KESELAMATAN



Yer 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan trancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Yer 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan trancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.


Rencana yang dirancang Allah lebih dulu bagi tujuan hidup umat manusia yang begitu tidak dapat terselami oleh pikiran manusia. Allah mempunyai rencana membebaskan manusia dari kuasa dosa ini telah ditentukan lebih dulu oleh Tuhan. Orang dapat menerima atau menolak keputusan Allah itu sebagai orang bebas (Filipi 2:12). Paulus sendiri terheran-heran bahwa ia telah dipilih Allah dan juga bahwa Gereja telah dipilih, tetapi dia tidak pernah menyatakan bahwa mereka yang tidak percaya terkutuk. Terselamikah oleh kita jalan dan pikiran Tuhan?

Apakah keselamatan telah terpikirkan dalam pikiran kita? Jujur dalam perjalanan hidupku semua itu sangat jauh dari alam pikiran, aku hidup jauh dari pengenalan akan tentang Tuhan Yesus malah sikap dan hatiku mencibir akan ketuhanan Yesus sendiri, namun aku sendiri tidak mengerti mengapa kini aku menerima Dia dengan hati yang terbuka. Rm 9:2 bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati.

Namun hakekat dari keselamatan ini pun bukan berarti kita berpangku tangan disebabkan kita telah mendapatkan “penghapusan dosa” dan memiliki “tiket gratis” menuju surga tanpa melakukan hal-hal untuk kemuliaan-Nya. Lihat di Roma 9:2, sudahkah kita memiliki hati yang berduka dan penuh kerinduan agar orang-orang yang belum percaya menjadi percaya akan Tuhan Yesus terlebih-lebih saudara-saudara kita.

 Selain dengan perilaku dan perkataan kita pun wajib mendoakan saudara-saudara ataupun orang-orang di lingkungan sekitar kita agar mereka boleh percaya akan Tuhan Yesus, “12 Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; 13 apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, 14 Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu. ” (Yer 29:12-14).

 Perhatikan dua prinsip:

(1) ketika Allah ingin melakukan hal-hal besar bagi umat-Nya, Ia menggerakkan mereka untuk berdoa secara sungguh-sungguh; dan

(2) saat Allah menjawab doa-doa mereka sering kali terkait dengan rencana Allah bagi umat-Nya secara keseluruhan.




UNTUK SIAPA KESELAMATAN ITU?

Pernahkah dalam hati kita bertanya untuk siapakah keselamatan itu? Dan kita menjawab untuk semua manusia, namun mengapakah tidak semua orang menerima keselamatan itu? Bahkan empunya yang menunggu-nunggu juruselamat juga menolak akan penawaran keselamatan ini, mengapa?. Rm 9:13 seperti ada tertulis: "Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau." Coba kita perhatikan ayat ini apakah memberi pengertian bahwa Allah hanya memilih Yakub dan keturunannya untuk menerima keselamatan kekal sedangkan Esau dan keturunannya dipilih untuk hukuman kekal.

Sebaliknya, ayat ini menunjukkan bahwa keturunan Yakub dipilih sebagai penyalur penyataan dan berkat Allah bagi dunia (Mal 1:3). Perhatikan bahwa menurut pasal Rm 9:1-11:36, sebagian besar keturunan Yakub gagal untuk melaksanakan panggilan mereka dan demikian pada akhirnya ditolak oleh Allah (Rm 9:27,30-33; 10:3; Rm 11:20). Lagi pula, mereka yang tidak dikasihi (yaitu, orang bukan Yahudi) menaati Allah dengan iman dan menjadi "anak-anak Allah yang hidup" (Rm 9:25-26). Keselamatan itu adalah sebuah kasih karunia dari Allah bagi semua manusia sebab masalah ini telah ada dalam hati masing-masing manusia, Rm 10:8 Tetapi apakah katanya? Ini: "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Itulah firman iman, yang kami beritakan. Dan lihat, Ul 30:14 Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan.

Semua manusia dalam hatinya telah tertanam akan perjanjian baru yang telah Tuhan berikan namun intinya uluran tangan dari-Nya direspon dengan baik-kah oleh hati manusia, Tuhan telah memanggil nama setiap manusia sejak dalam kandungan untuk datang kepada-Nya. Rm 9:18 Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.

Apakah artinya? Allah bermaksud menunjukkan kemurahan-Nya kepada mereka yang bertobat dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sedangkan mengeraskan hati mereka yang menolak untuk bertobat dan memilih untuk tetap hidup di dalam dosa mereka sehingga menolak keselamatan di dalam Kristus. Maksud ilahi ini tidak berubah untuk siapa pun atau bangsa apa pun (bd. Rm 2:4-11).

 Dalam hal ini kita lihat contoh di Alkitab kepada siapa Tuhan mengeraskan dan mengapa hal itu terjadi? Kel 4:21 Firman TUHAN kepada Musa: "Pada waktu engkau hendak kembali ini ke Mesir, ingatlah, supaya segala mujizat yang telah Kuserahkan ke dalam tanganmu, kauperbuat di depan Firaun. Tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi. Kel 14:4 Aku akan mengeraskan hati Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku, sehingga orang Mesir mengetahui, bahwa Akulah TUHAN." Lalu mereka berbuat demikian. Ul 2:30 Tetapi Sihon, raja Hesybon, tidak mau memberi kita berjalan melalui daerahnya, sebab TUHAN, Allahmu, membuat dia keras kepala dan tegar hati, dengan maksud menyerahkan dia ke dalam tanganmu, seperti yang terjadi sekarang ini. Yos 11:20 Karena TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang itu menjadi keras, sehingga mereka berperang melawan orang Israel, supaya mereka ditumpas, dan jangan dikasihani, tetapi dipunahkan, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. Rm 11:25 Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk.

Firaun yang hatinya sudah menentang Allah, menerima hukuman Allah yang tepat. Ketika Firaun menentang kehendak Allah, maka Allah menanggapinya dengan makin mengeraskan hatinya (Kel 7:3). Jadi pengerasan hati Firaun bukan sewenang-wenang, Allah bertindak sesuai dengan prinsip kebenaran-Nya bahwa dikeraskan hati semua orang yang menentang-Nya (bd. Rm 1:21-32).

Keselamatan itu Tuhan berikan dengan cuma-cuma bagi siapa yang dengan hati yang ikhlas dan taat mematuhi pangilan Tuhan dengan Iman, yakinlah semua manusia yang memiliki telinga sudah mendengar akan berita tentang keselamatan ini namun mengapa tidak tergerak juga hatinya dan bangkit melawan tirani-tirani hawa nafsu yang membelenggu hati dan tubuhnya, Rm 9:32 Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan. Keadaan rohani sebagian besar orang Israel disebabkan oleh ketidakrelaan mereka untuk tunduk pada rencana Allah untuk memberi keselamatan oleh iman kepada Kristus (Rm 9:33). Akan tetapi, banyak orang bukan Yahudi sudah menerima rencana Allah untuk keselamatan dan mencapai kebenaran oleh iman (Rm 9:30).

Intinya Tuhan dengan kasih-Nya telah mengulurkan tangan-Nya kepada setiap manusia untuk kembali kepada-Nya dengan kesungguhan hati dan penuh ketaatan mengikuti-Nya, Rm 9:21 Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?. Hak Allah untuk memakai orang tertentu untuk mencapai rencana penebusan-Nya tanpa harus bertanggung jawab kepada siapa pun. Hal ini janganlah diartikan bahwa Allah tidak memiliki prinsip-prinsip moral di dalam sifat suci-Nya ketika berurusan dengan individu dan bangsa. Dalam sifat-Nya Allah dipengaruhi oleh kasih-Nya (Yoh 3:16), rahmat (Mzm 25:6), serta belas kasihan dan keprihatinan moral-Nya (Mzm 116:5) dan bukan oleh kehendak manusia.

APAKAH KESELAMATAN ITU?

Tentang nubuatan keselamatan ini sebenarnya di nanti-nantikan oleh bangsa Israel, namun setelah Tuhan menggenapi akan hal ini malah membuat hati mereka menjadi berbalik menolak. Mengapakah hal itu terjadi? Dikarenakan Israel berharap keselamatan yang Tuhan beri adalah suatu keselamatan yang bersifat politis dimana mereka berharap juruselamat itu membebaskan mereka dari penjajahan dan menjadikan mereka suatu bangsa yang berkuasa di bumi ini.

 Tetapi juruselamat yang Tuhan datangkan adalah juruselamat secara rohaniah yang tidak menjanjikan kekuasaan secara duniawi. Apakah dalam hidup ini Tuhan-kah yang harus mengerti kita ataukah kita yang seharusnya tunduk dan patuh kepada kuasa-Nya dan peraturan-Nya. Tuhan lebih mengetahui akan apa yang kita butuhkan dan yang lebih utama ada pada setiap manusia, percayakan semua kehidupan kita kepada Tuhan. Apakah dalam hal ini bangsa Israel tertutup untuk mengalami keselamatan?

Rm 11:1 Maka aku bertanya: Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiripun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin. Ayat ini menerangkan bahwa penolakan Allah akan Israel hanya bersifat sebagian dan sementara; Israel akhirnya akan menerima keselamatan Allah di dalam Kristus. Rm 10:9 Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

 Unsur-unsur keselamatan terangkum di sini serta berpusat pada kepercayaan akan ketuhanan Kristus dan kebangkitan-Nya secara jasmaniah. Iman harus ada di dalam hati, yang meliputi perasaan, akal, dan kehendak sehingga mempengaruhi seluruh diri orang itu. Iman juga harus meliputi penyerahan diri secara umum kepada Yesus sebagai Tuhan, baik dalam kata maupun dalam perbuatan. Pengakuan iman yang paling awal bukanlah "Yesus adalah Juruselamat," tetapi "Yesus adalah Tuhan" (bd. Kis 8:16; 19:5; 1Kor 12:3).

"Tuhan" (Yun. _kyrios_) berarti memiliki kuasa, wibawa, dan hak untuk menguasai. Mengaku "Yesus adalah Tuhan" ialah menyatakan bahwa Dia setara dengan Allah (Rm 10:13; Yoh 20:28; Kis 2:36; Ibr 1:10), layak untuk menerima kuasa (Why 5:12), penyembahan (Flp 2:10-11), kepercayaan (Yoh 14:1; Ibr 2:13), ketaatan (Ibr 5:9) dan doa (Kis 7:59-60; 2Kor 12:8).

Waktu orang Kristen memanggil Yesus "Tuhan," maka hal ini bukan sekadar pengakuan lahiriah tetapi sikap hati yang sungguh-sungguh (bd. 1Ptr 3:15). Dengan ini mereka menjadikan Kristus dan Firman-Nya Tuhan atas seluruh kehidupan mereka (Luk 6:46-49; Yoh 15:14). Yesus harus menjadi Tuhan atas hal-hal rohani di rumah dan di gereja, maupun Tuhan di bidang intelektual, keuangan, pendidikan, kesenangan, dan pekerjaan, pendeknya: semua bidang hidup (Rm 12:1-2; 1Kor 10:31).

Seorang yang menyangkal kebangkitan Kristus dari antara orang mati secara jasmaniah tidak mungkin secara sah menganggap dirinya orang Kristen. Dia masih merupakan orang yang belum percaya, karena kematian dan kebangkitan Kristus adalah peristiwa inti keselamatan (Rm 1:4; 4:25; Rm 5:10,17; 6:4-10; 8:11,34). Inilah keselamatan itu yaitu kita mempercayai ketuhanan Yesus itu sendiri dan menjadikan Ia yang berdaulat penuh dalam segi kehidupan, namun bagi orang yang baru percaya hal ini adalah suatu pergumulan batiniah yang luarbiasa besarnya perjuangan untuk mencapai keyakinan yang hakiki itu tidaklah mudah namun percayakan semuanya kepada Tuhan sebab bagi Dia tidak ada yang mustahil. Kita buka hati kita untuk menerima-Nya sebagai Tuhan dan janganlah berpikir secara manusia serta berlogika secara matematis untuk mencapai hakekat dari ketuhanan Yesus maka semua itu akan sia-sia belaka, tetapi bukalah dengan hati dan mohon bimbingan-Nya maka Ia yang lemah-lembut akan datang dan memberikan pengetahuan-Nya, bukankah Tuhan itu maha kuasa dan dapat berbuat seperti apa yang Dia kehendaki? Ia tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu dan tidak ada kesetaraan akan Dia.



JANGAN MENUNGGU LAGI!


Ingatlah kejadian bangsa Yahudi dimasa lalu karena kekerasan hatinya maka mendatangkan kehangatanmurka dari Allah, raih uluran tangan dari Tuhan dan ikuti panggilan-Nya dengan hati yang taat.

Rm 11:20 Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah!

Kunci masa depan Israel bukanlah keputusan Allah yang sewenang-wenang, tetapi ketidakpercayaan dan penolakan mereka terhadap kasih karunia Allah di dalam Kristus.

1Kor 10:12 Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! 2Kor 1:24 Bukan karena kami mau memerintahkan apa yang harus kamu percayai, karena kamu berdiri teguh dalam imanmu. Sebaliknya, kami mau turut bekerja untuk sukacitamu.

 Orang Israel, sebagai umat pilihan Allah, menyangka bahwa tak apa-apa jika mereka bermain-main dengan dosa, penyembahan berhala, dan kebejatan; namun mereka menerima hukuman. Demikian pula orang Korintus yang percaya bahwa mereka dapat dengan aman hidup dalam kesenangan duniawi, harus menyadari bahwa hukuman menunggu mereka juga.

Rm 11:25 Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk.

Haruskah kita mempertahankan kesombongan hati kita hingga tak ada waktu lagi untuk kembali kepada Tuhan, Alkitab mengisahkan bagaimana Allah memberikan waktu kepada kaum Nuh untuk kembali kepada-Nya dengan memberikan kepada Nuh mandat membuat bahtera sebagai sarana “keselamatan” yang Allah tawarkan kepada kaum Nuh sebab bumi akan dimusnahkan oleh Allah.

Tetapi mereka malah “meledek” Nuh karena membuat bahtera begitu besar untuk sarana “keselamatan” yang Allah perintahkan, tetapi sampai 120 tahun  air bah itu tidak terjadi. Masa 120 tahun adalah masa yang lama bagi sebuah penantian, Tuhan begitu panjang sabar menanti umat-Nya kembali kejalan-Nya namun hakekatnya hati dan telinga manusia-lah yang sudah kebal akan panggilan “keselamatan” dari Allah.

Rm 11:22 Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.

 Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kita tetap (1Kor 15:2; Kol 1:23; Ibr 3:6) dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kitapun akan dipotong juga (Yoh 15:2). Bagi kita orang yang sudah percaya dan menerima “keselamatan” tetap harus berpegang teguh dengan iman dan berusaha sebaik-baiknya mengikuti kelakuan Rasuli Perjanjian Baru, janganlah kita menolak jalan Allah dan mengikuti jalan dunia tetapi takulah akan Tuhan.

Rm 11:29 Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. Renungkan kembali dalam hati kita adakah kerinduan yang mendalam di dasr hati akan sukacita dan damaisejahtera yang hakiki? Adakah kerinduan hati yang hingga kini belum terjawab? Dengarkanlah panggilan hati itu dengan seksama datanglah kepada Tuhan dan bersimpuhlah di kehadirat-Nya, datangilah Dia dengan hati penuh kedamaian dan mintakan untuk mengganti hati yang tak dapat berdamai dengan hati yang taat serta tunduk dalam kerendahan kepada Allah.

 Allah ‘memanggil’ kepada manusia terus berlanjut dalam jemaat rasuli (Gal 1:15), untuk suatu kehidupan baru dalam Kristus (1Kor 1:26), Panggilan Allah. Meskipun semua orang dipanggil dalam kesetaraan untuk bersama-sama ambil bagian dalam kehidupan Kristen, namun beberapa di antaranya dipanggil untuk maksud-maksud tertentu, seperti pada kasus Matias (Kis 1:24) dan Paulus (Gal 1:15). Temukan panggilan itu dalam kehidupan kita dan jangan menunda hingga akhirnya ‘bunga’ itu kuncup dan layu hingga akhirnya di buang karena sudah tak lagi sedap di pandang bahkan telah menampakan bau, ikuti saja suara hati dengan sikap yang lemah lembut dan rasakan keindahan bersama-Nya yang tak dapat di ungkapan dengan kata-kata. Ia menginkan agar hidup kita mempunyai arti dan makna dan Ia ingin kita menjadi anak-anak-Nya yang menerangi bumi ini serta menjadi garam bagi dunia ini.

  
========TUHAN MEMBERKATI========
BY: ARSY IMANUEL, March 2013







TETAPLAH KERJAKAN KESELAMATANMU


Sebagai orang percaya dimana setelah kita menyatakan keimanan bahwa Yesus adalah Tuhan dan juruselamat yang dengan pernyataan iman seperti itu maka dosa-dosa kita telah terhapuskan (ditebus), apakah selanjutnya dalam kehidupan kita dapat berbuat semau kita?. Sebegitu murahkah arti “penebusan” dosa itu? Tuhan yang dengan kasih karunia-Nya telah memberikan “keselamatan” kepada manusia dengan cuma-cuma bukan berarti selanjutnya manusia yang sudah di selamatkan itu dapat berbuat sekehendak diri, namun sebagai orang percaya wajib bagi kita untuk mengerjakan keselamatan itu sampai akhir.

 Jikalau kita lalai melakukan hal ini, kita akan kehilangan keselamatan yang telah diberikan kepada kita. Hakekatnya kita tidak mengerjakan keselamatan dengan usaha manusia saja, tetapi dengan kasih karunia Allah dan kuasa Roh yang diberikan kepada kita. Agar mengerjakan keselamatan kita, kita harus menentang dosa dan mengikuti keinginan Roh Kudus di dalam hati kita. Hal ini meliputi usaha yang terus-menerus untuk menggunakan setiap cara yang ditetapkan Allah untuk mengalahkan kejahatan dan menyatakan kehidupan Kristus. Demikianlah, mengerjakan keselamatan kita berpusat pada pentingnya pengudusan. Kita mengerjakan keselamatan kita dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Kristus dan menerima kuasa-Nya untuk berkehendak dan berbuat menurut kerelaan-Nya.
 
Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” (Flp 2:12)

Penekanan yang pertama dari pengerjaan pasca diselamatkan dikatakan oleh Rasul Paulus adalah sikap hati yang taat, artinya kita mematuhi setiap perintah dan mengikuti akan setiap kehendak Tuhan. Alkitab telah memberikan beberapa contoh dari orang-orang yang taat dari awal, pertengahan hingga sampai akhir kesudahan. Begitupula orang-orang yang pada awalnya taat hingga pertengahan namun gagal pada akhirnya karena melanggar dari ketaatan tersebut, begitupula orang-orang yang dari awal, pertengahan dan akhirnya tidak taat, bagaimana proses awal mereka. Bagaimana respon mereka pada awal penerimaan perintah dan kehendak Tuhan semua itu sebagaian besar di kisahkan dalam Alkitab sebagai pedoman bagi kita dalam menjalani kehidupan. Walaupun apa yang disampaikan di Alkitab adalah untuk zamannya dan sesuai dengan kebudayaan pada masanya namun prinsip-prinsipnya tetap sama dan relevan sampai akhir zaman.

 Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” (Pkh 1:9).

Contoh dari ketaatan ini dapat kita lihat pada pribadi Yusuf dan Maria manakala mereka mendapatkan perintah dari Tuhan dan bagaimana mereka melaksanakan kehendak Tuhan. 18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. 19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.” (Mat 1:18-19).

 Pada saat itu lazim di kaum Yahudi sebelum sepasang suami-istri melangsungkan perkawinan mereka melaksanakan dahulu yang namanya pertunangan, yang hukum pertunangan itu sendiri hampir sama kuatnya dengan pernikahan, dimana calon suami mempunyai hak atas calon istrinya namun hak itu sendiri bukanlah hak dimana mereka boleh berhubungan badan, namun calon isrtinya itu sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Dan apabila akan terjadi pembatalan pertunangan maka pihak pria harus memberikan surat cerai untuk melepaskan ikatan perunangan itu. Dalam hal ini Yusuf, setelah mengetahui bahwa calon istrinya telah hamil ia berkehendak menceraikannya. Namun ia hendak melakukannya secara diam-diam sebab ia faham betul hukuman apa yang akan di terima calon istrinya apabila tersiar kabar bahwa Maria telah hamil sebelum nikah, sebab dalam hukum Taurat telah tertulis hukuman bagi “penzinah” yaitu di hukum rajam (dilempar batu ) sampai mati.

 Ul 22:23 “ Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan — jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia,” Ul 22:24 “maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar kepintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak,dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu”.

Namun, Yusuf mengurungkan niatnya setelah diberitahukan oleh malaikat Tuhan bahwa anak yang di kandung calon istrinya adalah anak dari Roh Kudus. Yusuf memberikan respon yang di benarkan oleh Tuhan yaitu taat dan patuh akan perintah Tuhan dan melaksanakan kehendak Tuhan. Dalam hal ini apabila kita diposisikan menjadi Yusuf apakah kita langsung percaya akan penberitaan dari sebuah mimpi? Dan apakah pada saat mengetahui calon istri kita telah hamil “diluar nikah”, bagaimana sikap kta? Menanggapi ataukah bereaksi? Disinilah kita membutuhkan kedewasaan rohani dalam menanggapi setiap masalah yang timbul, reaksi hanya akan menimbulkan bencana baik untuk dimasa kini maupun dimasa yang akan datang.

Begitupula kita dapat lihat bagaimana ketaatan seorang Maria yang harus menanggung segala resiko mengikuti kehendak Tuhan, dimana pastilah dia akan mendapatkan cemoohan, hinaan bahkan mungkin intimidasi dimana mungkin orang akan sulit mempercayai dengan akal pikiran dan logika manusia diamana ada seorang perawan hamil tanpa “persetubuhan”. Ia pasti akan di cap pembohong besar dan pastinya ia bakal di cap penzinah, dapatkah kita tangkap bagaimana penderitaan yang akan diterima oleh seorang Maria?.

Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.(Luk 1:38).

 Inilah sebuah jawaban yang sangat luarbiasa, Maria menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah dan mempercayai berita-Nya. Dengan sukarela ia menerima baik kehormatan maupun celaan yang akan dialaminya karena menjadi ibu dari Anak yang kudus ini. Para wanita muda di dalam gereja seharusnya mengikuti teladan Maria dalam hal kesucian seksual, kasih pada Allah, iman kepada Firman-Nya, dan kesediaan untuk taat kepada Roh Kudus.


Yang kedua, kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar. Semua anak Tuhan harus mempunyai ketakutan kudus yang gentar di hadapan Firman Allah dan menyebabkan mereka berpaling dari segala kejahatan. Ketakutan (Yun. _phobos_) akan Tuhan bukanlah sekadar "kepercayaan yang disertai rasa hormat," seperti yang sering kali ditegaskan, tetapi meliputi rasa hormat terhadap kuasa, kekudusan, dan pembalasan yang adil dari Allah, dan rasa takut akan berbuat dosa terhadap Dia lalu menghadapi akibat-akibatnya. Ini bukanlah ketakutan yang bersifat membinasakan, melainkan ketakutan yang mengendalikan dan memulihkan yang menuntun kepada berkat Allah dan hidup dekat dengan Dia, kepada kesucian moral, dan kepada hidup dan keselamatan.

 Yes 66:2 “ Bukankah tangan-Ku yang membuat semuanya ini, sehingga semuanya ini terjadi? demikianlah firman TUHAN. Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku”.

Tuhan tidak membutuhkan kekayaan kita ataupun kita bangunkan rumah untuk-Nya dengan segala kemegahannya dan Ia pun tidak membutuhkan pertolongan kita bahkan sebenarnya Ia tidak membutuhkan kita namun sebaliknya kita-lah yang membutuhkan-Nya. Tuhan begitu mengasihi kepada orang-orang yang hatinya senantiasa merendah baik kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia. Orang-orang yang rendah hati dan dengan kesungguhan hati mengikuti firman Tuhan dan senantiasa dalam hatinya mempunyai rasa takut dan gentar kepada Tuhan, ibarat petir dan guruh yang pertanda turunnya hujan tentunya petir dan guruh itu membuat hati manusia takut dan gentar padahal petir dan guruh itu mendatangkan rahmat berupa hujan.

 Seperti itulah kita berpengharapan akan kasih karunia Tuhan dan kita senantiasa “berharap” pengabulan permohonan dengan hati yang takut dan gentar akan hasil dari permohonan kita. Selaku orang percaya kita harus menanamkan perasaan takut dan gentar ini, lhatlah bagaimana Daud mempraktekan sikap penghormatan kepada Tuhan diman ia takut dan gentar akan Tuhan walaupun ia pada akhirnya berbuat dosa juga namun ia tetap mempunyai integritas kepada Tuhan karena dengan jujur ia akui semua kesalahannya kepada Tuhan dengan penyesalan yang begitu dalam dan tentunya dengan takut dan gentar. Dan bagaimana pula Ayub yang tadinya kurang percaya, namun ahirnya ia dapat menyaksikan keajaiban dan keperkasaan Tuhan dan ia nyatakan ungkapan hatinya kepada Tuhan dengan takut dan gentar.

 Ams 3:7 “Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; Ams 8:13 “Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat”.


Ketiga pengudusan, makna dasar dari akar kata Ibrani gdsy antara lain: (i)’menyendirikan’, (ii)’cemerlang’. Arti pertama mungkin menekankan kekudusan atau pengudusan dalam arti posisi, status, nisbah, dalam mana kata itu diterjemahkan ‘terpotong’, ‘dipisahkan’, ‘disendirikan untuk penggunaan khusus’, ‘diserahkan untuk’, atau’disucikan’, ‘dianggap keramat atau suci lawan dari yg biasa, tercemar atau sekuler’.Arti kedua mungkin menekankan penggunaannya berkaitan dengan keadaan, atau proses, yang mengarah ke pemikiran tentang perubahan batin yg terjadi berangsur-angsur, yang menghasilkan kemurnian, kebenaran moral, dan pemikiran-pemikiran suci yang menyatakan diri dalam perbuatan-perbuatan lahiriah yang baik dan menurut kehendak Tuhan.

Pengudusan menurut Paulus, menyangkut ihwal perubahan moral dan spiritual orang percaya yang sudah dibenarkan, yang sudah dilahirkan kembali, dikaruniai hidup baru oleh Tuhan. Kehendak Tuhan ialah pengudusan kita (1Tes 4:3). Dan mengalami dikuduskan secara keseluruhan ialah menjadi serupa dengan citra Kristus, dan dengan demikian merasakan dalam pengalaman arti menjadi citra Allah. Kristus adalah isi dan norma hidup yg dikuduskan: hidup kebangkitan-Nya diciptakan kembali dalam diri orang percaya sementara ia bertumbuh di dalam anugerah dan mencerminkan kemuliaan Tuhannya. Dalam pengalaman yg terus-menerus perihal pembebasan dari hukum secara harfiah, jiwa manusia dibebaskan oleh Roh Kudus (2Kor 3:17,18). Roh Kudus adalah penggerak dalam pengudusan manusia, tapi Ia bekerja melalui firman kebenaran dan doa iman, dan melalui persekutuan orang percaya (Ef 5:26) sementara mereka menguji diri sendiri dalam terang kasih Roh dan kekudusan yg tidak boleh tidak harus ada (Ibr 12:14). Iman, yang dilahirkan oleh Roh, menggenggam sarana pengudusan itu.

Sebagaimana pembenaran berarti pembebasan dari hukuman dosa, demikian pula pengudusan berartipembebasan dari pencemaran, kekurangan dan kuasa dosa. Tapi dalamnya dan luasnya pembebasan dalam arti yang terakhir itu masih dipersoalkan. Doa permohonan supaya Tuhan menguduskan orang percaya sepenuhnya, sehingga jiwa, roh dan tubuh mereka terpelihara tanpa cacat sampai kedatangan Kristus, diikuti oleh pernyataan bahwa ‘Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya’ (1Tes 5:23,24). Ini menimbulkan tiga pertanyaan penting.

a.             Apakah Tuhan melakukan pengudusan menyeluruh seketika?

Apakah pengudusan oleh iman berarti menerima pengudusan menyeluruh sebagai anugerah sama seperti pembenaran, sehingga orang percaya itu sekarang juga telah dibuat menjadi kudus, masuk untuk selama-lamanya ke dalam kekudusan yang nyata dan praktis adalah suatu keadaan? Beberapa orang mengemukakan bahwa dalam pengalaman krisis yang mengikuti pertobatan, kemanusiaan yang lama disalibkan sekali untuk selamanya, dan akar dosa dicabut atau prinsip dosa ditiadakan. Beberapa orang melangkah lebih jauh dan menekankan kebutuhan akan penerimaan dan perbuatan karunia-karunia Roh (terutama karunia lidah) sebagai bukti pekerjaan Roh itu.

b.            Apakah Tuhan melakukan pengudusan pada masa hidup orang percaya?

Di kalangan mereka yang menekankan ciri krisis dari pengalaman pengudusan maupun mereka yang memandangnya lebih sebagai suatu proses, terdapat orang-orang yang menyatakan diri sudah mencapai derajat tinggi dari hidup yang dikuduskan itu. Dengan menggarisbawahi perintah seperti ‘haruslah kamu sempurna’ (Mat 5:48), dan tidak menafsirkan ‘kesempurnaan’ di sini dalam arti ‘kedewasaan’, maka mereka mengatakan bahwa kasih yang sempurna dapat dicapai dalam kehidupan kini di dunia ini.

Tapi tuntutan-tuntutan yang tinggi dalam arti ‘kesempurnaan tanpa dosa’, biasanya mengecilkan baik bobot dosa maupun standar kehidupan moral yg dituntut. Dosa dirumuskan sebagai ‘pelanggaran sukarela terhadap suatu hukum yang diketahui’ (Wesley) ketimbang ‘setiap kekurangan dalam penyesuaian dengan atau pelanggaran atas hukum Tuhan’ (Westminster Shorter Catechism). Rumusan terakhir mencakup keadaan kita dan dosa-dosa akibat kelalaian maupun yang dilakukan terbuka dan sengaja. Pendapat lain, dengan menyetujui bahwa kekudusan yang tak terputuskan dan kesempurnaantanpa cela itu tidaklah mungkin, menyatakan bahwa kendatipun demikian adalah mungkin mempunyai dengan sempurna motivasi yang sempurna, ialah kasih.

c.             Apakah Tuhan akan melakukan pengudusan tanpa aktivitas orang percaya?

Mereka yang mengecilkan bobot dosa dan standar kekudusan yang dituntut Tuhan, berada dalam bahaya memberi penekanan yang tidak tepat pada usaha manusia dalam pengudusan. Tapi ada ekstrim yang berlawanan juga, yaitu yang meletakkan keseluruhan tugas pengudusan melulu pada Tuhan. Tuhan diharapkan akan menghasilkan orang kudus dengan segera, atau mengisi seorang Kristen secara berangsur-angsur dengan anugerah atau Roh. Ini memerosotkan manusia menjadi hanya robot tanpa sikap moral, sehingga sebenarnya hanya melahirkan pengudusan tak bermoral, suatu gagasan yang kontradiktif. Mereka yang membela watak manusia menyangkal cara kerja Roh Kudus yang tidak berharkat pribadi sedemikian itu. Mereka juga hati-hati terhadap tuntutan bahwa Roh bekerja langsung melalui proses pikiran manusia secara tak disadari, ketimbang disadari.

Orang percaya tidak tahu betapa susahnya perjuangan melawan dosa ( Rm 7; 8; Gal 5), tapi harus sadar bahwa pengudusan terjadi tidak hanya oleh usahanya sendiri melawan kecenderungan-kecenderungan jahat yang ada pada dirinya sendiri. Ada perkembangan dalam penggenapan moral, tapi ada juga sesuatu yang secara misterius melakukan pengudusan di dalam dirinya. Bahkan hal itu bukanlah kerjasama belaka, dalam mana Roh dan orang percaya masing-masing menyumbang sesuatu. Tindakan itu dapat disebut baik karya Roh maupun karya orang percaya dalam rahasia anugerah. T

uhan, Roh itu, bekerja melalui pengakuan yg setia akan hukum kebenaran dan tanggapan orang percaya dalam kasih. Dan semuanya menghasilkan kedewasaan spiritual yang terungkap dalam menerapkan hukum kasih terhadap sesama. Penggenapan pengudusan bagi orang percaya, yang oleh anugerah iman dalam karya Kristus, oleh Roh ‘menguduskan diri sendiri’ (1Yoh 3:3), dinyatakan dengan jaminan kepastian: ‘Kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diriNya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya’ (1Yoh 3:2).


Keempat kerjakan keselamatan dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantah, dalam menjalani kehidupan ini kebanyakan dari kita baik secara disadari maupun tidak terkadang senantiasa mengeluh pada berbagai hal yang sedang terjadi. Kita terkadang tanpa sadar berkata mengapa hari panas sekali begitu terik atau mengapa hari ini hujan atau coba saja angin tidak kenacang tentu hari begitu indah untuk dinikmati.

 Secara tidak langsung kita sedang menggerutu dan berkeluh kesah kepada Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu yang baik bagi manusia, namun kita manusia selalu saja mengeluh, mengapa? Karena apa yang ada dalam pikiran kita tidak akan menjangkau apa yang Tuhan pikirkan. Apa yang kita lihat tidak akan pernah dapat menyelami begitu besar dan dalamnya pengetahuan Tuhan, namun apabila kita lihat dengan manusia batin yang suci maka akan tampak segala kebaikan Tuhan. Artinya kita harus mempunyai kedewasaan dalam rohani agar dapat melihat wujud karya Tuhan yang penuh kebaikan, bertumbuh dalam kedewasaan rohani ini memerlukan kedisiplinan dalam diri kita dan ketaatan pada diri kita untuk mematuhi akan pengajaran dari Tuhan.

Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan”. (Yud 1:16).

Waspadalah akan diri kita agar tidak terjaTUH dalam dosa hanya karena mengeluh dan menggerutu, hati dan pikiran kita harus senantiasa focus pada Tuhan dan jangan biarkan condong pada hal-hal yang fana dan pada akhirnya membuat diri kita tergelincir. Seperti halnya contoh dalam Alkitab dimana bangsa Israel dibawah naungan Tuhan, dipimpin langsung keluar dari tanah mesir menuju tanah perjanjian. Namun karena kebanyakan dari mereka selalu mengeluh dan menggerutu pada akhirnya membuat perjalanan mereka menjadi sangat lama hingga mencapai 40 tahun padahal apabila mereka tidak mengeluh dan menggerutu perjalanan itu akan cepat sampai dan mereka dapat menikmati kehidupan yang baik di tanah perjanjian.

 Dan apa yang mereka lakukan akhirnya memberikan hasil yang buruk pada masa depan mereka, penggerutu itupun tidak mendapatkan hasil yang baik dan mereka tidak pernah sampai di tanah perjanjian. Oleh karena itu bagi kita orang percaya yang ingin kehidupan masa depan kta lebih baik maka lakukan hidup yang penuh dengan kebenaran dari Tuhan dan kerjakan segala seuatu dengan tulus ikhlas, jangan pernah menggerutu apalagi berbantahan dengan Tuhan.

Hari esok kita adalah ditentukan oleh pekerjaan kita di masa kini, ingin hari esok menjadi hari yang terbaik bagi kehidupan kita maka hiduplah senantias intim dengan Tuhan, dengarkan suara-Nya dan ikuti apa kehendak-Nya. Hidup kita akan lebih baik dan indah apabila senantiasa dekan dengan-Nya dan kasihilah Tuhan kita dengan segenap jiwa, akal budi dan kekuatan kita. Dalam hal ini hiduplah kita dengan penuh kebaikan dan kebenaran-Nya, dan hiduplah kita dengan baik secara vertikal maupun horisontal, artinya hiduplah penuh kebenaran dan integritas baik dengan Tuhan maupun dengan sesama kita.




===TUHAN MEMBERKATI====

By: Arsy Imanuel, in april 2013




Blog Rankings

Arts Blogs - Blog Rankings