Home » » BAGAIMANA MENGATASI KEKHAWATIRAN

BAGAIMANA MENGATASI KEKHAWATIRAN



Apakah Kekhawatiran Itu?

Sebelum kita membuka Alkitab untuk mengetahui tentang bagaimana mengatasi kekhawatiran, ada beberapa pertanyaan mendasar yang perlu dijawab.

Apakah kekhawatiran itu? Kekhawatiran adalah adanya perasaan gelisah, prihatin, atau takut. Perasaan-perasaan ini biasanya berhubungan dengan pikiran-pikiran negatif terhadap sesuatu yang diduga akan terjadi di masa mendatang. "Bagaimana menghadapi suami yang pulang ke rumah dalam keadaan kalut dan marah? "Bila putri saya masuk ke perguruan tinggi negeri, akan berhasilkah ia?" "Jika kita memutuskan untuk membeli rumah ini, mampukah kita melunasi pembayarannya?" "Akankah kita bertahan hidup bila suatu saat terjadi gempa bumi?"

Orang-orang yang diliputi kekhawatiran, hidup di alam masa depan. Mereka terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan apa yang mungkin terjadi dan mengkhawatirkan hal terburuk yang mungkin terjadi.

Dalam Perjanjian Baru, istilah yang dipakai untuk kata khawatir adalah merimnao, artinya "merasa cemas, kalut, pikiran bercabang". Itulah kata yang dipakai Yesus ketika Dia berkata, "Janganlah khawatir akan hidupmu" (Matius 6:25). Paulus juga menggunakannya ketika ia menulis, "Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga" (Filipi 4:6). Orang-orang yang diliputi kekhawatiran hanyut dalam kekhawatirannya dan merasa kalut. Dalam segala sesuatu yang mereka lakukan, tetap ada satu hal yang bersarang dalam pikiran mereka, yakni kekhawatiran.

Siapa saja yang diliputi kekhawatiran? Semua orang! Tak seorang pun hidup tanpa rasa khawatir. Orang yang menyatakan bahwa ia tak peduli dengan dunia ini adalah orang yang menyangkal keadaan. Setiap orang yang bertanggung jawab secara serius tidak akan menyangkali kekhawatiran yang melingkupinya. Inilah titik pangkal untuk menyelesaikan masalah. Beberapa pemimpin besar dunia juga adalah orang-orang yang sering merasa khawatir: Alexander Agung, George Washington, Winston Churchill.

"orang-orang yang penuh kekhawatiran’ selalu berpikir’bagaimana jika’."

Yang menarik, banyak orang yang berprestasi sering merasa khawatir. Mereka dikuasai kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi.

Apa yang kita khawatirkan? Kadang kala dikatakan bahwa kekhawatiran adalah membawa masa yang akan datang ke masa kini. Kekhawatiran adalah hanyutnya pikiran karena membayangkan akibat menyakitkan yang mungkin terjadi. Biasanya kekhawatiran timbul karena salah satu dari ketiga kategori alasan berikut ini.

1. Ancaman-ancaman. Anda tak perlu tinggal di Los Angeles atau Chicago untuk menyadari adanya ancaman kejahatan. Bila Anda tinggal di daerah yang rawan kejahatan dan baru dapat pulang kerja setelah hari gelap, Anda dapat merasa khawatir akan dirampok. Anda merasa sangat lega setelah tiba di rumah dengan selamat dan mengunci pintu. Salah satu alasan mengapa orang merasa khawatir adalah karena mereka merasa terancam secara fisik.

Ada pula yang merasa terancam oleh apa yang dipikirkan orang lain tentang mereka. Mereka selalu ingin tampak sempurna dan baik. Ketika terjerumus dalam situasi yang asing dan rumit, mereka khawatir kalau tidak dapat mengambil langkah yang benar. Orang-orang semacam ini menghindari risiko karena mereka tidak mau dicela. Yang lainnya lagi merasa khawatir karena terancam ditinggalkan orang lain. Mereka butuh diyakinkan terus-menerus bahwa pasangan atau teman-teman mereka tidak akan meninggalkan mereka.

 2. Pilihan-pilihan. Banyak orang merasa khawatir ketika harus mengambil keputusan. Mereka akan berbuat apa saja agar tidak membuat keputusan yang salah. Ini benar-benar terjadi bahkan ketika mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sama baiknya. Sebagai contoh, John mendapat tawaran dua posisi sebagai pengajar. Yang satu memberi fasilitas yang lebih baik. Namun, yang satunya lagi memberinya kesempatan untuk mengajar mata pelajaran yang lebih ia sukai dan melatih bisbol. Ia khawatir salah mengambil keputusan yang nantinya dapat berakibat buruk.

3. Pengalaman-pengalaman di masa lampau. Penyebab ketiga dari kekhawatiran adalah kejadian di masa lampau. Seorang pemuda selalu bermasalah dengan figur pria yang berkuasa. Hal itu dilatarbelakangi oleh hubungannya dengan sang ayah atau pengalaman buruk yang dialaminya dengan gurunya. Ia merasa khawatir setiap kali harus mendiskusikan sesuatu dengan atasannya. Ia tak tahan membayangkan bahwa ia akan dihina lagi.

"Kekhawatiran memindahkan beban dari pundak Allah yang kuat ke pundak kita yang lemah."

Kekhawatiran adalah hanyutnya pikiran karena membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Itu adalah bentuk ketakutan terhadap kemungkinan dipermalukan, menderita sakit, mengalami kehilangan, atau mendapat kesusahan. Hal ini memperhadapkan kita pada pilihan. Kita dapat memilih untuk menghindar dari sumber kekhawatiran itu, namun hal ini hanya akan menambah stres. Atau, kita dapat memilih untuk menghadapinya, bertindak dengan tepat, dan melupakannya.

Apa yang dikatakan Alkitab tentang kekhawatiran? Alkitab mengajarkan bahwa ada dua macam kekhawatiran:

(1) kekhawatiran yang negatif, membahayakan, dan melumpuhkan,

(2) kekhawatiran karena rasa prihatin yang positif dan berguna. Kata merimnao dalam bahasa Yunani digunakan dalam Perjanjian Baru untuk mengacu pada kedua jenis kekhawatiran itu.

Yang dimaksud dengan kekhawatiran yang negatif dalam Alkitab adalah keresahan dan kegelisahan yang menyusahkan. Yesus menyebutkan kata khawatir enam kali dalam Khotbah di Bukit (Matius 6). Ia meminta para pengikut-Nya untuk tidak khawatir akan pemeliharaan hidup sehari-hari: makanan, pakaian, tempat tinggal, atau bahkan masa depan. Paulus mengatakan kepada kita "Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga" (Filipi 4:6). Petrus juga meminta para pembacanya untuk menyerahkan beban mereka kepada Allah (1Petrus 5:7). Setiap kali menjumpai kata khawatir yang digunakan dalam buku ini maka biasanya pikiran kita akan mengarah pada kekhawatiran yang negatif dan membuat kita tak berdaya.

Namun tidak semua kekhawatiran itu buruk. Alkitab juga membahas tentang kekhawatiran yang positif. Dalam 2Kor 11:28 (versi king James), Paulus berbicara tentang "keprihatinan yang mendalam terhadap semua jemaat". Kata prihatin di sini juga ditulis dengan kata Yunani merimnao, yang terdapat dalam penjelasan sebelumnya. Paulus mengkhawatirkan orang-orang percaya sehingga ia menulis pesan kepada mereka.

Paulus juga menyatakan kepada jemaat di Filipi tentang keinginannya untuk mengirim Timotius kepada mereka karena ia merasa prihatin (merimnao) terhadap kesejahteraan mereka (Filipi 2:20). Ini adalah kekhawatiran positif yang mendorong Paulus dan Timotius untuk menyatakan kasih terhadap sesama. Dalam buku ini kita akan menggunakan kata prihatin untuk jenis kekhawatiran yang positif.

Kapankah kekhawatiran saya terlalu berlebihan? Kita telah beralih dari rasa prihatin yang sehat ke rasa khawatir yang menekan dan meluluhlantakkan manakala kita:

Sulit tidur karena terus-menerus memikirkan apa yang akan terjadi.
Diliputi rasa bersalah ketika sedang beristirahat.
Merasa takut akan sesuatu sepanjang waktu.
Merasa panik pada situasi-situasi tertentu.
Tidak mau mengevaluasi perasaan-perasaan kita.
Menyalahkan orang lain untuk segala sesuatu.
Memiliki rasa takut yang tak jelas akan kemungkinan terjadinya suatu musibah.

Mengapa Kita Khawatir?

Sebuah peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Rasul Petrus akan menolong kita menjawab pertanyaan ini. Ingatkah Anda pada peristiwa badai dahsyat yang mengguncangkan perahu yang dinaiki para murid Yesus? Yesus menyuruh mereka pergi lebih dulu, sementara Dia naik ke gunung untuk berdoa (Matius 14:22,23). Angin yang kencang bertiup di Laut Galilea. Angin itu sangat kuat hingga murid-murid Yesus tidak mampu mengendalikan perahu mereka. Kemudian muncullah Yesus, berjalan di atas air ke arah mereka. Para murid pun menjadi ketakutan.

Setelah Yesus memperkenalkan diri-Nya, Petrus masih merasa ragu. "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air" (ayat 28). Tatkala Yesus berkata, "Datanglah!," dengan iman Petrus berjalan di atas air dan menghampiri-Nya.

Namun, kemudian Petrus melihat sekelilingnya. Dilihatnya bahwa tiupan angin sangat kuat dan ombak sangat besar. Maka ia mulai memikirkan bahaya yang mungkin terjadi pada tempat ia berpijak saat itu. Ia pun mulai mempertanyakan apakah ia dapat terus berjalan di atas air. Karena itu, ia mulai tenggelam. Ia berteriak kepada Yesus yang kemudian mengulurkan tangan-Nya dan menuntun Petrus kembali ke perahu.

Kita tak jauh berbeda dengan Petrus. Apa yang dialaminya menggambarkan alasan kekhawatiran yang kita alami.

1. Kita khawatir karena kita lemah. Sebagai manusia, kita rentan terhadap banyak hal. Penyakit sewaktu-waktu dapat menyerang. Keadaan ekonomi mungkin akan berubah. Mungkin saja mobil kita tiba-tiba rusak atau pesawat yang kita tumpangi mengalami kerusakan mesin. Kita bisa saja tertabrak oleh sopir yang mabuk. Bahkan kita khawatir seseorang akan memotong pembicaraan dan memberi kritik tajam yang menyakitkan.

Kita adalah manusia yang rentan, fana, dan sensitif. Kita lemah secara fisik, emosi, dan rohani. Kita sangat rentan dalam banyak hal. Seperti Petrus, kita hanya manusia biasa yang mudah jatuh. Kita khawatir karena kita lemah.

2. Kita khawatir karena kita sadar akan kelemahan kita. Kerap kali kita merasa cukup aman. Kita dapat membuat pengamanan untuk rumah kita. Kita dapat mengendarai mobil yang bisa diandalkan dan merawatnya dengan baik. Kita dapat memeriksakan kesehatan secara teratur. Kita dapat membeli asuransi yang terpercaya. Kita dapat memelihara hubungan baik dengan orang lain. Kita dapat menjaga diri secara fisik, emosi, dan rohani. Namun kemudian sesuatu terjadi dan itu menyadarkan secara menyakitkan akan kelemahan kita. Kita seperti Petrus yang melihat angin dan menjadi takut. Mungkin mesin mobil kita rusak. Atau, salah satu anak kita sakit. Atau, dada kita terasa sesak. Atau, kita menemukan benjolan aneh di tubuh kita. Atau, kita mendengar gosip adanya PHK di tempat kerja. Apa pun kejadiannya, hal itu memaksa kita melihat kelemahan kita.

3. Kita khawatir karena tidak memercayai Allah. Ketika dihadapkan pada kelemahan diri, kita punya dua pilihan. Pertama, kita dapat menyerahkan keselamatan kita kepada Allah dan memercayakan segala ketakutan kita kepada-Nya. Kedua, kita dapat mengandalkan kekuatan sendiri dalam bertindak. Itulah yang dilakukan Petrus. Ketika dihadapkan pada kelemahannya, ia tak lagi memercayai Yesus. Namun kemudian ia sadar bahwa ia tak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Perkataan Yesus kepada Petrus menyentakkannya, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (ayat 31). Ya, karena Petrus tidak lagi memercayai Yesus. Ketika kita merasa tak lagi dapat memercayakan hidup kita, perasaan kita, atau masa depan kita kepada Yesus, kita akan merasa khawatir. Dan itu adalah dosa karena kita mengambil alih tanggung jawab akan diri kita yang seharusnya menjadi wewenang Tuhan. Dengan keras kepala kita menolak untuk menyerahkan diri ke dalam tangan-Nya yang kuat. Pantas saja bila kita merasa khawatir!

Bagaimana Mengatasi Kekhawatiran?

Dulu Linda adalah seorang yang mudah khawatir. Ia sendiri mengakui hal itu. Ia khawatir akan pekerjaan suaminya, anjing tetangganya, makan siang anak-anaknya, mobilnya yang sudah berderak-derik, asuransi keluarganya, pelayanannya di gereja, dan bahkan daging panggang yang ia siapkan untuk makan malam.

Linda sangat khawatir terutama tentang keamanan rumah mereka pada waktu malam. Ia menghendaki agar setiap pintu dan jendela memiliki kunci ganda. Setiap malam sebelum tidur, Linda mengitari rumahnya beberapa kali untuk memastikan bahwa semua pintu dan jendela sudah terkunci dengan aman. Ia sadar bahwa kekhawatirannya terlalu berlebihan.

Sekarang Linda tak lagi terikat oleh segala kekhawatirannya. Ia mengalami pelepasan itu setelah melakukan beberapa langkah. Pertama, ia melihat banyak hal dari sudut pandang yang berbeda. Ia melihat kelemahannya sebagai peluang untuk bertumbuh, baik secara emosi maupun rohani. Untuk itu ia melakukannya dengan dua cara. Ia belajar dari Alkitab tentang bagaimana mengatasi kekhawatiran. Dan, ia juga mengambil beberapa langkah praktis untuk membebaskan diri. Ya, ia masih tetap mengunci rumah — karena memang seharusnya demikian. Namun ia tak lagi dilumpuhkan oleh perasaan tak berdaya.

Kita pun dapat menentukan pilihan sehingga kekhawatiran itu justru membuat kita bertumbuh. Untuk mengubah kekhawatiran menjadi suatu peluang, kita dapat mengambil empat langkah berikut ini:

1. Pusatkan Perhatian Kita Kepada Allah.
2. Percaya dengan Iman.
3. Berbicara Kepada Pribadi yang Memedulikan Kita.
4. Menyerahkan Beban Kepada Tuhan.


PUSATKAN PERHATIAN KITA KEPADA ALLAH

Orang-orang yang selalu khawatir memusatkan pikiran mereka pada akibat dari peristiwa-peristiwa yang belum terjadi. Mereka merasa begitu lemah dan percaya bahwa kemungkinan yang terburuk akan terjadi. Mereka merasa bertanggung jawab atas segala hal yang ada di luar kemampuan mereka. Namun, jika mereka berpaling kepada Allah, mereka akan menemukan jawaban atas kelemahan mereka dalam karakter-Nya. Karakter-karakter Allah dapat kita lihat lewat Firman-Nya.

Allah berkuasa atas segalanya. Alkitab mengajarkan bahwa tak satu pun kejadian di dunia ini terlepas dari pengawasan dan kuasa Allah. "Tuhan sudah menegakkan takhta-Nya di surga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu" (Mazmur 103:19). Dia adalah Tuhan yang Mahakuasa (Mazmur 66:7). Dialah Raja di atas segalanya.

Orang-orang yang selalu khawatir merasakan bahwa segala sesuatu berada di luar kendali mereka — bahwa sesuatu yang terburuk akan terjadi dan mereka tak mampu mencegahnya. Banyaknya pertanyaan yang ditimbulkan oleh perasaan-perasaan itu akan mendatangkan kegelisahan. Karena itu, orang-orang yang selalu khawatir perlu mengingat tiga kebenaran penting tentang Allah berikut ini.

1. Allah ada di mana-mana (Mazmur 139:7; Yeremia 23:23,24). Di mana pun kita berada, di situ pula Allah berada. Tak ada tempat, yang tidak ada Allah, bahkan di tempat kita merasa sendirian. Dia ada di mana-mana!

2. Allah mengetahui segalanya (Ayub 7:20; Mazmur 33:13). Dia mengetahui betapa takutnya kita, betapa tidak enaknya perasaan kita, dan juga apa yang membuat kita takut. Semakin kita merasa khawatir, semakin kita berbuat seolah-olah Allah tidak peduli dengan situasi yang kita alami. Kita tidak tahu masa depan kita, tetapi Allah tahu. Dia mengetahui akhir dari segalanya. Dia mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita.

3. Allah berkuasa atas segalanya (Kejadian 17:1; 18:14; Matius 19:26). Orang-orang yang selalu khawatir merasa bahwa tak seorang pun berkuasa mencegah hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Bahkan Allah sendiri, pikir mereka, tak mampu mencegah putri mereka dari kehamilan di luar nikah atau mengeluarkan putra mereka dari penjara. Bagaimanapun juga, kuasa Allah tak terbatas. Jawaban dari pertanyaan, "Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk Tuhan?" (Kejadian 18:14) adalah tidak!

William Backus, dalam bukunya yang berjudul The Good News About Worry (Kabar Baik Tentang Kekhawatiran), menulis tentang kakak iparnya, seorang atlet yang sedang dirawat di rumah sakit karena harus menjalani angio-plasty (bedah plastik pada pembuluh darah). Proses pengobatan berjalan sukses, tetapi ia tetap dalam masa krisis hingga 24 jam mendatang. Karena itu ia merasa khawatir! Sambil berbaring, ia berkata, "Saya seorang atlet, saya selalu memaksa tubuh saya melakukan apa pun yang saya inginkan dan tubuh saya pun melakukannya. Namun, tatkala saya memerintahkan diri saya untuk menghentikan kegelisahan yang menekan diri ini, saya tak mampu." Semakin sering ia memerintahkan dirinya untuk tidak gelisah, perasaan itu justru semakin menjadi-jadi.

Tiba-tiba ia merasa seolah-olah Allah berbicara kepadanya, "Siapakah yang berkuasa di sini?" "Engkau," jawabnya dengan rendah hati. Dan ketika kebenaran dan komitmen itu masuk ke dalam benaknya, hatinya pun dipenuhi dengan kedamaian.

Allah mampu memikul beban kita. Beban hidup kita yang sedemikian berat dapat dipindahkan ke pundak Allah. Perhatian-Nya terhadap kesehatan kita, anak kita, keselamatan orang-orang yang kita kasihi, dan perdamaian dunia, lebih besar daripada perhatian kita terhadap hal-hal tersebut. Allah menolong Daud untuk mengalahkan beruang, singa, dan bangsa Filistin. Dia melindungi Daud dari Saul yang marah dan ingin membunuhnya. Dia membawa Daud ke negara musuh supaya aman dari kejaran Saul. Mungkin itulah sebabnya Daud dapat menulis, "Serahkanlah khawatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah" (Mazmur 55:23).

Namun bagaimana kita dapat membawa beban kita kepada Allah? Bagaimana kita dapat meletakkan semua beban itu ke pundak Allah dan meninggalkannya di sana? Dengan bertindak berdasarkan apa yang kita ketahui: kita tahu bahwa Dia berkuasa atas segalanya, Allah yang dapat dipercaya. Dengan merasa khawatir, berarti kita tidak mau memercayaiNya. Kita mencoba menempati posisi-Nya dan seolah mengatakan bahwa kita dapat berbuat lebih baik daripada Dia. Yang perlu kita lakukan adalah menyerahkan kekhawatiran kita kepada Allah.

Saya berjalan menyusuri pantai yang penuh dengan batu bertebaran. Saya melihat seorang anak kecil yang sedang berusaha mengangkat sekarung batu yang telah ia kumpulkan. Ia tak dapat menyusul keluarganya yang berjalan di depan. Sekali dua kali ia terjatuh. Ia tak kuat mengangkat beban seberat itu. Kemudian sang kakak melihatnya. Ia kembali untuk menjemput sang adik dan sekarung batu itu, lalu mengangkat keduanya. Inilah yang ingin Allah lakukan bila kita bersandar kepada-Nya. "Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan," kata sang pemazmur, "dan percayalah kepada-Nya" (Mazmur 37:5).

Allah dapat menyingkirkan ketakutan kita. Kekhawatiran adalah ungkapan ketakutan kita akan masa depan. Kita takut akan akibat-akibat yang mungkin terjadi di depan kita: Pertanyaan-pertanyaan apa yang akan muncul dalam ujian? Apa yang akan terjadi pada saya di dokter gigi nanti? Mungkinkah kota kita tertimpa bencana yang mengerikan?

Kekhawatiran bermula di Taman Eden setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Mereka bersembunyi dari Allah karena takut akan akibat dari tindakannya memakan buah terlarang (Kejadian 3:10). "Aku menjadi takut," ujar Adam.

Dengan mengetahui bahwa Allah itu baik adanya — sehingga tak satu pun yang jahat berasal dari pada-Nya — maka ketakutan kita akan hilang. Bila kita mampu berkata sama seperti Daud, "TUHAN itu baik dan benar" (Mazmur 25:8), maka kita pun memperoleh jaminan yang pasti. Ketika kita merasa khawatir akan masa depan, kita dapat meneladani sang pemazmur yang mampu mengecap dan melihat, betapa baiknya TUHAN itu (Mazmur 34:9).

Tindakan menerima kasih Allah juga menolong untuk mengusir ketakutan kita. Jika kita takut akan sesuatu, Alkitab memberi tahu kita bahwa seyogyanya rasa takut itu adalah akan Allah (Ulangan 10:12,20; 13:14). Takut akan Dia berarti mengasihi-Nya, menerimaNya, dan merasa aman dalam kasih-Nya yang luar biasa kepada kita. Takut akan sang Pencipta adalah jauh lebih baik daripada takut akan ciptaan-Nya. Takut akan Dia yang begitu mengasihi Anda sehingga rela mengurbankan Anak-Nya adalah lebih baik daripada takut karena segala kekhawatiran akan masa depan yang belum nyata, belum terlihat, dan belum benar-benar menimpa diri kita.

Daud mengenal kebaikan dan kasih Allah melalui pengalaman hidupnya. Oleh karenanya ia dapat mengatakan kepada kita bahwa ketika berada dalam lembah kekelaman, ia tidak takut bahaya (Mazmur 23:4). Dalam Mazmur 31 ia menuliskan tentang pengalaman-pengalaman hidupnya yang menyedihkan, yakni ditinggalkan oleh teman-temannya (ayat 11,12) dan diserang oleh musuh-musuhnya (ayat 13,14). Namun ia dapat berkata, "Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya Tuhan," (ayat 15), dan "Masa hidupku ada dalam tanganMu," (ayat 16).

Manakala kita merasa resah, kita dapat berbuat sesuatu. Dari waktu ke waktu Alkitab mengajarkan kepada kita untuk tidak takut. Tanggung jawab kita setelah menerima kebaikan dan kasih dari Allah adalah mengambil keputusan yang sama seperti Daud. Kita harus dapat berkata, "Sebab itu kita tidak akan takut" (Mazmur 46:3).

Allah akan memelihara kita. Ketika Daud berbicara tentang peperangan, kelaparan, dan orang-orang fasik, ia berkata bahwa orang-orang yang percaya kepada Allah "akan menjadi kenyang" (Mazmur 37:19). Inti maksudnya adalah bahwa mereka tidak akan gentar; tidak akan goyah. Di tengah keprihatinan hidup ini, kita tidak perlu gemetar karena rasa takut. Mengapa? Karena Allah akan memelihara kita dengan kuasa-Nya.

Tatkala kita merasa lemah, kekhawatiran mengacaukan pikiran kita. Kita tak ubahnya seperti seorang ayah yang memiliki putra berusia 3 tahun yang sedang berjuang melawan suatu infeksi berbahaya di rumah sakit. Sementara ia pergi bekerja, sang istri berada di sisi tempat tidur anaknya. Meski disibukkan dengan pekerjaan, sebagian pikirannya selalu melayang ke tempat putranya dirawat. Setiap ibu yang pernah melepas putranya ke medan perang pasti dapat memahami perasaan semacam ini. Begitu juga dengan seorang ayah ketika putrinya pergi berkencan untuk pertama kali atau ketika putra remajanya terlambat pulang dengan mobilnya.

Allah akan memelihara saat kita merasa resah. Daud menuliskan, "Serahkanlah khawatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau!" (Mazmur 55:23). Allah kita yang teguh akan menjaga kita agar tidak terguncang oleh kekhawatiran dan beban hidup.

Allah akan senantiasa beserta kita. Kekhawatiran adalah beban perseorangan. Kita cenderung menanggungnya seorang diri. Semakin kita merasa khawatir, semakin kita merasa sendiri dan tak berdaya. Namun, sebagai anak-anak Allah kita tak akan pernah sendiri. Kita tak akan pernah ditinggalkan. Dalam Mazmur 139 Daud meyakinkan kita tentang kehadiran Allah. Ia mengatakan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang dirinya, bahkan sebelum ia dilahirkan (ayat 13-16), dan bahwa ia tak pernah dapat menjauhi Roh Allah (ayat 7-12). Baik pada pagi hari maupun malam hari, di darat maupun di laut, di surga maupun di neraka, Allah hadir menyertai kita.

Ya, Daud tahu benar akan pemeliharaan Allah yang selalu menyertainya. Ia menuliskan, "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku" (Mazmur 27:10). Sebagai anak, siapakah di antara kita yang tidak takut ditinggalkan orangtua? Kadang-kadang kita merasa ngeri membayangkan hal itu. Namun pada saat itu kita dapat mengingat janji Allah, yakni bahwa Dia akan senantiasa menyertai kita.

Yesaya pun menyadari pemeliharaan Allah yang menyertainya. Melalui dirinya, Tuhan bersabda, "Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu" (Yesaya 41:10).

Yosua juga menyadari hal yang sama. Allah berkata kepadanya, "Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau" (Yosua 1:5).

Demikian pula dengan Musa. "Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut pada murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan" (Ibrani 11:27).

Murid-murid Yesus juga menyadari hal ini. Sebelum tcrangkat ke surga, Yesus berkata kepada mereka, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zamari" (Matius 28:20). Begitu pula halnya dengan kita. Janji yang Yesus berikan kepada para murid-Nya itu juga ditujukan bagi kita.

Bila di hari-hari mendatang Anda merasa khawatir, berpalinglah kepada Allah dan ingatlah bahwa

(1) Dia berkuasa atas segalanya,

(2) Dia mampu menanggung beban Anda,

(3) Dia dapat menyingkirkan ketakutan Anda,

(4) Dia akan memelihara kita, dan

(5) Dia tak akan pernah meninggalkan Anda.

PERCAYA DENGAN IMAN

Dalam Perjanjian Baru, Yesus juga berbicara tentang kekhawatiran saat menyampaikan Khotbah di Bukit (Matius 6:25-34). Dalam kesempatan tersebut Dia memberitahukan penangkal kekhawatiran. Dia berbicara kepada orang-orang beriman (seperti kebanyakan dari kita) yang mencari sang Mesias, namun belum siap menghadapi kedatangan-Nya. Yesus menyebut kata khawatir 6 kali dalam 10 ayat ini. Apa yang dikatakan-Nya menasihati kita supaya dapat bertahan dalam masyarakat yang maju pesat, penuh tekanan, dan materialistis ini.

Inti dari khotbah Yesus itu demikian, "Engkau merasa khawatir karena engkau tidak hidup bersungguh-sungguh dalam iman. Engkau terlalu khawatir akan makanan, pakaian, dan hal-hal lainnya. Carilah dahulu Aku dan kerajaan-Ku, maka engkau akan terpelihara."

Ingat, Tuhan telah menasihatkan para pengikut-Nya supaya mereka mengumpulkan harta di surga, bukan di bumi (Matius 6:19-24). Dalam hati, banyak orang menolak pernyataan itu, "Yang jelas, jika saya hidup seperti yang dikatakan-Nya — selalu memikirkan surga — saya pasti mati kelaparan. Bukankah manusia tetap harus makan?" Itulah sebabnya Yesus memulai ajaran-Nya dengan perintah, "Janganlah khawatir" (ayat 25).

Penyebab Kekhawatiran (Matius 6:25-32). Jika para pengikut-Nya masih mengkhawatirkan hal-hal di dunia ini, mereka tak akan bebas mengumpulkan harta di surga. Yesus mengatakan bahwa kita tidak perlu mengkhawatirkan kebutuhan hidup. Jika burung dan bunga bakung di ladang dipelihara Allah, tentu Dia juga akan memelihara anak-anak-Nya.

Kita bertanggung jawab untuk bekerja dan mencukupi kebutuhan-kebutuhan pribadi serta keluarga kita. Rasul Paulus berkata, "Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan" (2Tesalonika 3:10). Yesus tidak mengajar kita untuk menjadi penerima yang pasif. Yang Dia maksudkan adalah bahwa tidak seharusnya kita merasa gelisah, khawatir, atau resah akan kebutuhan-kebutuhan kita.

Sayangnya, kebanyakan dari kita mengkhawatirkan hal-hal yang bukan merupakan kebutuhan utama kita. Kita ingin dilihat orang saat makan di restoran bergengsi, kita ingin memiliki mobil yang lebih bagus dari milik tetangga, membangun rumah yang lebih besar, berpakaian dengan model terbaru, dan masih banyak lagi hal lain yang dipandang penting oleh masyarakat. Kita sudah sangat terbiasa dengan materialisme sehingga kita mengkhawatirkan hal-hal yang akan terjadi jika kita tidak memiliki benda-benda itu.

Yesus berkata bahwa kekhawatiran kita tak ada gunanya. Tuhan tahu bahwa segala kebutuhan kita memang penting, tapi tidak perlu dikhawatirkan. Burung-burung juga harus makan, tetapi mereka tidak memikirkan hal itu. Bunga-bunga pun "berpakaian indah," tetapi mereka tidak perlu dirawat sedemikian rupa seperti sebuah bisul. Mengapa? Karena Bapa di surga memelihara.

Di balik kekhawatiran (ayat 30). Penyebab mendasar dari kekhawatiran terdapat dalam kata-kata Yesus, "Kamu, hai orang yang kurang percaya." Kita berbeban berat karena kita tidak memercayai Allah. Kita meragukan kemampuan-Nya untuk mengatur dunia ini. Kita tidak memercayai Dia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, meskipun Dia berjanji untuk melakukannya. Kita mengalihkan pandangan mata kita dari surga ke bumi. Kita malah memercayai diri sendiri, bukannya Allah. Kita menaruh kembali tanggung jawab akan masa depan ke pundak kita sendiri. Kita merasa tak lagi dapat memercayakan hal-hal seperti itu kepada Allah.

Penangkal kekhawatiran yang Yesus berikan (ayat 33,34). Yesus berkata bahwa kekhawatiran berakar dari masalah prioritas. Kita biasanya lebih khawatir akan makanan, pakaian, persaingan, dan pengaturan masa depan, daripada memusatkan perhatian pada perkara yang terpenting, "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya," Dia berkata, "maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Matius 6:33). Bertekunlah dalam iman, utamakan Allah dalam hidupmu dan engkau akan mengumpulkan harta di surga.

Bila kita mendengarkan perkataan Yesus, kita akan menyadari bahwa menghilangkan kekhawatiran hanya masalah pilihan. Tatkala kita memilih untuk memercayai Allah dan bukan diri sendiri, maka kekhawatiran kita akan hilang. Jadi, jawabannya sudah ada pada kita.

"Kekhawatiran adalah ketidakpercayaan yang terselubung. Ini menunjukkan fakta bahwa kita tidak memercayai Allah."

Apakah Anda merasa begitu khawatir akan makanan? Apakah yang akan Anda pakai? Apakah rumah Anda cukup besar? Apakah masa pensiun Anda terjamin? Banyak orang kristiani telah belajar dari pengalaman pahit kehidupan bahwa hal-hal di atas tidaklah sepenting yang kita pikirkan, dan bahwa Allah benar-benar memenuhi janji pemeliharaan-Nya. Mereka tahu sekarang bahwa memelihara iman adalah yang terpenting, karena dalam masalah-masalah hidup yang sulit, imanlah yang paling mereka butuhkan.


BERBICARA KEPADA PRIBADI YANG MEMEDULIKAN KITA

Dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi, kita akan menemukan jalan keluar lain untuk mengatasi kekhawatiran. Kita tidak perlu menyerah pada kelemahan kita, sebaliknya kita dapat mengambil langkah positif yang menolong kita untuk tidak khawatir lagi.

Paulus memberi perintah khusus kepada jemaat Filipi: "Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga" (Filipi 4:6). Perintah yang sama diberikan Yesus di lereng Bukit Galilea (Matius 6:25). Yesus menjelaskan kekhawatiran yang sia-sia, sedangkan Paulus berkata kepada jemaat Filipi bahwa lebih baik berdoa daripada merasa khawatir.

Janganlah hendaknya kamu khawatir akan apa pun juga, tetapi
nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan
permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang
melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam
Kristus Yesus (Filipi 4:6,7).

Dalam Filipi 4:6 Paulus memakai tiga kata yang menjelaskan apa yang harus kita lakukan agar tak tenggelam dalam kekhawatiran.

1. Doa. Kata doa yang dipakai Paulus ini paling sering digunakan sebagai pengganti ungkapan berbicara kepada Allah. Kata ini mengacu pada doa secara umum dan aspek penyembahan dalam doa. Tatkala berdoa, kita mengakui kebesaran Allah dan menaikkan sembah, puji, dan hormat kepada-Nya. Dengan mengenal Allah sebagai Tuhan yang berkuasa, maka dengan mantap kita dapat menyerahkan kekhawatiran kita kepada-Nya.

2. Permohonan. Kata kedua yang dipakai Paulus saat menguraikan jalan keluar dari kekhawatiran adalah permohonan. Kata ini mengacu pada pengungkapan segala kebutuhan kita kepada Allah. Di dalamnya terdapat permintaan yang sungguh-sungguh, juga tangisan memohon pertolongan. Permohonan ini dapat dinaikkan baik untuk kepentingan kita sendiri atau untuk orang lain. Bila Anda merasa khawatir, serahkanlah kekhawatiran itu kepada Allah. Mintalah pertolongan-Nya. Naikkanlah permohonan Anda dengan sungguh-sungguh kepada-Nya. Allah yang menyuruh kita meminta, mencari, dan mengetuk akan memberi, menolong kita untuk mendapatkan, dan menjawab segala permohonan kita (Matius 7:7,8).

3. Ucapan Syukur. Kata ketiga yang menjelaskan tentang doa-doa yang menghapus kekhawatiran adalah ucapan syukur. Kadang kala kita terlalu prihatin dengan masalah-masalah kita sehingga melupakan hal-hal indah yang telah Allah kerjakan bagi kita di masa lalu. Kita lupa bahwa Dia telah memperlakukan kita seturut kasih karunia dan belas kasihan-Nya, bahkan telah memenuhi segala kebutuhan kita. Dengan mengingat kembali bagaimana Allah telah memelihara kita di masa lalu, maka kita akan menemukan ketenangan.

Ketika berdoa, kita memindahkan beban dari pundak kita ke pundak Allah yang Mahakuasa. Begitu kita memercayakan beban-beban kita kepada-Nya, kita dapat bersyukur karena Dia adalah Allah yang mengasihi kita, yang sangat memedulikan masalah-masalah kita, dan berkuasa menjawab doa kita.

Serahkanlah segala kelemahan Anda kepada Pribadi yang berkuasa mengubahnya. Bila Anda terbangun di malam hari, lalu mengkhawatirkan saudara, pekerjaan, atau anak Anda, berdoalah. Latihlah pikiran Anda untuk berhenti khawatir dan mengalihkan seluruh energi dari kekhawatiran yang merusak kepada doa yang membangun. Mintalah agar Allah menolong, campur tangan, memberi keyakinan, memberi jalan keluar, dan mengerjakan perubahan yang ajaib, karena hanya Dia yang mampu melakukannya.

Bila Anda takut akan masa depan, berdoalah. Ungkapkanlah kepada Tuhan. Serahkanlah perasaan itu kepada-Nya. Bila sewaktu menunggu lampu lalu lintas Anda khawatir akan berbagai tagihan, berdoalah. Minta Allah mencukupkan Anda, lalu lanjutkan kegiatan Anda. Allah mendengar doa Anda.

Dalam sebuah artikel di majalah Focal Point yang diterbitkan Denver Seminary, Paul Borden memberi saran praktis kepada orang-orang yang selalu khawatir. Ia menyarankan agar mereka membuat sebuah daftar kekhawatiran. Bila Anda mengkhawatirkan sesuatu, tuliskan dalam daftar itu. Mungkin Anda mengkhawatirkan kesehatan ibu Anda yang sudah tua, lemari es yang perlu diganti, atau keinginan pindah gereja. Tuliskan semua kekhawatiran itu. Melihat berbagai kekhawatiran itu di atas kertas akan sangat menolong.

Selanjutnya, ubahlah daftar kekhawatiran itu menjadi daftar doa. Doakan hal-hal yang membuat Anda khawatir. Doakan satu per satu. Anda akan melihat bagaimana doa itu menolong Anda sehingga segala kekhawatiran itu tak lagi melemahkan dan menguasai Anda. Lalu, Borden meminta agar daftar doa itu diubah lagi menjadi daftar tindakan. Dengan pengetahuan dan keyakinan dari Allah, lakukan sesuatu terhadap masalah-masalah itu. Meski hanya sedikit yang dapat Anda lakukan, Anda akan segera mendapati bahwa kekhawatiran yang melumpuhkan itu akan menjadi keprihatinan yang sehat dan terkendali akan tanggung jawab kehidupan.

Apakah Anda khawatir? Berdoalah. Jika Anda sudah melakukannya, berdoalah lagi. Gunakan segenap energi, yang dulu dicurahkan untuk khawatir, untuk berdoa.



MENYERAHKAN BEBAN KEPADA TUHAN

Petrus menawarkan jalan keluar untuk mengatasi kekhawatiran ketika menulis surat kepada orang-orang kristiani yang mengalami siksaan hebat: "Rendahkanlah dirimu di bawah tangan TUHAN yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu" (1Petrus 5:6,7).

Ada dua langkah dalam proses ini.

1. Menerima Apa yang Tak Dapat Kita Ubah. Daripada mengomel dan marah, atau menghindari realita dengan menyangkal kekhawatiran kita, lebih baik kita dengan rendah hati menerima keadaan sebagai bagian hidup kita. Kita harus rendah hati menerima apa yang kita terima dari tangan Allah yang kuat.

2. Menyerahkan Beban Kepada Allah. Kita dapat menaruh kekhawatiran yang melemahkan dan menyerahkan seluruh beban kita di tangan Allah yang Mahakuasa. Kita dapat memercayakan masa depan kepada Dia yang mengasihi kita dan rela memberikan AnakNya untuk mati bagi kita. Namun itu kontras dengan filosofi masa kini: "Anda tak memerlukan orang lain selain diri sendiri," atau, "Anda harus menjaga diri sendiri, karena orang lain tak akan melakukannya bagi Anda."

Apakah Anda menanggung beban kekhawatiran yang begitu berat? Apakah berbagai kekhawatiran itu membuat Anda malu atau gengsi untuk mengungkapkannya? Serahkan semuanya kepada Allah. Anda sudah menanggungnya terlalu lama!

Studi Kasus Alkitabiah

Dokter Lukas mengajak kita untuk memerhatikan bagaimana Yesus menolong seseorang yang diliputi kekhawatiran saat berkunjung ke rumah Maria, Marta, dan Lazarus (Lukas 10:38-42). Ketika sedang dalam perjalanan, Dia dan murid-murid-Nya memenuhi undangan Marta untuk berkunjung ke rumahnya. Saya membayangkan kejadian selanjutnya seperti ini.

Mengurus kebutuhan banyak orang memang bukan tugas yang mudah. Sementara Marta sibuk mempersiapkan segala sesuatunya di dapur (memotong sayur-mayur untuk salad, mempersiapkan piring-piring, makanan utama, dan makanan penutup), Maria duduk dengan santai di dekat kaki Yesus.

Segala sesuatu terasa begitu mengesalkan bagi Marta. Ia ingin segalanya berjalan sempurna untuk Tuhannya. Ia merasa frustrasi dan tak berdaya. "Panik oleh kesibukannya," ia memandang sekilas ke ruang tamu, berharap agar Maria datang dan menolongnya. Namun karena terpesona dengan kata-kata Yesus, Maria tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak dari tempat duduknya.
Akhirnya, Marta tak mampu menahan diri lebih lama lagi. Ia pun berjalan ke ruang tamu, "Tuhan," ujarnya dengan nada menuntut dan menantang, "tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?" Kemudian ia memerintah Tuhan, "Suruhlah dia membantu aku" (ayat 40).

Mungkin Anda sama seperti Marta — atau Anda hidup bersama seseorang seperti Marta. Kesabaran Yesus, yakni pengertian-Nya dalam menanggapi respons Marta adalah contoh yang baik bagi Anda. Perhatikan apa yang Dia lakukan.
Pertama, Dia membuat Marta menyadari kekhawatirannya. "Marta, Marta," jawab Tuhan, "engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara" (ayat 41). Saya percaya nada suara-Nya begitu lembut tatkala Dia memanggil ulang nama Marta. Dia menunjukkan masalahnya kepada Marta. Dia memberi tahu Marta bahwa masalahnya itu harus diatasi. Tak ada salahnya menjadi nyonya rumah yang baik. Juga tak ada salahnya menginginkan segalanya berjalan sempurna. Yesus tidak menghakimi Marta. Dia mengarahkan perhatian Marta pada apa yang dikhawatirkannya.

Kedua, Yesus menunjukkan kepada Marta bahwa kekhawatiran sebenarnya merupakan suatu pilihan. Dan, Marta telah memilih untuk membiarkan dirinya gelisah dengan melakukan banyak kesibukan. Pilihan tersebut menyebabkan Marta terdorong untuk mengkritik saudara perempuannya, menyatakan secara tak langsung bahwa Yesus tidak peka, dan berani memerintah-Nya. Tanpa menyalahkan Marta, Yesus menunjukkan bahwa Maria pun sudah menentukan pilihannya (ayat 42).
Ketiga, Yesus mengatakan kepada Marta bahwa ada dua macam pilihan, yakni yang fana dan sementara, dan yang surgawi dan kekal. "Maria telah memilih bagian yang terbaik," Dia berkata kepada Marta, "yang tidak akan diambil dari padanya" (ayat 42). Hidangan yang tersaji dapat dengan mudah dilupakan, tetapi kata-kata Yesus akan tinggal dalam hati Maria, dan berbuah hingga kekekalan.

Bagaimana seandainya Marta datang dan bergabung dengan Maria? Acara makan mereka akan gagal, bukan? Tidak! Mereka semua justru akan bersatu menolong Marta. Atau, Yesus dapat saja memunculkan 7 jenis makanan saat itu juga.
Saya percaya Marta mendapat pelajaran yang berharga dari Yesus. Yesus kembali berkunjung ke rumah mereka untuk mengikuti perjamuan makan malam kurang lebih setahun kemudian. Keluarga Marta mengadakan perjamuan itu untuk memberi penghormatan kepada Yesus dan merayakan kebangkitan Lazarus (Yohanes 12:1-11). Di sana dituliskan, "Marta melayani" (ayat 2). Marta tetap sibuk menyajikan makan malam, tetapi kali ini ia tidak kewalahan dengan tanggung jawabnya itu. Saya yakin ia sudah belajar mengontrol kecenderungannya untuk merasa khawatir.

Sumber dari :Originally published in English under the title What Does It Take to Follow Christ? By: Herb Vander Lugt dan Kurt De Haan


By : Arsy Imanuel

10 komentar:

  1. saya adalah salah satu orang yang sangat KHAWATIR akan masa depan, apalagi saya telah selesai kuliah dan sudah hampir 8 bulan menganggur sampai saat ini,saya selalu mengatakan kepada diri saya bahwa saya meletakkan semua beban kekhawatiran tersebut kepada Tuhan Yesus tetapi saya tetap merasa khawatir. sampai akhirnya saya putus asa dan mencari cara bagaimana meletakkan beban kekhawatiran kepada Tuhan Yesus. terimakasih karena pada dini hari saya membaca blog anda ,saya mengetahui bagaimana cara meletakkan beban tersebut dan saya lega.

    Y.Grace Sitompul

    ReplyDelete
    Replies
    1. dear grace
      mohon maaf sebelumnya saya baru dapat membalas komen anda, terpujilah Tuhan Yesus yang berkatKasihNya yang begitu besar memberi kekuatan kepada kita untuk senantiasa mengikuti kehendakNya. Grace, apa yang anda alami sayapun pernah mengalaminya namun percayalah Dia pasti mengubahkan kehidupan anda...tetap setia dan yakinlah akan kasihNya....GBU

      Delete
    2. Terima kasih. Artikel yg ditulis setahun lalu ini sungguh menyegarkan saya yg punya kecemasan berlebih terhadap masa depan (cinta dan karir) saya. :")

      Delete
  2. trimakasih atas artikelnya yg sangat menguatkan diri saya

    ReplyDelete
  3. Sometimes it is not easy to overcome difficulties, the article gives a good piece of advice regarding this for creating religious studies

    ReplyDelete
  4. Allah akan menolong setiap umatnya yang berdosa? bagaimana jika ttap merasa khawatir? apakah itu dosa?

    ReplyDelete
  5. Sangat terberkati.. Disaat sedang galau menemUkan artikel ini. Jadi membuat hati dan pikiran saya terbuka untuk lebih berserah diri kepada Tuhan. Gbu admin

    ReplyDelete

Blog Rankings

Arts Blogs - Blog Rankings