Hidup Itu Indah



“Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu kerajaanTuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (1 Ptr. 1:11)

Dalam menghadapi kehidupan ini, kita sering merasa hidup begitu menekan   dan  sulit.   Berbagai pekerjaan membuat kita melewati hari demi hari dalam stres yang tak  berkeputusan. Berbagai masalah membuat kita tak mampu lagi melihat hal-hal yang indah dan menarik dalam hidup. Bahkan kadangkala ada juga orang yang begitu putus asa sehingga mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Kalaupun tidak seekstrim itu, banyak orang menjadi seperti robot. Melewati hari demi hari dalam rutinitas. Tanpa gairah, tanpa semangat, tanpa harapan.

Dengan memiliki harapan manusia mempunyai alasan untuk tetap melanjutkan hidupnya. Harapan membuat manusia tidak pernah berhenti berjuang. Harapan membuat manusia merancangkan langkah-langkah yang tepat bagi kelangsungan hidupnya. Ini membuktikan bahwa hidup manusia itu berharga karena didalamnya terkandung nilai-nilai yang diperjuangkan untuk membuat manusia tetap hidup. Hidup sangat berharga. Bahwa kita yang hidup tahu,  kita akan mati sementara orang mati tidak dapat berbuat apa-apa.

Ini menunjukkan bahwa hidup menjadi berharga karena kita melakukan sesuatu; berbuat sesuatu seperti untuk menikmati segala hal dalam hidup ini dengan sukacita dan kita juga senantiasa hidup dalam kebenaran dan keadilan, dengan tetap menjaga hidup kerohanian kita. Semua hal ini memberi penjelasan kepada kita, bahwa keindahan hidup tidak diukur dari panjang pendeknya umur, tidak juga diukur dari kaya miskinnya orang, tetapi dari bagaimana ia mengisi hidupnya.

Hidup menjadi berarti jika kita mengisinya dengan kerja dan usaha tentang hal hal yang baik. Yang paling penting dari semua itu adalah meskipun hidup ini siasia. tetapi hidup ini adalah pemberian Tuhan. Maka selama kita hidup nikmatilah hidup kita dengan kerja, sukacita dan harapan. Hanya dengan demikian kita dapat menemukan keindahan hidup, pendek atau panjang umur kita. Kita dapat menikmati keindahan hidup, kaya atau miskin keadaan kita. Karena hidup adalah Anugerah.

Roda Kehidupan



“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm. 8:28)

Guru, saya pernah mendengar kisah seorang arif yang pergi jauh dengan berjalan kaki. Cuma yang aneh, setiap ada jalan menurun, sang arif konon agak murung. Tetapi kalau jalan sedang mendaki ia tersenyum. Hikmah apakah yang bisa saya petik dari kisah ini1?"

"Itu perlambang manusia yang telah matang dalam meresapi asam garam kehidupan. Itu perlu kita jadikan cermin. Ketika bernasih baik. sesekali perlu kita sadari bahwa satu ketika kita akan mengalami nasib buruk yang tidak kita harapkan. Dengan demikian kita tidak terlalu bergembira sampai lupa bersyukur kepada Sang Maha Pencipta. Ketika nasib sedang buruk, kita memandang masa depan dengan tersenyum dan optimis. Namun optimis saja tidak cukup, kita harus mengimbangi optimisme itu dengan kerja keras."

"Apa alasan saya untuk optimis, sedang saya sadar nasib saya sedang jatuh dan berada dibawah."
"Alasannya ialah iman, karena kita yakin akan pertolongan Sang Maha Pencipta."
"Hikmah selanjutnya?"

"Orang yang terkenal satu ketika harus siap untuk dilupakan, orang yang diatas harus siap mental untuk turun kebawah. Orang kaya satu ketika harus siap untuk miskin."

PERCAYA SEPENUHNYA KEPADA TUHAN



“Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin rebut di danau itu, sehingga perahu itu ditumbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: Tuhan, tolonglah, kita binasa. Ia berkata kepada mereka: Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?, lalu bangunlah Yesus menghardik angin di danau itu, maka danau itu menjadsi teduh sekali”. ( Matius 8:23-26)

Sebagai pengikut Yesus Kristus seharusnya kita benar-benar percaya kepada Tuhan dan sepenuhnya mempercayakan hidup kita kepada-Nya. Namun pada kenyataannya, dengan mudah kita mengatakan “percaya”, tanpa benar-benar kita mempercayakan kehidupan kita sepenuhnya kepada Tuhan. Ada banyak perkara yang membuktikan kita tidak sepenuhnya secara totalitas percaya kepada Tuhan, misalnya saat di perhadapkan pada keadaan yang berhubungan dengan hidup mati, atau kepemilikan, seringkali kita bertindak berdasarkan pikiran dan kekuatan kita sendiri.

Tuhan kerapkali dijadikan pilihan terakhir atau dengan kata lain sebagai “ban cadangan” dan bukannya sebagai yang utama. Manusia mencari Tuhan dan berserahdiri sepenuhnya setelah kemungkinan lain gagal dan sudah tidak ada lagi harapan secara manusia. Apakah Tuhan harus ijinkan terjadi perkara berat dan membuat manusia kehilangan harapan dulu agar kemudian barulah percaya dan berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan? apakah iman seperti ini yang Tuhan kehendaki?

Dalam nas di atas, hal seperti ini jelas menggambarkan sikap orang yang kurang percaya. Murid-murid Tuhan Yesus pada nas tersebut di atas yang sebagian besarnya berprofesi sebagai nelayan sebelum dipanggil menjadi murid Yesus, mereka hafal betul bahwa cuaca seperti itu akan mengakibatkan hal yang buruk dan dapat dipastikan perahu yang mereka tumpangi akan karam. Oleh karenanya mereka kemudian membangunkan Yesus dari tidur dengan pemikiran mereka bakal binasa. Sungguh Nampak jelas tingkatan iman mereka pada saat itu.

Bila kita percaya kepada Tuhan Yesus ada di dalam perahu kehidupan ini, percaya jugalah bahwa Tuhan Yesus tidak akan pernah membiarkan perahu kehidupan kita karam dan tenggelam, apalagi binasa. Semua yang terjadi dalam kehidupan kita ini ada dalam pengawasan-Nya. Walaupun sepertinya Ia sedang “tidur”, namun sesungguhnya Dia tidak pernah tertidur untuk menjagai kita. Kasih-Nya terlalu besar untuk membiarkan kita tenggelam dan binasa. Ia telah rela mati bagi kita semua dengan tujuan untuk memberikan yang terbaik, bukan hanya untuk kehidupan di dunia ini, namun untuk kehidupan kekal bersama-Nya kelak.

Kekurangan Diri



“Dan hukumw yang kedua yang sama dengan itu , ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39).

Kita semua mengetahui bahwa sesungguhnya manusia itu tidak sempurna, segalanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka, sebaiknya perbedaan yang ada janganlah jadi pertentangan diantara kita, bahkan justru sebaliknya; perbedaan itu diciptakan untuk saling melengkapi.

Dan, janganlah kita terlalu mengasihani diri sendiri; jika kita memiliki suatu kekurangan, maka janganlah kita menganggap diri kita ini lemah, anggaplah kita ini hanya sedikit berbeda dari yang lainnya. Karena setiap orang juga pada dasarnya berbeda dan memiliki kelemahan atau kekurangan.

Fokuskanlah diri pada hal-hal yang mampu kita lakukan, bukan pada kekurangan kita.Fokuskan pada kelebihan kita dan bangunlah kekuatan untuk meraih kesuksesan. Janganlah terlalu merenungi diri, mengasihani atau bahkan mengurung diri dari kenyataan hidup, karena hal itu tidak akan membantu sama sekali

Bertindaklah dan jangan takut berbuat kesalahan, karena dengan bertindak berarti kita sudah mengatasi kelemahan diri kita dan membangkitkan potensi terbaik diri kita. Hal tersebut sangat berguna bagi kita untuk meraih hal-hal terbaik dalam hidup ini. Bersyukurlah atas keadaan kita. Tuhan maha tahu atas diri kita, dan kita sebaliknya tidak dapat mengetahui apa yang direncanakan-Nya.





Sebuah Renungan



“Apalah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari” (Pengkhotbah 1:3)

Kalau kita mencoba untuk merenung sejenak dan melupakan semua kesibukan sehari-hari maka kita akan menyadari bahwa manusia jaman sekarang ini paling lama umurnya 80 tahun. Itupun sudah termasuk panjang umur. Tetapi kita sering lupa akan hal ini sehingga kita mati-matian mengejar uang, harta, jabatan dan mengabaikan hati nurani kita. Kita menginjak dan menghina orang yang tidak seberuntung kita dan kita menjilat serta mencari muka terhadap orang kaya dan berpangkat.

Kita menilai orang dari mobil, rumah, harta, atau jabatannya dan bukan pada pribadi seseorang. Ini yang membuat kita menjadi orang yang egois, serakah, sombong, materialis dan membutakan hati nurani kita sendiri. Masing-masing orang bersaing untuk saling melebihi dan pamer kekayaan, pamer rumah, pamer mobil, dan lain-lain. Padahal itu semua hanya membuat orang yang tidak seberuntung kita menjadi panas hati dan iri hati.

Untuk itu kita harus sadar dan ingat bahwa hidup ini tidak semata-mata mengejar uang, harta, jabatan, tapi yang utama hidup ini harus kita isi dengan perbuatan-perbuatan yang berguna dan bermanfaat baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Itu semua membuat kita merasa puas, bahagia, rendah hati dan  mempunyai empati terhadap orang yang tidak seberuntung kita.

Blog Rankings

Arts Blogs - Blog Rankings