayah menceritakan semua ini saat kamu terjaga. Ayah tahu engkau tidak akan memahaminya. Tetapi besok ayah akan menjadi ayah yang sejati! Ayah akan menjadi sahabatmu; menderita di kala kamu menderita, dan tertawa di kala kamu tertawa. Ayah akan menggigit lidah kalau hendak muncul kata-kata tidak sabar. Ayah akan terus berkata, “Ia hanya seorang anak-anak kecil”

DONGENG MASA KECIL



Tetapi mereka, nenek moyang kami itu, bertindak angkuh dan bersitegang leher dan tidak patuh kepada perintah-perintah-Mu.( Neh 9:16)

Suatu ketika, kura-kura dan kancil berdebat tentang siapa yang lebih cepat. Mereka memutuskan untuk menyelesaikan debat itu dengan sebuah pertandingan. Mereka menyepakati sebuah rute dan memulai pertandingan. Kancil langsung memimpin dan berlari dengan lincah selama beberapa saat. Melihat dirinya berada jauh di depan kura-kura, kancil duduk di bawah pohon dan tidur! Sementara itu, kura-kura berhasil menyusul kelinci dan menyelesaikan pertandingan. Ia keluar sebagai pemenang dan akhirnya kancil harus mengakui akan kekalahan tersebut.

Kancil teramat kecewa atas kekalahan tersebut namun ia masih berharap ada pertandingan ulang. Ia berpikir keras dan menganalisa sebab kekalahannya dan ia menyadari bahwa penyebab kekalahan itu adalah karena ia terlampau percaya diri. Yang akhirnya mengakibatkan dirinya berlaku bodoh dan ceroboh, maka ia mengajak kepada kura-kura untuk mengadakan pertandingan ulang. Kura-kura dengan bijak menyetujui akan permintaan itu. Akhirnya pertandingan ulang dilakukan, kali ini kancil tidak berlaku ceroboh. Dari awal start, ia berlari dengan cepat dan akhirnya memenangkan pertandingan dengan meninggalkan kura-kura beberapa mil jauhnya.

Kali ini kura-kura berpikir keras, dan ia menyadari bila dilakukan tanding ulang kembali tidak mungkin bagi dia untuk memenangkan pertandingan tersebut bila mempergunakan format seperti ini. Ia pun berpikir keras dan setelah menganalisa kemampuan dan keahliannya maka kura-kura mengajukan suatu rute pertandingan yang berbeda dan ia ajukan kepada kancil, yang oleh kancil hal itu disetujui. Maka mereka pun mengadakan pertandingan kembali. Mereka pun mulai berlari meninggalkan garis start, kacil dengan konsisten berlari dengan kecepatan tinggi sehingga meninggalkan lawannya jauh sekali, hingga tibalah ia di pinggir sebuah sungai yang dalam. Kancil duduk termenung dan berpikir keras untuk dapat menyeberang sungai tersebut. Saat kancil masih duduk dan berpikir tibalah kura-kura dan dengan singgap ia menyeberang sungai serta meninggalkan kancil yang masih termenung di pinggir sungai. Akhirnya kura-kura yang memenangkan pertandingan ini.

Setelah pertandingan itu kini keduanya saling memahami akan keahlian masing-masing dan mereka pun kini menjadi sahabat karib. Dan pada saat itu di lingkungan tempat mereka diadakan pertandingan lari beregu yang masing-masing beranggotakan dua orang. Kancil dan kura-kura kini menjadi satu tim, mereka telah mengatur strategi yang baik untuk memenangkan pertandingan. Dari mulai garis start hingga mencapai pinggir sungai, kancil menggendong kura-kura dan saat menyeberang sungai bergantian kini kura-kura yang menggendong kancil. Dengan kerjasama tim dan srategi jitu akhirnya mereka berdua memenangkan pertandingan tersebut.

v     Jangan sombong dalam segala hal

v     Lambat namun konsisten adalah sesuatu yang bijak untuk di lakukan dalam mengerjakan sesuatu namun alangkah lebih baiknya apabila dengan kecepatan yang konsisiten kita kerjakan tugas tersebut.


v     Pelajari dan analisa keahlian atau karunia yang telah Tuhan berikan kepada kita dan asah terus ketrampilannya

v     Apabila tidak memungkinkan mendapatkan goal yang di harapkan dengan rencana awal ubahlah medan pertempurannya yang sesuai dengan keahlian kita


v     Jadilah tim yang solid dan tekun dalam menghadapi segala sesuatu, dengan kerja tim maka pelayanan kita akan semakin menjangkau banyak jiwa.

BERTEKUN



“Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah.” (2Sam 12:16)


Suatu masa terdapat sebuah sekolah yang terkenal pada masanya karena dari sekolah itu senantiasa terlahir orang-orang hebat pada zamannya dalam berbagai bidang pengetahuan. Konon sekolah itu amat ketat dalam seleksi penerimaan siswa baru dan tidak mudah untuk dapat belajar disana. Sekolah itu merupakan sebuah sekolah terpadu yang terdiri dari anak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Sisiwa-siswa yang berprestasi selesai dari jenjang perguruan tinggi biasanya mereka langsung bekerja di pusat pemerintahan kerajaan.


Lao adalah murid sekolah dasar yang mempunyai prestasi yang bagus namun ia tidak menyenangi pelajaran berhitung, sehingga setiap kali ada pelajaran berhitung ia akan bolos sekolah. Lao biasanya apabila membolos senantiasa bermain di belakang bukit dan menyeberangi sungai yang jernih. Suatu saat mata ia tertuju pada seorang nenek yang senatiasa ia lihat selalu berdiam di pinggir sungai sambil entah menggosok-gosokan sesuatu ke batu. Lao dengan penasaran menghampiri nenek tersebut dan bertanya dengan lembut,

“Nek sedang mengerjakan apa?”,

nenek itu membalas,”Oh ini nak sedang mengasah besi untuk di jadikan sebuah jarum. Tetapi ngomong-ngomong, kenapa engkau tidak masuk sekolah?”.

Lao menjawab, “Aku tidak membolos namun aku hanya menghindari pelajaran berhitung yang tidak aku sukai. Lalu, apa bisa besi setebal itu dapat menjadi sebuah jarum yang tipis?”.

 Nenek itu menjawab,”Nak di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin apabila kita yakin dan tetap bertekun pasti semua dapat berhasil. Engkau pun seharusnya, yakin bahwa dapat menyenangi pelajaran berhitung dan pasti dapat dengan mudah mempelajarinya apabila yakin dan bertekun”.

Lao hanya berdiam dan lantas pamit untuk melanjutkan ke tempat ia bermain, dalam hati ia berkata apa mungkin besi dapat menjadi jarum? Pernyataan dari sang nenek ternyata membuat hatinya senantiasa memeikirkan dan merenungkan apa yang di ucapkan nenek tersebut.


Selang beberapa lama Lao kembali menyusuri pinggiran sungai itu dan ia mendapati nenek itu kini memegang sebuah jarum yang tipis dan tajam. Takjublah Lao setelah melihat hal tersebut dan itu membuatnya sadar bahwa apa yang dia kerjakan selama ini tidak benar. Ia hanya menghindari masalah itu dan ternyata tidak menyelesaikan masalahnya namun apabila masalah itu di hadapi dan dengan yakin dan tekun pasti masalah itu dapat di selesaikan. Lao bertekad untuk menghadapi pelajaran berhitung dan dengan tekun belajar dan berlatih. Lao belajar di sekolah itu sampai perguruan tinggi dan menjadi guru besar filsafat dan teramat disegani pada zamannya dan ia merupakan penasehat kerajaan di negeri tiongkok pada masanya, ialah Lao Tze yang masa kecilnya malas dan bandel namun berkat mengikuti nasehat seorang nenek, mengubah cara pandang dan membuka pikirannya untuk menjadi maju.     

RAWATLAH ORANGTUA MU



 Hormatilah ayahmu dan ibumu  —  ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: (Ef 6:2)

 Seorang pria tua yang lemah pergi untuk tinggal bersama putranya, menantunya dan cucunya yang baru berumur 5 tahun. Tangan pria itu senantiasa gemetaran karena stroke, penglihatannya sudah mulai buram akibat penyakit diabetesnya. Keluarga tersebut makan malam bersama di satu meja. Tetapi naas bagi pria tua tersebut di karenakan pandangannya yang buram dan tangannya yang senantiasa gemetaran menyulitkan ia untuk menyantap makanannya. Kacang polong berjatuhan dari sendoknya dan berserakan di lantai, ketika meraih gelas untuk minum susu ternyata gelas tersebut terjatuh dan air susu membasahi taplak di karenakan gugup ia pun tak sengaja menjatuhkan piring kelantai.

Putra dan menantunya merasa terganggu dengan “kekacauan” itu. “Kita harus melakukan sesuatu” kata anaknya, “Aku sudah bosan melihat susunya yang tumpah, makannya yang berisik dan makanan yang berserakakan di lantai”. Maka suami itu menyiapkan meja dan kursi kecil di sudut ruangan, kakek itu makan sendirian disana sedangkan anak, menantu dan cucunya menikmati makan malam. Semenjak memecahkan piring dan gelas maka alat makan pria itu di ganti dengan mangkuk dan gelas yang terbuat dari kayu. Ketika keluarga itu melirik ke arah kakek itu, tampak airmata terlinang dari mata sang kakek dan membasahi pipinya. Namun apa yang diperoleh sang kakek ia tetap mendapat hardikan dan hinaan dari anak dan menantunya karena kakek itu masih saja menjatuhkan sendok dan garpunya. Cucunya memperhatikan situasi tersebut dengan seksama dalam diamnya yang penuh makna.

Suatu sore, sebelum makan malam, ayah dan ibu itu melihat anaknya bermain dengan potongan kayu di lantai. Sang ayah bertanya dengan lembut, “Sedang membuat apa?” Dengan kelembutan yang sama anak itu menjawab “Oh, aku sedang membuat mangkuk kecil untuk tempat makan ayah dan ibu kalau aku sudah besar nanti” anak berumur 5 tahun itu tersenyum dan kembali bekerja. Kata-kat itu sedemikian menyentak, sehingga pasangan itu tidak mampu berkata-kata. Lalu airmata mereka mulai mengalir dan membasahi kedua pipi mereka. Meskipun tidak ada kata yang terucap, keduanya tahu apa yang harus di lakukan.

Malam itu, si suami menggamit tangan kakek itu dan dengan lembut membawanya kembali ke meja makan keluarga. Selama sisa hidupnya, kakek itu menikmati makanannya bersama keluarga itu. Dan karena alasan tertentu, suami-istri itu sepertinya tidak lagi memperhatikan garpu yang jatuh, susu yang tumpah atau taplak meja yang kotor.

Anak memang cepat sekali belajar, mata mereka selalu mengamati, telinga mereka selalu mendengar dan pikiran mereka selalu memproses pesan yang mereka terima. Kalau mereka melihat kita dengan sabar menciptakan suasana rumah yang menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga, mereka akan meniru sikap itu sepanjang sisa hidup mereka. Orangtua yang bijaksana menyadari bahwa setiap hari, mereka memasang fondasi untuk masa depan si anak. Marilah memasang fondasi itu dengan bijaksana dan menjadi tokoh panutan yang baik bagi mereka.

ADA MASANYA



Sore itu hujan teramat lebat, terbanglah sesekor burung gelatik. Ia memaksakan diri untuk tetap terbang menerjang hujan yang lebat. Udara saat itu sangat dingin membekukan sendi-sendi otot dan sayapnya pun menjadi kuyup dan terasa membeku. Entah mengapa burung gelatik itu tidak dapat mengendalikan terbangnya dan ia pun akhirnya terjatuh.

Dalam hati gelatik itu yakin bahwa ini adalah akhir dari perjalanan hidupnya, sekujur tubuhnya telah mendingin. Ditengah kerisauan hatinya, tepat di atas tubuhnya kotoran sapi mendarat. Ternyata ia terjatuh di tengah peternakan sapi dan kebetulan ada sapi lewat dekat tubuhnya dan ups! Pups sapi! Menimpa gelatik, saat gelatik tengah berputus asa karena setubuhnya telah membeku dan sulit untuk digerakan, tiba-tiba kini kehangatan menerpanya dan ia merasakan sayap dan otot-ototnya dapat di gerakkan kembali. Dan ia pun bernyanyi amat riang saking gembira telah keluar dari “permasalahan”. Saat itu sesekor kucing sedang melintas dan ia mendengar ada kicauan burung, dan ia pun mencari asal dari suara itu. Dan ia temukan asalnya, serta-merta ia korek-korek kotoran sapi tersebut, ia temukan burung itu dan tanpa pikir panjang ia terkam serta ia lahap burung gelatik tersebut.

Ø      Jangan pernah menyerah dalam menghadapi setiap badai kehidupan


Ø      Pertolongan Tuhan dan waktu-Nya tidak pernah dapat kita duga, yakinlah Ia lebih mengetahui apa yang kita butuhkan, bersabarlah dalam menanti penggenapan waktu-Nya.


Ø      Apabila badai kehidupan telah di singkirkan jangan kita terlampau bersukcita dan malah membuat kita terlena. 

BERILAH TANGGAPAN, BUKAN REAKSI



“13 Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, 14  karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. 15  Ia lebih berharga dari pada permata; apapun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya.” (Ams 3:13-15)


Kita tidak berkuasa atas apa yang telah terjadi. Apa yang terjadi kemudian ditentukan oleh reaksi kita. Hasil yang baik berasal dari proses yang baik, dan proses yang baik berawal dari respon yang benar.


Apabila kita mengutuk dan dengan kasar membentak putra/putri kita hanya karena telah menjatuhkan secangkir kopi. Apa yang terjadi kepada mereka setelah kita berbuat demikian? Lihatlah mereka terhenyak, hati mereka terluka dan mereka pun menangis, adakah kita dapat menyelami bagaimana keadaan HATI mereka? Bahkan kita biasanya tidak akan merasa puas dengan hal ini, dan kita pun beralih ke pasangan kita serta mengecamnya karena ulahnya yang menyimpan cangkir terlalu dekat dengan tepi meja.


Apa yang terjadi selanjutnya? Perang mulut pasti terjadi! Masing-masing pihak saling menyerang dan mempertahankan argumennya. Namun sebetulnya mereka berdua sedang memperlihatkan EGO masing-masing tanpa memperhatikan dampak selanjutnya yang akan terjadi baik bagi mereka maupun anak-anak mereka. Yakinlah dari hal yang kecil ini akan menjadi awal dari keretakan hubungan rumah tangga. Dan pastinya semua anggota keluarga hatinya terluka, apa yang dapat menyembuhkan hati yang terluka? Sakit batuk atau flu dengan mudah di obati dan penyakit tersebut dapat dengan cepat berlalu. Namun untuk HATI yang terluka membutuhkan waktu yang lama dalam proses penyembuhannya.


Kita tidak dapat berbuat apa-apa atas apa yang terjadi dengan kopi kita. REAKSI sepuluh detik pertama yang di tanggapi dengan RESPON yang buruk akan membuat hasil yang buruk di kemudian hari. Sepuluh detik pertama yang di tanggapi dengan respon yang baik dan benar akan membuat hasil yang baik dan berbuah kebahagiaan di kemudian hari. Seharusnya kita bersikap BIJAKSANA dalam mengatasi hal tersebut, dapatkah bila kita berkata dengan lembut, “Tidak apa-apa, sayang, lain kali kamu harus lebih berhati-hati”.


v     Hadapi setiap masalah dengan HATI yang baik dan respon yang benar, apabila kita menghendaki kebahagiaan di masa kini dan masa yang akan datang.

v     Sebelum bertindak cobalah kita mengubah posisi kita untuk menjadi orang yang akan kita HAKIMI, apa yang kita rasakan? Asah terus rasa empati kita dan tumbuhkan kasih dalam hati.

v     Tanggapi setiap masalah dengan BIJAK bukan memberikan reaksi terhadap masalah, lihatlah bagaimana seekor domba ataupun binatang memamah biak dalam memproses makanannya. Makanan tersebut di proses dengan benar-benar menghasilkan sari makanan yang lembut dan tidak melukai usus mereka. Seperti itulah seharusnya kita, apabila kita memproses suatu masalah harus menghasilkan kebahagiaan untuk kedua belah pihak.

JANGAN LUPAKAN ANUGERAH



Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" (Ayb 2:9)


Jimi adalah salah satu atlet yang hebat pada masanya, selama karirnya ia telah memenangkan berbagai turnamen. Namun kin ia terbaring kaku di atas pembaringannya. Ia terkena stroke dan lebih parahnya ia pun terkena AIDS. Padahal ia benar-benar menjaga perihal seks bebas, Jimi amat setia kepada istrinya dan juga yang utama ia taat akan perintah Tuhan. Dia pun bukan pengguna obat-obatan terlarang. Suatu saat salah satu rekannya datang menjenguk dia dan berkata,”Mengapa kamu Jimi?”,”Mengapa aku?” dengan tenang Jimi balas bertanya, kemudian lanjutnya, “Saat aku senantiasa diberikan kemenangan dan mengangkat tropy, aku tidak bertanya kepada Tuhan, mengapa aku? Apakah adil jikalau kini aku mengajukan pertanyaan itu sekarang?


v     Alangkah seringnya kita melupakan anugerah yang pernah kita terima.

v     Bahkan kita selalu menyalahkan sebab semua masalah ini terjadi adalah mutlak kesalahan orang lain atau pasangan hidup kita.

v     Kita merasa bahwa Tuhan berlaku tidakadil karena memberikan permasalahan ini kepada kita

SEGALA SESUATU ADA WAKTUNYA



Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. ( Pkh 3:11)


Allah telah menempatkan dalam hati manusia suatu keinginan mendalam akan sesuatu yang lebih daripada hal duniawi. Umat manusia ingin hidup selama-lamanya dan menemukan nilai kekal di dalam dunia dan kegiatan-kegiatan hidup ini. Oleh karena itu, hal-hal materiel, kegiatan-kegiatan sekular, dan semua kesenangan dunia ini tidak akan pernah memuaskan sepenuhnya. Allah mempunyai rencana kekal yang mencakup semua maksud dan kegiatan setiap orang di muka bumi. Kita harus mempersembahkan diri kepada Allah sebagai persembahan kudus, membiarkan Roh Kudus melaksanakan rencana Allah bagi kita, dan berhati-hati agar kita tidak ke luar dari kehendak Allah sehingga kehilangan waktu dan maksud yang ditetapkan-Nya bagi hidup kita. Apa yang seharusnya kita lakukan agar waktu-Nya Tuhan berada dalam kehidupan kita, cara hidup yang seperti apakah yang menjadi standar Allah. Seperti halnya saat kita misal membuka suatu rekening tabungan di salah satu bank tentunya kita harus mengikuti standar ketentuan yang diberlakukan dan bukan pihak bank yang mengikuti kemauan kita namun kita yang mengikuti kemauan mereka. Contoh lainnya apabila kita bekerja disuatu perusahaan tentunya kita wajib mengikuti standar peraturan yang ada di perusahaan tersebut hingga pada waktunya akan menjadi suatu bahan penilaian bagi jenjang karir kita, pertanyaannya apakah perusahaan yang mengikuti kemauan kita ataukah kita yang wajib mengikuti standar mereka?.


Orang percaya seharusnya mempunyai keinginan tulus-ikhlas untuk menyenangkan hati Allah dalam kasih, pengabdian, pujian dan kekudusan, serta mempersembahkan tubuh untuk pelayanan. Keinginan terbesar kita seharusnya hidup kudus dan berkenan kepada Allah (Rm. 12:1). Ini menuntut memisahkan diri dari dunia dan makin mendekati Allah (Rm 12:2). Kita harus hidup bagi Allah, menyembah Dia, menaati Dia, bersama dengan Dia menentang dosa dan membela kebenaran, menolak dan membenci kejahatan, melakukan pekerjaan baik untuk orang lain, meniru Kristus, mengikut Dia, melayani Dia, hidup sesuai dengan Roh dan dipenuhi oleh Roh. Kita harus mempersembahkan tubuh kita kepada Allah sebagai sudah mati kepada dosa dan sebagai rumah Roh Kudus. Kita harus sadar bahwa sistem dunia ini jahat adanya (Kis 2:40; Gal 1:4) dan di bawah pemerintahan Iblis (Yoh 12:31; 1Yoh 5:19). Kita harus bersikap tegas terhadap segala cara yang berlaku dan populer dari roh dunia sambil memberitakan kebenaran kekal dan standar kebenaran Firman Allah demi Kristus (1Kor 1:17-24). Kita harus membenci kejahatan, mengasihi yang benar (Rm 12:9; 1Yoh 2:15-17) dan menolak untuk berserah pada aneka macam keduniawian di sekitar gereja, seperti keserakahan, mementingkan diri, pemikiran humanistik, siasat-siasat politik, iri hati, kebencian, dendam, kecemaran, bahasa yang tidak senonoh, hiburan duniawi, pakaian yang tidak sopan, kedursilaan, narkotika, minuman keras dan persekutuan dengan orang duniawi. Pikiran kita harus diselaraskan dengan cara Allah (1Kor 2:16; Flp 2:5) dengan membaca serta merenungkan Firman-Nya (Mzm 119:11,148; Yoh 8:31-32; 15:7). Rencana dan cita-cita kita harus ditentukan oleh kebenaran sorgawi dan abadi, bukan oleh zaman yang jahat, sekular, dan sementara.


 Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia? (Pkh 3:22). Bersukacitalah dalam mengerjakan sesuatu dan niatkan semuanya untuk Tuhan kita Yesus Kristus, tak perlu berharap akan upah duniawi ini dalam mengerjakan sesuatu. Ikhlas dalam niat semua di lakukan hanya untuk-Nya upah duniawi itu hanyalah sebuah sebab dari akibat kita mengerjakan segala sesuatu dengan benar. Dan lakukan apapun menurut standar Allah jangan pernah melakukan hal yang bertentangan dengan standar Tuhan sebab kita tidak akan luput dari “hukuman-Nya”, percayalah bahwa apa yang ada di alam semesta ini adalalah milik Allah. Bos yang sebenarnya adalah Allah jadi lakukanlah semua itu untuk Allah dan penuhi kekudusan dalam mengerjakannya. Maka kelak pada waktunya kita akan memetik hasil panen yang belimpah-limpah dan terpenuhi segala berkat dari-Nya, percalah bahwa Allah tidak melihat akan hasil akhir namun Ia lebih menilai saat kita merespon dan memproses hal tersebut.   

UNTUK TUHAN



Aku berkata dalam hati: "Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan! Tetapi lihat, juga itupun sia-sia." (Pkh 2:1).


Nikmatilah segala hasil jerih payah kita, bersenang-senanglah dari apa yang telah kita capai karena hakekatnya semua juga berasal dari Tuhan. Namun tanyakan kepada batin ini apakah semua hasil kerja keras kita telah memberikan kebahagiaan yang sebenarnya?  Sebenarnya semua kegiatan dalam hidup dapat memuaskan hanya apabila orang itu memiliki hubungan pribadi dengan Allah. Karena hanya Dia yang memungkinkan kita menemui kenikmatan dalam hidup ini. Allah memberikan hikmat, pengetahuan, dan sukacita sejati kepada mereka di dalam iman berkenan kepada-Nya. Jadi kita harus memandang hidup ini sebagai pemberian dari Allah dan mengharapkan bahwa Ia akan melaksanakan maksud-Nya bagi kita.


Kasih karunia Allah sedang bekerja di dalam anak-anak-Nya untuk menghasilkan di dalam mereka baik keinginan maupun kuasa untuk melakukan kehendak-Nya. Akan tetapi, pekerjaan Allah bukan berarti paksaan atau kasih karunia yang mendesak. Pekerjaan kasih karunia di dalam kita (Flp 1:6; 1Tes 5:24; 2Tim 4:18; Tit 3:5-7) selalu bergantung pada KESETIAAN dan KERJA SAMA kita (Flp 2:12,14-16). Paulus menasihatkan orang Kristen untuk menganggap semua pekerjaan sebagai suatu pelayanan kepada Tuhan. Kita harus bekerja seakan-akan Kristus adalah majikan kita, dengan mengetahui bahwa semua pekerjaan yang diperbuat "untuk Tuhan" kelak akan mendapat upahnya (Kol 3:24; bd. Ef 6:6-8).

HATI-HATI



“10  Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut; 11  jikalau mereka berkata: "Marilah ikut kami, biarlah kita menghadang darah, biarlah kita mengintai orang yang tidak bersalah, dengan tidak semena-mena;” (Ams 1:10-11)


Dalam kehidupan ini tekanan hidup bukan saja berasal dari faktor ekonomi namun juga merambah kepada tantangan dalam pergaulan hidup, bagaimana kini telah dibukakannya pintu “kesemarakan” kehidupan pelbagai sarana pemuas penglihatan, pendengaran dan emosi semakin banyak beredar bahkan tersodorkan langsung kedalam rumah. Namun dalam ayat di atas penekanannya mengajarkan kepada setiap kita bagaimana dalam bergaul dengan sesama kita dan harus bagaimana memilih “teman”. Dalam hal pergaualan banyak di antara kita terjebak pada suatu bujukan halus dari “teman karib” untuk mengikuti kehidupan dalam dosa, kadangkala kita tak kuasa menolak karena perasaan tidak enak. Tuhan menginginkan kita tegas untuk dapat menolak godaan dan berbalik kepada Allah serta jalan-Nya dengan menggalang hubungan yang dekat dengan-Nya sebagai Tuhan mereka, dengan kesediaan berdiri sendiri, jika memang perlu, dalam komitmen mereka kepada jalan-jalan Allah yang benar (Ams 1:15-16), dan dengan menyadari bahwa jalan kompromi dan kesenangan berdosa menuntun kepada sakit hati, kesukaran, malapetaka, dan kebinasaan (Ams 1:27).


Kita dapat belajar dari Pencobaan Yesus oleh Iblis yang mana adalah usaha untuk membelokkan Yesus dari jalan ketaatan yang sempurna kepada kehendak Allah. Perhatikanlah bahwa dalam setiap pencobaan Yesus tunduk kepada kekuasaan Firman Allah dan bukan kepada keinginan Iblis (Mat 4:4,7,10). Ingatlah Iblis merupakan musuh terbesar kita. Sebagai orang Kristen, kita harus sadar bahwa kita terlibat dalam peperangan rohani melawan kuasa-kuasa kejahatan yang tidak nampak namun sangat nyata (Ef 6:12). Tanpa Roh Kudus dan Firman Allah yang digunakan secara tepat, orang Kristen tidak mungkin mengalahkan dosa dan pencobaan. Senatiasa baca firman Tuhan dan renungkan, ingatlah terus dalam hati kita bahkan saat di pembaringan, intinya dimanapun kita ingat selalu akan Tuhan dan firman-Nya. Sadarilah bahwa melalui Firman Allah kita mempunyai kuasa untuk melawan setiap ajakan dari Iblis, Sadari dan taati dorongan Roh Kudus untuk mematuhi Firman Allah.


Allah telah menetapkan standar-standar mutlak mengenai benar dan salah; mengabaikannya berarti mendatangkan akibat-akibat yang menyedihkan dalam hidup kita. Salah satu kebenaran besar yang dapat kita pelajari ialah bahwa kita memang akan menuai apa yang kita taburkan (Gal 6:7-9). Harga yang nantinya harus kita bayar bagi dosa kita ialah penderitaan, kesusahan, dan celaka (Ams 1:27). Kekaguman yang penuh hormat pada kuasa, keagungan, dan kekudusan Allah menghasilkan di dalam diri kita suatu ketakutan kudus untuk melanggar kehendak-Nya yang ternyatakan; kehormatan semacam ini perlu sekali untuk memperoleh hati berhikmat. (Ams 1:7) Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

MENJARING ANGIN



Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. (Pkh 1:2)

Apabila tujuan hidup ini telah lepas pada sandaran keutamaan untuk kemuliaan Allah dan mengejar kebahagiaan hakiki bersama-Nya dalam Kerajaan-Nya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Seluruh kegiatan kita diatas bumi ini tidak ada artinya dan tidak ada tujuannya ketika dilakukan terlepas dari kehendak Allah, persekutuan,dan kegiatan kasih Allah di dalam kehidupan kita. Kita harus melihat lebih jauh dari hal-hal duniawi kepada hal-hal surgawi untuk menerima pengharapan, sukacita, dan damai sejahtera. Hidup yang hanya mengejar untuk memuaskan hasrat lahiriah semata tak akan pernah ada habisnya dan tak pernah akan terpuaskan bahkan pada akhirnya akan membuat kita semakin hanyut serta tak jarang membuahkan depresi pada kehidupan kita. Ibarat laut yang senantiasa “terisi” oleh aliran sungai adakah laut itu meluap? “Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. (Pkh 1:7).

Pada akhirnya segala sesuatu adalah menjemukan, hanya suatu aktifitas yang monoton tak pernah “bertumbuh” dan pada akhirnya berbuah menjadikan kehidupan lebih bermakna dan menggairahkan. (Pkh 1:8)  Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.  Jika kita perhatikan lebih seksama sebenarnya di bumi ini tidak ada yang baru, (Pkh 1:9)   Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.

Ayat ini tidak berarti bahwa tidak ada penemuan baru, hanya bahwa tidak ada bentuk kegiatan baru. Pencarian, sasaran, dan keinginan umat manusia tetap sama. Pengkhotbah memberikan nasehat bahwa hidup yang berpegang pada prinsip duniawi akan mendatangkan kerugian dan hidup kita menjadi sia-sia seperti “menjaring angin” namun apabila hidup kita bersandarkan kepada prinsip surgawi maka kita beroleh hidup yang kekal. Namun berhati-hatilah senantiasa dan ujilah setiap perkataan atau pun ajaran seseorang dengan bersandarkan kepada Alkitab, karena ingatlah bagaimana hawa digelincirkan lewat firman Tuhan yang “digelincirkan” oleh iblis. Mereka tidak akan pernah merasa puas sebelum melihat kehancuran manusia dan kabar baiknya kita selaku anak-anak Tuhan telah diberikan pendamping yang kuat yaitu Roh Kudus, tetapi pertanyaannya dapatkah Roh Kudus itu bekerja efektif apabila kita hidup menjauhkan diri dari persekuan dengan Tuhan dan hidup jauh dari pengudusan?.

HIDUP YANG KUDUS



Rm 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Orang percaya seharusnya mempunyai keinginan tulus-ikhlas untuk menyenangkan hati Allah dalam kasih, pengabdian, pujian dan kekudusan, serta mempersembahkan tubuh untuk pelayanan.

1) Keinginan terbesar kita seharusnya hidup kudus dan berkenan kepada Allah. Ini menuntut memisahkan diri dari dunia dan makin mendekati Allah (Rm 12:2). Kita harus hidup bagi Allah, menyembah Dia, menaati Dia, bersama dengan Dia menentang dosa dan membela kebenaran, menolak dan membenci kejahatan, melakukan pekerjaan baik untuk orang lain, meniru Kristus, mengikut Dia, melayani Dia, hidup sesuai dengan Roh dan dipenuhi oleh Roh.

2) Kita harus mempersembahkan tubuh kita kepada Allah sebagai sudah mati kepada dosa dan sebagai rumah Roh Kudus (Rm 12:2 bd. 1Kor 6:15,19).

Artinya dalam hidup ini kita harus mengalami perubahan dari yang tidak benar kepada kehidupan yang penuh kebenaran. Dan bukan juga berarti kita dalam hal ini menjauhkan dari kehidupan dunia, kita adalah mahkluk sosial yang memerlukan komunitas dalam bersosialisasi, hakekatnya kita harus menjauhkan prinsip-prinsip hidup dunia yang penuh kejahatan. Disinilah tantangan yang nyata bagi orang percaya dimana kita harus menjadi terang bagi dunia ini dan memancarkan kemulian Tuhan Yesus dimanapun Ia menempatkan kita. Hanya dengan senantiasa berintim dengan-Nya kita dapat menemukan pancaran kemulian Tuhan Yesus, mari kita kembali kepada Tuhan dengan mempersembahkan kesucian tubuh kita. Kehidupan kita yang sebenarnya adalah “Tanah Surgawi” dan percayalah di bumi ini adalah masa kita menabur kemulian Tuhan, teguhlah dalam ketaatan iman yang kokoh kepada Tuhan kita Yesus Kristus, Tuhan Memberkati. .

Blog Rankings

Arts Blogs - Blog Rankings