Apakah
Kekhawatiran Itu?
Sebelum
kita membuka Alkitab untuk mengetahui tentang bagaimana mengatasi kekhawatiran,
ada beberapa pertanyaan mendasar yang perlu dijawab.
Apakah
kekhawatiran itu? Kekhawatiran adalah
adanya perasaan gelisah, prihatin, atau takut. Perasaan-perasaan ini biasanya
berhubungan dengan pikiran-pikiran negatif terhadap sesuatu yang diduga akan
terjadi di masa mendatang. "Bagaimana menghadapi suami yang pulang ke
rumah dalam keadaan kalut dan marah? "Bila putri saya masuk ke perguruan
tinggi negeri, akan berhasilkah ia?" "Jika kita memutuskan untuk
membeli rumah ini, mampukah kita melunasi pembayarannya?" "Akankah
kita bertahan hidup bila suatu saat terjadi gempa bumi?"
Orang-orang
yang diliputi kekhawatiran, hidup di alam masa depan. Mereka terlalu banyak
menghabiskan waktu untuk memikirkan apa yang mungkin terjadi dan
mengkhawatirkan hal terburuk yang mungkin terjadi.
Dalam
Perjanjian Baru, istilah yang dipakai untuk kata khawatir adalah merimnao,
artinya "merasa cemas, kalut, pikiran bercabang". Itulah kata yang
dipakai Yesus ketika Dia berkata, "Janganlah khawatir akan hidupmu" (Matius
6:25). Paulus juga menggunakannya ketika ia menulis, "Janganlah
hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga" (Filipi 4:6).
Orang-orang yang diliputi kekhawatiran hanyut dalam kekhawatirannya dan merasa
kalut. Dalam segala sesuatu yang mereka lakukan, tetap ada satu hal yang
bersarang dalam pikiran mereka, yakni kekhawatiran.
Siapa
saja yang diliputi kekhawatiran? Semua
orang! Tak seorang pun hidup tanpa rasa khawatir. Orang yang menyatakan bahwa
ia tak peduli dengan dunia ini adalah orang yang menyangkal keadaan. Setiap
orang yang bertanggung jawab secara serius tidak akan menyangkali kekhawatiran
yang melingkupinya. Inilah titik pangkal untuk menyelesaikan masalah. Beberapa
pemimpin besar dunia juga adalah orang-orang yang sering merasa khawatir:
Alexander Agung, George Washington, Winston Churchill.
"orang-orang
yang penuh kekhawatiran’ selalu berpikir’bagaimana jika’."
Yang
menarik, banyak orang yang berprestasi sering merasa khawatir. Mereka dikuasai
kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi.
Apa yang
kita khawatirkan? Kadang kala dikatakan bahwa kekhawatiran adalah membawa masa
yang akan datang ke masa kini. Kekhawatiran adalah hanyutnya pikiran karena
membayangkan akibat menyakitkan yang mungkin terjadi. Biasanya kekhawatiran
timbul karena salah satu dari ketiga kategori alasan berikut ini.
1.
Ancaman-ancaman. Anda tak perlu tinggal di
Los Angeles atau Chicago untuk menyadari adanya ancaman kejahatan. Bila Anda
tinggal di daerah yang rawan kejahatan dan baru dapat pulang kerja setelah hari
gelap, Anda dapat merasa khawatir akan dirampok. Anda merasa sangat lega
setelah tiba di rumah dengan selamat dan mengunci pintu. Salah satu alasan
mengapa orang merasa khawatir adalah karena mereka merasa terancam secara
fisik.
Ada pula
yang merasa terancam oleh apa yang dipikirkan orang lain tentang mereka. Mereka
selalu ingin tampak sempurna dan baik. Ketika terjerumus dalam situasi yang
asing dan rumit, mereka khawatir kalau tidak dapat mengambil langkah yang
benar. Orang-orang semacam ini menghindari risiko karena mereka tidak mau
dicela. Yang lainnya lagi merasa khawatir karena terancam ditinggalkan orang
lain. Mereka butuh diyakinkan terus-menerus bahwa pasangan atau teman-teman
mereka tidak akan meninggalkan mereka.
2.
Pilihan-pilihan. Banyak orang merasa
khawatir ketika harus mengambil keputusan. Mereka akan berbuat apa saja agar tidak
membuat keputusan yang salah. Ini benar-benar terjadi bahkan ketika mereka
dihadapkan pada dua pilihan yang sama baiknya. Sebagai contoh, John mendapat
tawaran dua posisi sebagai pengajar. Yang satu memberi fasilitas yang lebih
baik. Namun, yang satunya lagi memberinya kesempatan untuk mengajar mata
pelajaran yang lebih ia sukai dan melatih bisbol. Ia khawatir salah mengambil
keputusan yang nantinya dapat berakibat buruk.
3.
Pengalaman-pengalaman di masa lampau.
Penyebab ketiga dari kekhawatiran adalah kejadian di masa lampau. Seorang
pemuda selalu bermasalah dengan figur pria yang berkuasa. Hal itu
dilatarbelakangi oleh hubungannya dengan sang ayah atau pengalaman buruk yang
dialaminya dengan gurunya. Ia merasa khawatir setiap kali harus mendiskusikan
sesuatu dengan atasannya. Ia tak tahan membayangkan bahwa ia akan dihina lagi.
"Kekhawatiran
memindahkan beban dari pundak Allah yang kuat ke pundak kita yang lemah."
Kekhawatiran
adalah hanyutnya pikiran karena membayangkan hal-hal buruk yang mungkin
terjadi. Itu adalah bentuk ketakutan terhadap kemungkinan dipermalukan,
menderita sakit, mengalami kehilangan, atau mendapat kesusahan. Hal ini
memperhadapkan kita pada pilihan. Kita dapat memilih untuk menghindar dari
sumber kekhawatiran itu, namun hal ini hanya akan menambah stres. Atau, kita
dapat memilih untuk menghadapinya, bertindak dengan tepat, dan melupakannya.
Apa
yang dikatakan Alkitab tentang kekhawatiran?
Alkitab mengajarkan bahwa ada dua macam kekhawatiran:
(1)
kekhawatiran yang negatif, membahayakan, dan melumpuhkan,
(2)
kekhawatiran karena rasa prihatin yang positif dan berguna. Kata merimnao
dalam bahasa Yunani digunakan dalam Perjanjian Baru untuk mengacu pada kedua
jenis kekhawatiran itu.
Yang
dimaksud dengan kekhawatiran yang negatif dalam Alkitab adalah keresahan dan
kegelisahan yang menyusahkan. Yesus menyebutkan kata khawatir enam kali dalam
Khotbah di Bukit (Matius 6). Ia meminta para pengikut-Nya untuk tidak
khawatir akan pemeliharaan hidup sehari-hari: makanan, pakaian, tempat tinggal,
atau bahkan masa depan. Paulus mengatakan kepada kita "Janganlah hendaknya
kamu khawatir tentang apa pun juga" (Filipi 4:6). Petrus juga
meminta para pembacanya untuk menyerahkan beban mereka kepada Allah (1Petrus
5:7). Setiap kali menjumpai kata khawatir yang digunakan dalam buku
ini maka biasanya pikiran kita akan mengarah pada kekhawatiran yang negatif dan
membuat kita tak berdaya.
Namun
tidak semua kekhawatiran itu buruk. Alkitab juga membahas tentang kekhawatiran
yang positif. Dalam 2Kor 11:28 (versi king James), Paulus berbicara
tentang "keprihatinan yang mendalam terhadap semua jemaat". Kata prihatin
di sini juga ditulis dengan kata Yunani merimnao, yang terdapat dalam
penjelasan sebelumnya. Paulus mengkhawatirkan orang-orang percaya sehingga ia
menulis pesan kepada mereka.
Paulus
juga menyatakan kepada jemaat di Filipi tentang keinginannya untuk mengirim
Timotius kepada mereka karena ia merasa prihatin (merimnao) terhadap
kesejahteraan mereka (Filipi 2:20). Ini adalah kekhawatiran positif yang
mendorong Paulus dan Timotius untuk menyatakan kasih terhadap sesama. Dalam
buku ini kita akan menggunakan kata prihatin untuk jenis kekhawatiran yang
positif.
Kapankah
kekhawatiran saya terlalu berlebihan? Kita
telah beralih dari rasa prihatin yang sehat ke rasa khawatir yang menekan dan
meluluhlantakkan manakala kita:
Sulit
tidur karena terus-menerus memikirkan apa yang akan terjadi.
Diliputi
rasa bersalah ketika sedang beristirahat.
Merasa
takut akan sesuatu sepanjang waktu.
Merasa
panik pada situasi-situasi tertentu.
Tidak mau
mengevaluasi perasaan-perasaan kita.
Menyalahkan
orang lain untuk segala sesuatu.
Memiliki
rasa takut yang tak jelas akan kemungkinan terjadinya suatu musibah.
Mengapa
Kita Khawatir?
Sebuah
peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Rasul Petrus akan menolong kita menjawab
pertanyaan ini. Ingatkah Anda pada peristiwa badai dahsyat yang mengguncangkan
perahu yang dinaiki para murid Yesus? Yesus menyuruh mereka pergi lebih dulu,
sementara Dia naik ke gunung untuk berdoa (Matius 14:22,23). Angin yang
kencang bertiup di Laut Galilea. Angin itu sangat kuat hingga murid-murid Yesus
tidak mampu mengendalikan perahu mereka. Kemudian muncullah Yesus, berjalan di
atas air ke arah mereka. Para murid pun menjadi ketakutan.
Setelah
Yesus memperkenalkan diri-Nya, Petrus masih merasa ragu. "Tuhan, apabila
Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air" (ayat 28).
Tatkala Yesus berkata, "Datanglah!," dengan iman Petrus berjalan di
atas air dan menghampiri-Nya.
Namun,
kemudian Petrus melihat sekelilingnya. Dilihatnya bahwa tiupan angin sangat
kuat dan ombak sangat besar. Maka ia mulai memikirkan bahaya yang mungkin
terjadi pada tempat ia berpijak saat itu. Ia pun mulai mempertanyakan apakah ia
dapat terus berjalan di atas air. Karena itu, ia mulai tenggelam. Ia berteriak
kepada Yesus yang kemudian mengulurkan tangan-Nya dan menuntun Petrus kembali
ke perahu.
Kita tak
jauh berbeda dengan Petrus. Apa yang dialaminya menggambarkan alasan
kekhawatiran yang kita alami.
1.
Kita khawatir karena kita lemah. Sebagai
manusia, kita rentan terhadap banyak hal. Penyakit sewaktu-waktu dapat
menyerang. Keadaan ekonomi mungkin akan berubah. Mungkin saja mobil kita
tiba-tiba rusak atau pesawat yang kita tumpangi mengalami kerusakan mesin. Kita
bisa saja tertabrak oleh sopir yang mabuk. Bahkan kita khawatir seseorang akan
memotong pembicaraan dan memberi kritik tajam yang menyakitkan.
Kita
adalah manusia yang rentan, fana, dan sensitif. Kita lemah secara fisik, emosi,
dan rohani. Kita sangat rentan dalam banyak hal. Seperti Petrus, kita hanya
manusia biasa yang mudah jatuh. Kita khawatir karena kita lemah.
2.
Kita khawatir karena kita sadar akan kelemahan kita. Kerap kali kita merasa cukup aman. Kita dapat membuat
pengamanan untuk rumah kita. Kita dapat mengendarai mobil yang bisa diandalkan
dan merawatnya dengan baik. Kita dapat memeriksakan kesehatan secara teratur.
Kita dapat membeli asuransi yang terpercaya. Kita dapat memelihara hubungan
baik dengan orang lain. Kita dapat menjaga diri secara fisik, emosi, dan rohani.
Namun kemudian sesuatu terjadi dan itu menyadarkan secara menyakitkan akan
kelemahan kita. Kita seperti Petrus yang melihat angin dan menjadi takut.
Mungkin mesin mobil kita rusak. Atau, salah satu anak kita sakit. Atau, dada
kita terasa sesak. Atau, kita menemukan benjolan aneh di tubuh kita. Atau, kita
mendengar gosip adanya PHK di tempat kerja. Apa pun kejadiannya, hal itu
memaksa kita melihat kelemahan kita.
3.
Kita khawatir karena tidak memercayai Allah.
Ketika dihadapkan pada kelemahan diri, kita punya dua pilihan. Pertama, kita
dapat menyerahkan keselamatan kita kepada Allah dan memercayakan segala
ketakutan kita kepada-Nya. Kedua, kita dapat mengandalkan kekuatan sendiri
dalam bertindak. Itulah yang dilakukan Petrus. Ketika dihadapkan pada kelemahannya,
ia tak lagi memercayai Yesus. Namun kemudian ia sadar bahwa ia tak dapat
menyelamatkan dirinya sendiri.
Perkataan
Yesus kepada Petrus menyentakkannya, "Hai orang yang kurang percaya,
mengapa engkau bimbang?" (ayat 31). Ya, karena Petrus tidak lagi
memercayai Yesus. Ketika kita merasa tak lagi dapat memercayakan hidup kita,
perasaan kita, atau masa depan kita kepada Yesus, kita akan merasa khawatir.
Dan itu adalah dosa karena kita mengambil alih tanggung jawab akan diri kita
yang seharusnya menjadi wewenang Tuhan. Dengan keras kepala kita menolak untuk
menyerahkan diri ke dalam tangan-Nya yang kuat. Pantas saja bila kita merasa
khawatir!
Bagaimana
Mengatasi Kekhawatiran?
Dulu
Linda adalah seorang yang mudah khawatir. Ia sendiri mengakui hal itu. Ia
khawatir akan pekerjaan suaminya, anjing tetangganya, makan siang anak-anaknya,
mobilnya yang sudah berderak-derik, asuransi keluarganya, pelayanannya di
gereja, dan bahkan daging panggang yang ia siapkan untuk makan malam.
Linda
sangat khawatir terutama tentang keamanan rumah mereka pada waktu malam. Ia
menghendaki agar setiap pintu dan jendela memiliki kunci ganda. Setiap malam
sebelum tidur, Linda mengitari rumahnya beberapa kali untuk memastikan bahwa
semua pintu dan jendela sudah terkunci dengan aman. Ia sadar bahwa
kekhawatirannya terlalu berlebihan.
Sekarang
Linda tak lagi terikat oleh segala kekhawatirannya. Ia mengalami pelepasan itu
setelah melakukan beberapa langkah. Pertama, ia melihat banyak hal dari sudut
pandang yang berbeda. Ia melihat kelemahannya sebagai peluang untuk bertumbuh,
baik secara emosi maupun rohani. Untuk itu ia melakukannya dengan dua cara. Ia
belajar dari Alkitab tentang bagaimana mengatasi kekhawatiran. Dan, ia juga
mengambil beberapa langkah praktis untuk membebaskan diri. Ya, ia masih tetap
mengunci rumah — karena memang seharusnya demikian. Namun ia tak lagi
dilumpuhkan oleh perasaan tak berdaya.
Kita pun
dapat menentukan pilihan sehingga kekhawatiran itu justru membuat kita
bertumbuh. Untuk mengubah kekhawatiran menjadi suatu peluang, kita dapat
mengambil empat langkah berikut ini:
1.
Pusatkan Perhatian Kita Kepada Allah.
2.
Percaya dengan Iman.
3.
Berbicara Kepada Pribadi yang Memedulikan Kita.
4.
Menyerahkan Beban Kepada Tuhan.
PUSATKAN
PERHATIAN KITA KEPADA ALLAH
Orang-orang
yang selalu khawatir memusatkan pikiran mereka pada akibat dari
peristiwa-peristiwa yang belum terjadi. Mereka merasa begitu lemah dan percaya
bahwa kemungkinan yang terburuk akan terjadi. Mereka merasa bertanggung jawab
atas segala hal yang ada di luar kemampuan mereka. Namun, jika mereka berpaling
kepada Allah, mereka akan menemukan jawaban atas kelemahan mereka dalam
karakter-Nya. Karakter-karakter Allah dapat kita lihat lewat Firman-Nya.
Allah
berkuasa atas segalanya. Alkitab
mengajarkan bahwa tak satu pun kejadian di dunia ini terlepas dari pengawasan
dan kuasa Allah. "Tuhan sudah menegakkan takhta-Nya di surga dan
kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu" (Mazmur 103:19). Dia
adalah Tuhan yang Mahakuasa (Mazmur 66:7). Dialah Raja di atas
segalanya.
Orang-orang
yang selalu khawatir merasakan bahwa segala sesuatu berada di luar kendali
mereka — bahwa sesuatu yang terburuk akan terjadi dan mereka tak mampu
mencegahnya. Banyaknya pertanyaan yang ditimbulkan oleh perasaan-perasaan itu
akan mendatangkan kegelisahan. Karena itu, orang-orang yang selalu khawatir
perlu mengingat tiga kebenaran penting tentang Allah berikut ini.
1.
Allah ada di mana-mana (Mazmur 139:7;
Yeremia 23:23,24). Di mana pun kita berada, di situ pula Allah berada. Tak
ada tempat, yang tidak ada Allah, bahkan di tempat kita merasa sendirian. Dia
ada di mana-mana!
2.
Allah mengetahui segalanya (Ayub 7:20;
Mazmur 33:13). Dia mengetahui betapa takutnya kita, betapa tidak enaknya
perasaan kita, dan juga apa yang membuat kita takut. Semakin kita merasa
khawatir, semakin kita berbuat seolah-olah Allah tidak peduli dengan situasi
yang kita alami. Kita tidak tahu masa depan kita, tetapi Allah tahu. Dia
mengetahui akhir dari segalanya. Dia mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita.
3.
Allah berkuasa atas segalanya (Kejadian
17:1; 18:14; Matius 19:26). Orang-orang yang selalu khawatir merasa bahwa
tak seorang pun berkuasa mencegah hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Bahkan
Allah sendiri, pikir mereka, tak mampu mencegah putri mereka dari kehamilan di
luar nikah atau mengeluarkan putra mereka dari penjara. Bagaimanapun juga,
kuasa Allah tak terbatas. Jawaban dari pertanyaan, "Adakah sesuatu apa pun
yang mustahil untuk Tuhan?" (Kejadian 18:14) adalah tidak!
William
Backus, dalam bukunya yang berjudul The Good News About Worry (Kabar
Baik Tentang Kekhawatiran), menulis tentang kakak iparnya, seorang atlet yang
sedang dirawat di rumah sakit karena harus menjalani angio-plasty (bedah
plastik pada pembuluh darah). Proses pengobatan berjalan sukses, tetapi ia
tetap dalam masa krisis hingga 24 jam mendatang. Karena itu ia merasa khawatir!
Sambil berbaring, ia berkata, "Saya seorang atlet, saya selalu memaksa
tubuh saya melakukan apa pun yang saya inginkan dan tubuh saya pun
melakukannya. Namun, tatkala saya memerintahkan diri saya untuk menghentikan
kegelisahan yang menekan diri ini, saya tak mampu." Semakin sering ia
memerintahkan dirinya untuk tidak gelisah, perasaan itu justru semakin
menjadi-jadi.
Tiba-tiba
ia merasa seolah-olah Allah berbicara kepadanya, "Siapakah yang berkuasa
di sini?" "Engkau," jawabnya dengan rendah hati. Dan ketika
kebenaran dan komitmen itu masuk ke dalam benaknya, hatinya pun dipenuhi dengan
kedamaian.
Allah
mampu memikul beban kita. Beban hidup kita
yang sedemikian berat dapat dipindahkan ke pundak Allah. Perhatian-Nya terhadap
kesehatan kita, anak kita, keselamatan orang-orang yang kita kasihi, dan
perdamaian dunia, lebih besar daripada perhatian kita terhadap hal-hal
tersebut. Allah menolong Daud untuk mengalahkan beruang, singa, dan bangsa
Filistin. Dia melindungi Daud dari Saul yang marah dan ingin membunuhnya. Dia
membawa Daud ke negara musuh supaya aman dari kejaran Saul. Mungkin itulah
sebabnya Daud dapat menulis, "Serahkanlah khawatirmu kepada TUHAN, maka Ia
akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar
itu goyah" (Mazmur 55:23).
Namun
bagaimana kita dapat membawa beban kita kepada Allah? Bagaimana kita dapat
meletakkan semua beban itu ke pundak Allah dan meninggalkannya di sana? Dengan
bertindak berdasarkan apa yang kita ketahui: kita tahu bahwa Dia berkuasa atas
segalanya, Allah yang dapat dipercaya. Dengan merasa khawatir, berarti kita
tidak mau memercayaiNya. Kita mencoba menempati posisi-Nya dan seolah
mengatakan bahwa kita dapat berbuat lebih baik daripada Dia. Yang perlu kita
lakukan adalah menyerahkan kekhawatiran kita kepada Allah.
Saya
berjalan menyusuri pantai yang penuh dengan batu bertebaran. Saya melihat
seorang anak kecil yang sedang berusaha mengangkat sekarung batu yang telah ia
kumpulkan. Ia tak dapat menyusul keluarganya yang berjalan di depan. Sekali dua
kali ia terjatuh. Ia tak kuat mengangkat beban seberat itu. Kemudian sang kakak
melihatnya. Ia kembali untuk menjemput sang adik dan sekarung batu itu, lalu
mengangkat keduanya. Inilah yang ingin Allah lakukan bila kita bersandar
kepada-Nya. "Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan," kata sang pemazmur,
"dan percayalah kepada-Nya" (Mazmur 37:5).
Allah
dapat menyingkirkan ketakutan kita.
Kekhawatiran adalah ungkapan ketakutan kita akan masa depan. Kita takut akan
akibat-akibat yang mungkin terjadi di depan kita: Pertanyaan-pertanyaan apa
yang akan muncul dalam ujian? Apa yang akan terjadi pada saya di dokter gigi
nanti? Mungkinkah kota kita tertimpa bencana yang mengerikan?
Kekhawatiran
bermula di Taman Eden setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Mereka
bersembunyi dari Allah karena takut akan akibat dari tindakannya memakan buah
terlarang (Kejadian 3:10). "Aku menjadi takut," ujar Adam.
Dengan
mengetahui bahwa Allah itu baik adanya — sehingga tak satu pun yang jahat
berasal dari pada-Nya — maka ketakutan kita akan hilang. Bila kita mampu
berkata sama seperti Daud, "TUHAN itu baik dan benar" (Mazmur 25:8),
maka kita pun memperoleh jaminan yang pasti. Ketika kita merasa khawatir akan
masa depan, kita dapat meneladani sang pemazmur yang mampu mengecap dan
melihat, betapa baiknya TUHAN itu (Mazmur 34:9).
Tindakan
menerima kasih Allah juga menolong untuk mengusir ketakutan kita. Jika kita
takut akan sesuatu, Alkitab memberi tahu kita bahwa seyogyanya rasa takut itu
adalah akan Allah (Ulangan 10:12,20; 13:14). Takut akan Dia berarti mengasihi-Nya, menerimaNya, dan
merasa aman dalam kasih-Nya yang luar biasa kepada kita. Takut akan sang
Pencipta adalah jauh lebih baik daripada takut akan ciptaan-Nya. Takut akan Dia
yang begitu mengasihi Anda sehingga rela mengurbankan Anak-Nya adalah lebih
baik daripada takut karena segala kekhawatiran akan masa depan yang belum
nyata, belum terlihat, dan belum benar-benar menimpa diri kita.
Daud
mengenal kebaikan dan kasih Allah melalui pengalaman hidupnya. Oleh karenanya
ia dapat mengatakan kepada kita bahwa ketika berada dalam lembah kekelaman, ia
tidak takut bahaya (Mazmur 23:4). Dalam Mazmur 31 ia menuliskan
tentang pengalaman-pengalaman hidupnya yang menyedihkan, yakni ditinggalkan
oleh teman-temannya (ayat 11,12) dan diserang oleh musuh-musuhnya (ayat 13,14).
Namun ia dapat berkata, "Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya
Tuhan," (ayat 15), dan "Masa hidupku ada dalam tanganMu," (ayat
16).
Manakala
kita merasa resah, kita dapat berbuat sesuatu. Dari waktu ke waktu Alkitab
mengajarkan kepada kita untuk tidak takut. Tanggung jawab kita setelah menerima
kebaikan dan kasih dari Allah adalah mengambil keputusan yang sama seperti
Daud. Kita harus dapat berkata, "Sebab itu kita tidak akan takut" (Mazmur
46:3).
Allah
akan memelihara kita. Ketika Daud
berbicara tentang peperangan, kelaparan, dan orang-orang fasik, ia berkata
bahwa orang-orang yang percaya kepada Allah "akan menjadi kenyang" (Mazmur
37:19). Inti maksudnya adalah bahwa mereka tidak akan gentar; tidak akan
goyah. Di tengah keprihatinan hidup ini, kita tidak perlu gemetar karena rasa
takut. Mengapa? Karena Allah akan memelihara kita dengan kuasa-Nya.
Tatkala
kita merasa lemah, kekhawatiran mengacaukan pikiran kita. Kita tak ubahnya
seperti seorang ayah yang memiliki putra berusia 3 tahun yang sedang berjuang
melawan suatu infeksi berbahaya di rumah sakit. Sementara ia pergi bekerja,
sang istri berada di sisi tempat tidur anaknya. Meski disibukkan dengan
pekerjaan, sebagian pikirannya selalu melayang ke tempat putranya dirawat.
Setiap ibu yang pernah melepas putranya ke medan perang pasti dapat memahami
perasaan semacam ini. Begitu juga dengan seorang ayah ketika putrinya pergi
berkencan untuk pertama kali atau ketika putra remajanya terlambat pulang
dengan mobilnya.
Allah
akan memelihara saat kita merasa resah. Daud menuliskan, "Serahkanlah
khawatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau!" (Mazmur 55:23).
Allah kita yang teguh akan menjaga kita agar tidak terguncang oleh kekhawatiran
dan beban hidup.
Allah
akan senantiasa beserta kita. Kekhawatiran
adalah beban perseorangan. Kita cenderung menanggungnya seorang diri. Semakin
kita merasa khawatir, semakin kita merasa sendiri dan tak berdaya. Namun,
sebagai anak-anak Allah kita tak akan pernah sendiri. Kita tak akan pernah
ditinggalkan. Dalam Mazmur 139 Daud meyakinkan kita tentang kehadiran
Allah. Ia mengatakan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang dirinya,
bahkan sebelum ia dilahirkan (ayat 13-16), dan bahwa ia tak pernah dapat menjauhi
Roh Allah (ayat 7-12). Baik pada pagi hari maupun malam hari, di darat maupun
di laut, di surga maupun di neraka, Allah hadir menyertai kita.
Ya, Daud
tahu benar akan pemeliharaan Allah yang selalu menyertainya. Ia menuliskan,
"Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut
aku" (Mazmur 27:10). Sebagai anak, siapakah di antara kita yang
tidak takut ditinggalkan orangtua? Kadang-kadang kita merasa ngeri membayangkan
hal itu. Namun pada saat itu kita dapat mengingat janji Allah, yakni bahwa Dia
akan senantiasa menyertai kita.
Yesaya
pun menyadari pemeliharaan Allah yang menyertainya. Melalui dirinya, Tuhan
bersabda, "Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku tidak akan
membiarkan engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu" (Yesaya
41:10).
Yosua
juga menyadari hal yang sama. Allah berkata kepadanya, "Seperti Aku
menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan
membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau" (Yosua 1:5).
Demikian
pula dengan Musa. "Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan
tidak takut pada murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak
kelihatan" (Ibrani 11:27).
Murid-murid
Yesus juga menyadari hal ini. Sebelum tcrangkat ke surga, Yesus berkata kepada
mereka, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zamari" (Matius
28:20). Begitu pula halnya dengan kita. Janji yang Yesus berikan kepada
para murid-Nya itu juga ditujukan bagi kita.
Bila di
hari-hari mendatang Anda merasa khawatir, berpalinglah kepada Allah dan
ingatlah bahwa
(1) Dia
berkuasa atas segalanya,
(2) Dia
mampu menanggung beban Anda,
(3) Dia
dapat menyingkirkan ketakutan Anda,
(4) Dia
akan memelihara kita, dan
(5) Dia
tak akan pernah meninggalkan Anda.
PERCAYA
DENGAN IMAN
Dalam
Perjanjian Baru, Yesus juga berbicara tentang kekhawatiran saat menyampaikan
Khotbah di Bukit (Matius 6:25-34). Dalam kesempatan tersebut Dia
memberitahukan penangkal kekhawatiran. Dia berbicara kepada orang-orang beriman
(seperti kebanyakan dari kita) yang mencari sang Mesias, namun belum siap
menghadapi kedatangan-Nya. Yesus menyebut kata khawatir 6 kali dalam 10 ayat
ini. Apa yang dikatakan-Nya menasihati kita supaya dapat bertahan dalam
masyarakat yang maju pesat, penuh tekanan, dan materialistis ini.
Inti dari
khotbah Yesus itu demikian, "Engkau merasa khawatir karena engkau tidak
hidup bersungguh-sungguh dalam iman. Engkau terlalu khawatir akan makanan,
pakaian, dan hal-hal lainnya. Carilah dahulu Aku dan kerajaan-Ku, maka engkau
akan terpelihara."
Ingat,
Tuhan telah menasihatkan para pengikut-Nya supaya mereka mengumpulkan harta di
surga, bukan di bumi (Matius 6:19-24). Dalam hati, banyak orang menolak
pernyataan itu, "Yang jelas, jika saya hidup seperti yang dikatakan-Nya —
selalu memikirkan surga — saya pasti mati kelaparan. Bukankah manusia tetap
harus makan?" Itulah sebabnya Yesus memulai ajaran-Nya dengan perintah,
"Janganlah khawatir" (ayat 25).
Penyebab
Kekhawatiran (Matius 6:25-32). Jika
para pengikut-Nya masih mengkhawatirkan hal-hal di dunia ini, mereka tak akan
bebas mengumpulkan harta di surga. Yesus mengatakan bahwa kita tidak perlu
mengkhawatirkan kebutuhan hidup. Jika burung dan bunga bakung di ladang
dipelihara Allah, tentu Dia juga akan memelihara anak-anak-Nya.
Kita
bertanggung jawab untuk bekerja dan mencukupi kebutuhan-kebutuhan pribadi serta
keluarga kita. Rasul Paulus berkata, "Jika seorang tidak mau bekerja,
janganlah ia makan" (2Tesalonika 3:10). Yesus tidak mengajar kita
untuk menjadi penerima yang pasif. Yang Dia maksudkan adalah bahwa tidak
seharusnya kita merasa gelisah, khawatir, atau resah akan kebutuhan-kebutuhan
kita.
Sayangnya,
kebanyakan dari kita mengkhawatirkan hal-hal yang bukan merupakan kebutuhan
utama kita. Kita ingin dilihat orang saat makan di restoran bergengsi, kita
ingin memiliki mobil yang lebih bagus dari milik tetangga, membangun rumah yang
lebih besar, berpakaian dengan model terbaru, dan masih banyak lagi hal lain
yang dipandang penting oleh masyarakat. Kita sudah sangat terbiasa dengan
materialisme sehingga kita mengkhawatirkan hal-hal yang akan terjadi jika kita
tidak memiliki benda-benda itu.
Yesus
berkata bahwa kekhawatiran kita tak ada gunanya. Tuhan tahu bahwa segala
kebutuhan kita memang penting, tapi tidak perlu dikhawatirkan. Burung-burung
juga harus makan, tetapi mereka tidak memikirkan hal itu. Bunga-bunga pun
"berpakaian indah," tetapi mereka tidak perlu dirawat sedemikian rupa
seperti sebuah bisul. Mengapa? Karena Bapa di surga memelihara.
Di
balik kekhawatiran (ayat 30). Penyebab
mendasar dari kekhawatiran terdapat dalam kata-kata Yesus, "Kamu, hai
orang yang kurang percaya." Kita berbeban berat karena kita tidak
memercayai Allah. Kita meragukan kemampuan-Nya untuk mengatur dunia ini. Kita
tidak memercayai Dia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, meskipun Dia
berjanji untuk melakukannya. Kita mengalihkan pandangan mata kita dari surga ke
bumi. Kita malah memercayai diri sendiri, bukannya Allah. Kita menaruh kembali
tanggung jawab akan masa depan ke pundak kita sendiri. Kita merasa tak lagi
dapat memercayakan hal-hal seperti itu kepada Allah.
Penangkal
kekhawatiran yang Yesus berikan (ayat 33,34). Yesus berkata bahwa kekhawatiran berakar dari masalah prioritas. Kita
biasanya lebih khawatir akan makanan, pakaian, persaingan, dan pengaturan masa
depan, daripada memusatkan perhatian pada perkara yang terpenting,
"Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya," Dia berkata,
"maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Matius 6:33).
Bertekunlah dalam iman, utamakan Allah dalam hidupmu dan engkau akan
mengumpulkan harta di surga.
Bila kita
mendengarkan perkataan Yesus, kita akan menyadari bahwa menghilangkan
kekhawatiran hanya masalah pilihan. Tatkala kita memilih untuk memercayai Allah
dan bukan diri sendiri, maka kekhawatiran kita akan hilang. Jadi, jawabannya
sudah ada pada kita.
"Kekhawatiran
adalah ketidakpercayaan yang terselubung. Ini menunjukkan fakta bahwa kita
tidak memercayai Allah."
Apakah
Anda merasa begitu khawatir akan makanan? Apakah yang akan Anda pakai? Apakah
rumah Anda cukup besar? Apakah masa pensiun Anda terjamin? Banyak orang
kristiani telah belajar dari pengalaman pahit kehidupan bahwa hal-hal di atas
tidaklah sepenting yang kita pikirkan, dan bahwa Allah benar-benar memenuhi
janji pemeliharaan-Nya. Mereka tahu sekarang bahwa memelihara iman adalah yang
terpenting, karena dalam masalah-masalah hidup yang sulit, imanlah yang paling
mereka butuhkan.
BERBICARA
KEPADA PRIBADI YANG MEMEDULIKAN KITA
Dalam
surat Paulus kepada jemaat di Filipi, kita akan menemukan jalan keluar lain
untuk mengatasi kekhawatiran. Kita tidak perlu menyerah pada kelemahan kita,
sebaliknya kita dapat mengambil langkah positif yang menolong kita untuk tidak
khawatir lagi.
Paulus
memberi perintah khusus kepada jemaat Filipi: "Janganlah hendaknya kamu
khawatir tentang apa pun juga" (Filipi 4:6). Perintah yang sama
diberikan Yesus di lereng Bukit Galilea (Matius 6:25). Yesus menjelaskan
kekhawatiran yang sia-sia, sedangkan Paulus berkata kepada jemaat Filipi bahwa
lebih baik berdoa daripada merasa khawatir.
Janganlah
hendaknya kamu khawatir akan apa pun juga, tetapi
nyatakanlah
dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan
permohonan
dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang
melampaui
segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam
Kristus
Yesus (Filipi 4:6,7).
Dalam Filipi
4:6 Paulus memakai tiga kata yang menjelaskan apa yang harus kita lakukan
agar tak tenggelam dalam kekhawatiran.
1.
Doa. Kata doa yang dipakai Paulus ini paling sering digunakan sebagai
pengganti ungkapan berbicara kepada Allah. Kata ini mengacu pada doa
secara umum dan aspek penyembahan dalam doa. Tatkala berdoa, kita mengakui
kebesaran Allah dan menaikkan sembah, puji, dan hormat kepada-Nya. Dengan
mengenal Allah sebagai Tuhan yang berkuasa, maka dengan mantap kita dapat
menyerahkan kekhawatiran kita kepada-Nya.
2.
Permohonan. Kata kedua yang dipakai Paulus
saat menguraikan jalan keluar dari kekhawatiran adalah permohonan. Kata
ini mengacu pada pengungkapan segala kebutuhan kita kepada Allah. Di dalamnya
terdapat permintaan yang sungguh-sungguh, juga tangisan memohon pertolongan.
Permohonan ini dapat dinaikkan baik untuk kepentingan kita sendiri atau untuk
orang lain. Bila Anda merasa khawatir, serahkanlah kekhawatiran itu kepada
Allah. Mintalah pertolongan-Nya. Naikkanlah permohonan Anda dengan
sungguh-sungguh kepada-Nya. Allah yang menyuruh kita meminta, mencari, dan
mengetuk akan memberi, menolong kita untuk mendapatkan, dan menjawab segala
permohonan kita (Matius 7:7,8).
3.
Ucapan Syukur. Kata ketiga yang
menjelaskan tentang doa-doa yang menghapus kekhawatiran adalah ucapan syukur.
Kadang kala kita terlalu prihatin dengan masalah-masalah kita sehingga
melupakan hal-hal indah yang telah Allah kerjakan bagi kita di masa lalu. Kita
lupa bahwa Dia telah memperlakukan kita seturut kasih karunia dan belas
kasihan-Nya, bahkan telah memenuhi segala kebutuhan kita. Dengan mengingat
kembali bagaimana Allah telah memelihara kita di masa lalu, maka kita akan
menemukan ketenangan.
Ketika
berdoa, kita memindahkan beban dari pundak kita ke pundak Allah yang Mahakuasa.
Begitu kita memercayakan beban-beban kita kepada-Nya, kita dapat bersyukur
karena Dia adalah Allah yang mengasihi kita, yang sangat memedulikan
masalah-masalah kita, dan berkuasa menjawab doa kita.
Serahkanlah
segala kelemahan Anda kepada Pribadi yang berkuasa mengubahnya. Bila Anda
terbangun di malam hari, lalu mengkhawatirkan saudara, pekerjaan, atau anak
Anda, berdoalah. Latihlah pikiran Anda untuk berhenti khawatir dan
mengalihkan seluruh energi dari kekhawatiran yang merusak kepada doa yang
membangun. Mintalah agar Allah menolong, campur tangan, memberi keyakinan,
memberi jalan keluar, dan mengerjakan perubahan yang ajaib, karena hanya Dia
yang mampu melakukannya.
Bila Anda
takut akan masa depan, berdoalah. Ungkapkanlah kepada Tuhan. Serahkanlah
perasaan itu kepada-Nya. Bila sewaktu menunggu lampu lalu lintas Anda khawatir
akan berbagai tagihan, berdoalah. Minta Allah mencukupkan Anda, lalu
lanjutkan kegiatan Anda. Allah mendengar doa Anda.
Dalam
sebuah artikel di majalah Focal Point yang diterbitkan Denver Seminary,
Paul Borden memberi saran praktis kepada orang-orang yang selalu khawatir. Ia
menyarankan agar mereka membuat sebuah daftar kekhawatiran. Bila Anda
mengkhawatirkan sesuatu, tuliskan dalam daftar itu. Mungkin Anda
mengkhawatirkan kesehatan ibu Anda yang sudah tua, lemari es yang perlu
diganti, atau keinginan pindah gereja. Tuliskan semua kekhawatiran itu. Melihat
berbagai kekhawatiran itu di atas kertas akan sangat menolong.
Selanjutnya,
ubahlah daftar kekhawatiran itu menjadi daftar doa. Doakan hal-hal yang
membuat Anda khawatir. Doakan satu per satu. Anda akan melihat bagaimana doa
itu menolong Anda sehingga segala kekhawatiran itu tak lagi melemahkan dan
menguasai Anda. Lalu, Borden meminta agar daftar doa itu diubah lagi menjadi daftar
tindakan. Dengan pengetahuan dan keyakinan dari Allah, lakukan sesuatu
terhadap masalah-masalah itu. Meski hanya sedikit yang dapat Anda lakukan, Anda
akan segera mendapati bahwa kekhawatiran yang melumpuhkan itu akan menjadi
keprihatinan yang sehat dan terkendali akan tanggung jawab kehidupan.
Apakah
Anda khawatir? Berdoalah. Jika Anda sudah melakukannya, berdoalah lagi. Gunakan
segenap energi, yang dulu dicurahkan untuk khawatir, untuk berdoa.
MENYERAHKAN
BEBAN KEPADA TUHAN
Petrus
menawarkan jalan keluar untuk mengatasi kekhawatiran ketika menulis surat
kepada orang-orang kristiani yang mengalami siksaan hebat: "Rendahkanlah
dirimu di bawah tangan TUHAN yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada
waktunya. Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang
memelihara kamu" (1Petrus 5:6,7).
Ada dua
langkah dalam proses ini.
1.
Menerima Apa yang Tak Dapat Kita Ubah.
Daripada mengomel dan marah, atau menghindari realita dengan menyangkal
kekhawatiran kita, lebih baik kita dengan rendah hati menerima keadaan sebagai
bagian hidup kita. Kita harus rendah hati menerima apa yang kita terima dari
tangan Allah yang kuat.
2.
Menyerahkan Beban Kepada Allah. Kita dapat
menaruh kekhawatiran yang melemahkan dan menyerahkan seluruh beban kita di
tangan Allah yang Mahakuasa. Kita dapat memercayakan masa depan kepada Dia yang
mengasihi kita dan rela memberikan AnakNya untuk mati bagi kita. Namun itu
kontras dengan filosofi masa kini: "Anda tak memerlukan orang lain selain
diri sendiri," atau, "Anda harus menjaga diri sendiri, karena orang
lain tak akan melakukannya bagi Anda."
Apakah
Anda menanggung beban kekhawatiran yang begitu berat? Apakah berbagai
kekhawatiran itu membuat Anda malu atau gengsi untuk mengungkapkannya? Serahkan
semuanya kepada Allah. Anda sudah menanggungnya terlalu lama!
Studi
Kasus Alkitabiah
Dokter
Lukas mengajak kita untuk memerhatikan bagaimana Yesus menolong seseorang yang
diliputi kekhawatiran saat berkunjung ke rumah Maria, Marta, dan Lazarus (Lukas
10:38-42). Ketika sedang dalam perjalanan, Dia dan murid-murid-Nya memenuhi
undangan Marta untuk berkunjung ke rumahnya. Saya membayangkan kejadian
selanjutnya seperti ini.
Mengurus
kebutuhan banyak orang memang bukan tugas yang mudah. Sementara Marta sibuk
mempersiapkan segala sesuatunya di dapur (memotong sayur-mayur untuk salad,
mempersiapkan piring-piring, makanan utama, dan makanan penutup), Maria duduk
dengan santai di dekat kaki Yesus.
Segala
sesuatu terasa begitu mengesalkan bagi Marta. Ia ingin segalanya berjalan
sempurna untuk Tuhannya. Ia merasa frustrasi dan tak berdaya. "Panik oleh
kesibukannya," ia memandang sekilas ke ruang tamu, berharap agar Maria
datang dan menolongnya. Namun karena terpesona dengan kata-kata Yesus, Maria
tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak dari tempat duduknya.
Akhirnya,
Marta tak mampu menahan diri lebih lama lagi. Ia pun berjalan ke ruang tamu,
"Tuhan," ujarnya dengan nada menuntut dan menantang, "tidakkah
Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?"
Kemudian ia memerintah Tuhan, "Suruhlah dia membantu aku" (ayat 40).
Mungkin
Anda sama seperti Marta — atau Anda hidup bersama seseorang seperti Marta.
Kesabaran Yesus, yakni pengertian-Nya dalam menanggapi respons Marta adalah contoh
yang baik bagi Anda. Perhatikan apa yang Dia lakukan.
Pertama,
Dia membuat Marta menyadari kekhawatirannya. "Marta, Marta," jawab
Tuhan, "engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara"
(ayat 41). Saya percaya nada suara-Nya begitu lembut tatkala Dia memanggil
ulang nama Marta. Dia menunjukkan masalahnya kepada Marta. Dia memberi tahu
Marta bahwa masalahnya itu harus diatasi. Tak ada salahnya menjadi nyonya rumah
yang baik. Juga tak ada salahnya menginginkan segalanya berjalan sempurna. Yesus
tidak menghakimi Marta. Dia mengarahkan perhatian Marta pada apa yang
dikhawatirkannya.
Kedua,
Yesus menunjukkan kepada Marta bahwa kekhawatiran sebenarnya merupakan suatu
pilihan. Dan, Marta telah memilih untuk membiarkan dirinya gelisah dengan melakukan
banyak kesibukan. Pilihan tersebut menyebabkan Marta terdorong untuk mengkritik
saudara perempuannya, menyatakan secara tak langsung bahwa Yesus tidak peka,
dan berani memerintah-Nya. Tanpa menyalahkan Marta, Yesus menunjukkan bahwa
Maria pun sudah menentukan pilihannya (ayat 42).
Ketiga,
Yesus mengatakan kepada Marta bahwa ada dua macam pilihan, yakni yang fana dan
sementara, dan yang surgawi dan kekal. "Maria telah memilih bagian yang
terbaik," Dia berkata kepada Marta, "yang tidak akan diambil dari
padanya" (ayat 42). Hidangan yang tersaji dapat dengan mudah dilupakan,
tetapi kata-kata Yesus akan tinggal dalam hati Maria, dan berbuah hingga
kekekalan.
Bagaimana
seandainya Marta datang dan bergabung dengan Maria? Acara makan mereka akan
gagal, bukan? Tidak! Mereka semua justru akan bersatu menolong Marta. Atau,
Yesus dapat saja memunculkan 7 jenis makanan saat itu juga.
Saya
percaya Marta mendapat pelajaran yang berharga dari Yesus. Yesus kembali
berkunjung ke rumah mereka untuk mengikuti perjamuan makan malam kurang lebih
setahun kemudian. Keluarga Marta mengadakan perjamuan itu untuk memberi
penghormatan kepada Yesus dan merayakan kebangkitan Lazarus (Yohanes 12:1-11). Di
sana dituliskan, "Marta melayani" (ayat 2). Marta tetap sibuk
menyajikan makan malam, tetapi kali ini ia tidak kewalahan dengan tanggung
jawabnya itu. Saya yakin ia sudah belajar mengontrol kecenderungannya untuk
merasa khawatir.
Sumber dari :Originally published
in English under the title What Does It Take to Follow Christ? By: Herb
Vander Lugt dan Kurt De Haan
By : Arsy Imanuel
saya adalah salah satu orang yang sangat KHAWATIR akan masa depan, apalagi saya telah selesai kuliah dan sudah hampir 8 bulan menganggur sampai saat ini,saya selalu mengatakan kepada diri saya bahwa saya meletakkan semua beban kekhawatiran tersebut kepada Tuhan Yesus tetapi saya tetap merasa khawatir. sampai akhirnya saya putus asa dan mencari cara bagaimana meletakkan beban kekhawatiran kepada Tuhan Yesus. terimakasih karena pada dini hari saya membaca blog anda ,saya mengetahui bagaimana cara meletakkan beban tersebut dan saya lega.
ReplyDeleteY.Grace Sitompul
dear grace
Deletemohon maaf sebelumnya saya baru dapat membalas komen anda, terpujilah Tuhan Yesus yang berkatKasihNya yang begitu besar memberi kekuatan kepada kita untuk senantiasa mengikuti kehendakNya. Grace, apa yang anda alami sayapun pernah mengalaminya namun percayalah Dia pasti mengubahkan kehidupan anda...tetap setia dan yakinlah akan kasihNya....GBU
Terima kasih. Artikel yg ditulis setahun lalu ini sungguh menyegarkan saya yg punya kecemasan berlebih terhadap masa depan (cinta dan karir) saya. :")
Deletetrimakasih atas artikelnya yg sangat menguatkan diri saya
ReplyDeleteSometimes it is not easy to overcome difficulties, the article gives a good piece of advice regarding this for creating religious studies
ReplyDeleteAllah selalu beserta kita
ReplyDeleteAllah selalu beserta kita
ReplyDeleteAllah akan menolong setiap umatnya yang berdosa? bagaimana jika ttap merasa khawatir? apakah itu dosa?
ReplyDeleteTerima kasih renungannya
ReplyDeleteSangat terberkati.. Disaat sedang galau menemUkan artikel ini. Jadi membuat hati dan pikiran saya terbuka untuk lebih berserah diri kepada Tuhan. Gbu admin
ReplyDeleteTerima kasih untuk artikel yg dpt menguatkan saya dari kekwatiran.Tuhan Yesus memberkati kita.
ReplyDeleteTerima kasih atas renungan yg sungguh sangat menguatkan ini,,saya adalah seorang yg sangat penuh dengan rasa khawatir akan banyak hal di dlm kehidupan saya. Tetapi setelah saya membaca artikel ini,saya merasa sangat dikuatkan dan seperti Tuhan Yesus ada di samping saya. Tuhan Yesus memberkati...
ReplyDeletePuji Tuhan....
ReplyDeleteGreat and I have a nifty provide: Where Is Charlotte Church House Renovation house renovation loan
ReplyDelete