BAGAIMANA MENGATASI KEKHAWATIRAN



Apakah Kekhawatiran Itu?

Sebelum kita membuka Alkitab untuk mengetahui tentang bagaimana mengatasi kekhawatiran, ada beberapa pertanyaan mendasar yang perlu dijawab.

Apakah kekhawatiran itu? Kekhawatiran adalah adanya perasaan gelisah, prihatin, atau takut. Perasaan-perasaan ini biasanya berhubungan dengan pikiran-pikiran negatif terhadap sesuatu yang diduga akan terjadi di masa mendatang. "Bagaimana menghadapi suami yang pulang ke rumah dalam keadaan kalut dan marah? "Bila putri saya masuk ke perguruan tinggi negeri, akan berhasilkah ia?" "Jika kita memutuskan untuk membeli rumah ini, mampukah kita melunasi pembayarannya?" "Akankah kita bertahan hidup bila suatu saat terjadi gempa bumi?"

Orang-orang yang diliputi kekhawatiran, hidup di alam masa depan. Mereka terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan apa yang mungkin terjadi dan mengkhawatirkan hal terburuk yang mungkin terjadi.

Dalam Perjanjian Baru, istilah yang dipakai untuk kata khawatir adalah merimnao, artinya "merasa cemas, kalut, pikiran bercabang". Itulah kata yang dipakai Yesus ketika Dia berkata, "Janganlah khawatir akan hidupmu" (Matius 6:25). Paulus juga menggunakannya ketika ia menulis, "Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga" (Filipi 4:6). Orang-orang yang diliputi kekhawatiran hanyut dalam kekhawatirannya dan merasa kalut. Dalam segala sesuatu yang mereka lakukan, tetap ada satu hal yang bersarang dalam pikiran mereka, yakni kekhawatiran.

Siapa saja yang diliputi kekhawatiran? Semua orang! Tak seorang pun hidup tanpa rasa khawatir. Orang yang menyatakan bahwa ia tak peduli dengan dunia ini adalah orang yang menyangkal keadaan. Setiap orang yang bertanggung jawab secara serius tidak akan menyangkali kekhawatiran yang melingkupinya. Inilah titik pangkal untuk menyelesaikan masalah. Beberapa pemimpin besar dunia juga adalah orang-orang yang sering merasa khawatir: Alexander Agung, George Washington, Winston Churchill.

"orang-orang yang penuh kekhawatiran’ selalu berpikir’bagaimana jika’."

Yang menarik, banyak orang yang berprestasi sering merasa khawatir. Mereka dikuasai kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi.

Apa yang kita khawatirkan? Kadang kala dikatakan bahwa kekhawatiran adalah membawa masa yang akan datang ke masa kini. Kekhawatiran adalah hanyutnya pikiran karena membayangkan akibat menyakitkan yang mungkin terjadi. Biasanya kekhawatiran timbul karena salah satu dari ketiga kategori alasan berikut ini.

1. Ancaman-ancaman. Anda tak perlu tinggal di Los Angeles atau Chicago untuk menyadari adanya ancaman kejahatan. Bila Anda tinggal di daerah yang rawan kejahatan dan baru dapat pulang kerja setelah hari gelap, Anda dapat merasa khawatir akan dirampok. Anda merasa sangat lega setelah tiba di rumah dengan selamat dan mengunci pintu. Salah satu alasan mengapa orang merasa khawatir adalah karena mereka merasa terancam secara fisik.

Ada pula yang merasa terancam oleh apa yang dipikirkan orang lain tentang mereka. Mereka selalu ingin tampak sempurna dan baik. Ketika terjerumus dalam situasi yang asing dan rumit, mereka khawatir kalau tidak dapat mengambil langkah yang benar. Orang-orang semacam ini menghindari risiko karena mereka tidak mau dicela. Yang lainnya lagi merasa khawatir karena terancam ditinggalkan orang lain. Mereka butuh diyakinkan terus-menerus bahwa pasangan atau teman-teman mereka tidak akan meninggalkan mereka.

 2. Pilihan-pilihan. Banyak orang merasa khawatir ketika harus mengambil keputusan. Mereka akan berbuat apa saja agar tidak membuat keputusan yang salah. Ini benar-benar terjadi bahkan ketika mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sama baiknya. Sebagai contoh, John mendapat tawaran dua posisi sebagai pengajar. Yang satu memberi fasilitas yang lebih baik. Namun, yang satunya lagi memberinya kesempatan untuk mengajar mata pelajaran yang lebih ia sukai dan melatih bisbol. Ia khawatir salah mengambil keputusan yang nantinya dapat berakibat buruk.

3. Pengalaman-pengalaman di masa lampau. Penyebab ketiga dari kekhawatiran adalah kejadian di masa lampau. Seorang pemuda selalu bermasalah dengan figur pria yang berkuasa. Hal itu dilatarbelakangi oleh hubungannya dengan sang ayah atau pengalaman buruk yang dialaminya dengan gurunya. Ia merasa khawatir setiap kali harus mendiskusikan sesuatu dengan atasannya. Ia tak tahan membayangkan bahwa ia akan dihina lagi.

"Kekhawatiran memindahkan beban dari pundak Allah yang kuat ke pundak kita yang lemah."

Kekhawatiran adalah hanyutnya pikiran karena membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Itu adalah bentuk ketakutan terhadap kemungkinan dipermalukan, menderita sakit, mengalami kehilangan, atau mendapat kesusahan. Hal ini memperhadapkan kita pada pilihan. Kita dapat memilih untuk menghindar dari sumber kekhawatiran itu, namun hal ini hanya akan menambah stres. Atau, kita dapat memilih untuk menghadapinya, bertindak dengan tepat, dan melupakannya.

Apa yang dikatakan Alkitab tentang kekhawatiran? Alkitab mengajarkan bahwa ada dua macam kekhawatiran:

(1) kekhawatiran yang negatif, membahayakan, dan melumpuhkan,

(2) kekhawatiran karena rasa prihatin yang positif dan berguna. Kata merimnao dalam bahasa Yunani digunakan dalam Perjanjian Baru untuk mengacu pada kedua jenis kekhawatiran itu.

Yang dimaksud dengan kekhawatiran yang negatif dalam Alkitab adalah keresahan dan kegelisahan yang menyusahkan. Yesus menyebutkan kata khawatir enam kali dalam Khotbah di Bukit (Matius 6). Ia meminta para pengikut-Nya untuk tidak khawatir akan pemeliharaan hidup sehari-hari: makanan, pakaian, tempat tinggal, atau bahkan masa depan. Paulus mengatakan kepada kita "Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga" (Filipi 4:6). Petrus juga meminta para pembacanya untuk menyerahkan beban mereka kepada Allah (1Petrus 5:7). Setiap kali menjumpai kata khawatir yang digunakan dalam buku ini maka biasanya pikiran kita akan mengarah pada kekhawatiran yang negatif dan membuat kita tak berdaya.

Namun tidak semua kekhawatiran itu buruk. Alkitab juga membahas tentang kekhawatiran yang positif. Dalam 2Kor 11:28 (versi king James), Paulus berbicara tentang "keprihatinan yang mendalam terhadap semua jemaat". Kata prihatin di sini juga ditulis dengan kata Yunani merimnao, yang terdapat dalam penjelasan sebelumnya. Paulus mengkhawatirkan orang-orang percaya sehingga ia menulis pesan kepada mereka.

Paulus juga menyatakan kepada jemaat di Filipi tentang keinginannya untuk mengirim Timotius kepada mereka karena ia merasa prihatin (merimnao) terhadap kesejahteraan mereka (Filipi 2:20). Ini adalah kekhawatiran positif yang mendorong Paulus dan Timotius untuk menyatakan kasih terhadap sesama. Dalam buku ini kita akan menggunakan kata prihatin untuk jenis kekhawatiran yang positif.

Kapankah kekhawatiran saya terlalu berlebihan? Kita telah beralih dari rasa prihatin yang sehat ke rasa khawatir yang menekan dan meluluhlantakkan manakala kita:

Sulit tidur karena terus-menerus memikirkan apa yang akan terjadi.
Diliputi rasa bersalah ketika sedang beristirahat.
Merasa takut akan sesuatu sepanjang waktu.
Merasa panik pada situasi-situasi tertentu.
Tidak mau mengevaluasi perasaan-perasaan kita.
Menyalahkan orang lain untuk segala sesuatu.
Memiliki rasa takut yang tak jelas akan kemungkinan terjadinya suatu musibah.

Mengapa Kita Khawatir?

Sebuah peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Rasul Petrus akan menolong kita menjawab pertanyaan ini. Ingatkah Anda pada peristiwa badai dahsyat yang mengguncangkan perahu yang dinaiki para murid Yesus? Yesus menyuruh mereka pergi lebih dulu, sementara Dia naik ke gunung untuk berdoa (Matius 14:22,23). Angin yang kencang bertiup di Laut Galilea. Angin itu sangat kuat hingga murid-murid Yesus tidak mampu mengendalikan perahu mereka. Kemudian muncullah Yesus, berjalan di atas air ke arah mereka. Para murid pun menjadi ketakutan.

Setelah Yesus memperkenalkan diri-Nya, Petrus masih merasa ragu. "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air" (ayat 28). Tatkala Yesus berkata, "Datanglah!," dengan iman Petrus berjalan di atas air dan menghampiri-Nya.

Namun, kemudian Petrus melihat sekelilingnya. Dilihatnya bahwa tiupan angin sangat kuat dan ombak sangat besar. Maka ia mulai memikirkan bahaya yang mungkin terjadi pada tempat ia berpijak saat itu. Ia pun mulai mempertanyakan apakah ia dapat terus berjalan di atas air. Karena itu, ia mulai tenggelam. Ia berteriak kepada Yesus yang kemudian mengulurkan tangan-Nya dan menuntun Petrus kembali ke perahu.

Kita tak jauh berbeda dengan Petrus. Apa yang dialaminya menggambarkan alasan kekhawatiran yang kita alami.

1. Kita khawatir karena kita lemah. Sebagai manusia, kita rentan terhadap banyak hal. Penyakit sewaktu-waktu dapat menyerang. Keadaan ekonomi mungkin akan berubah. Mungkin saja mobil kita tiba-tiba rusak atau pesawat yang kita tumpangi mengalami kerusakan mesin. Kita bisa saja tertabrak oleh sopir yang mabuk. Bahkan kita khawatir seseorang akan memotong pembicaraan dan memberi kritik tajam yang menyakitkan.

Kita adalah manusia yang rentan, fana, dan sensitif. Kita lemah secara fisik, emosi, dan rohani. Kita sangat rentan dalam banyak hal. Seperti Petrus, kita hanya manusia biasa yang mudah jatuh. Kita khawatir karena kita lemah.

2. Kita khawatir karena kita sadar akan kelemahan kita. Kerap kali kita merasa cukup aman. Kita dapat membuat pengamanan untuk rumah kita. Kita dapat mengendarai mobil yang bisa diandalkan dan merawatnya dengan baik. Kita dapat memeriksakan kesehatan secara teratur. Kita dapat membeli asuransi yang terpercaya. Kita dapat memelihara hubungan baik dengan orang lain. Kita dapat menjaga diri secara fisik, emosi, dan rohani. Namun kemudian sesuatu terjadi dan itu menyadarkan secara menyakitkan akan kelemahan kita. Kita seperti Petrus yang melihat angin dan menjadi takut. Mungkin mesin mobil kita rusak. Atau, salah satu anak kita sakit. Atau, dada kita terasa sesak. Atau, kita menemukan benjolan aneh di tubuh kita. Atau, kita mendengar gosip adanya PHK di tempat kerja. Apa pun kejadiannya, hal itu memaksa kita melihat kelemahan kita.

3. Kita khawatir karena tidak memercayai Allah. Ketika dihadapkan pada kelemahan diri, kita punya dua pilihan. Pertama, kita dapat menyerahkan keselamatan kita kepada Allah dan memercayakan segala ketakutan kita kepada-Nya. Kedua, kita dapat mengandalkan kekuatan sendiri dalam bertindak. Itulah yang dilakukan Petrus. Ketika dihadapkan pada kelemahannya, ia tak lagi memercayai Yesus. Namun kemudian ia sadar bahwa ia tak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Perkataan Yesus kepada Petrus menyentakkannya, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (ayat 31). Ya, karena Petrus tidak lagi memercayai Yesus. Ketika kita merasa tak lagi dapat memercayakan hidup kita, perasaan kita, atau masa depan kita kepada Yesus, kita akan merasa khawatir. Dan itu adalah dosa karena kita mengambil alih tanggung jawab akan diri kita yang seharusnya menjadi wewenang Tuhan. Dengan keras kepala kita menolak untuk menyerahkan diri ke dalam tangan-Nya yang kuat. Pantas saja bila kita merasa khawatir!

Bagaimana Mengatasi Kekhawatiran?

Dulu Linda adalah seorang yang mudah khawatir. Ia sendiri mengakui hal itu. Ia khawatir akan pekerjaan suaminya, anjing tetangganya, makan siang anak-anaknya, mobilnya yang sudah berderak-derik, asuransi keluarganya, pelayanannya di gereja, dan bahkan daging panggang yang ia siapkan untuk makan malam.

Linda sangat khawatir terutama tentang keamanan rumah mereka pada waktu malam. Ia menghendaki agar setiap pintu dan jendela memiliki kunci ganda. Setiap malam sebelum tidur, Linda mengitari rumahnya beberapa kali untuk memastikan bahwa semua pintu dan jendela sudah terkunci dengan aman. Ia sadar bahwa kekhawatirannya terlalu berlebihan.

Sekarang Linda tak lagi terikat oleh segala kekhawatirannya. Ia mengalami pelepasan itu setelah melakukan beberapa langkah. Pertama, ia melihat banyak hal dari sudut pandang yang berbeda. Ia melihat kelemahannya sebagai peluang untuk bertumbuh, baik secara emosi maupun rohani. Untuk itu ia melakukannya dengan dua cara. Ia belajar dari Alkitab tentang bagaimana mengatasi kekhawatiran. Dan, ia juga mengambil beberapa langkah praktis untuk membebaskan diri. Ya, ia masih tetap mengunci rumah — karena memang seharusnya demikian. Namun ia tak lagi dilumpuhkan oleh perasaan tak berdaya.

Kita pun dapat menentukan pilihan sehingga kekhawatiran itu justru membuat kita bertumbuh. Untuk mengubah kekhawatiran menjadi suatu peluang, kita dapat mengambil empat langkah berikut ini:

1. Pusatkan Perhatian Kita Kepada Allah.
2. Percaya dengan Iman.
3. Berbicara Kepada Pribadi yang Memedulikan Kita.
4. Menyerahkan Beban Kepada Tuhan.


PUSATKAN PERHATIAN KITA KEPADA ALLAH

Orang-orang yang selalu khawatir memusatkan pikiran mereka pada akibat dari peristiwa-peristiwa yang belum terjadi. Mereka merasa begitu lemah dan percaya bahwa kemungkinan yang terburuk akan terjadi. Mereka merasa bertanggung jawab atas segala hal yang ada di luar kemampuan mereka. Namun, jika mereka berpaling kepada Allah, mereka akan menemukan jawaban atas kelemahan mereka dalam karakter-Nya. Karakter-karakter Allah dapat kita lihat lewat Firman-Nya.

Allah berkuasa atas segalanya. Alkitab mengajarkan bahwa tak satu pun kejadian di dunia ini terlepas dari pengawasan dan kuasa Allah. "Tuhan sudah menegakkan takhta-Nya di surga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu" (Mazmur 103:19). Dia adalah Tuhan yang Mahakuasa (Mazmur 66:7). Dialah Raja di atas segalanya.

Orang-orang yang selalu khawatir merasakan bahwa segala sesuatu berada di luar kendali mereka — bahwa sesuatu yang terburuk akan terjadi dan mereka tak mampu mencegahnya. Banyaknya pertanyaan yang ditimbulkan oleh perasaan-perasaan itu akan mendatangkan kegelisahan. Karena itu, orang-orang yang selalu khawatir perlu mengingat tiga kebenaran penting tentang Allah berikut ini.

1. Allah ada di mana-mana (Mazmur 139:7; Yeremia 23:23,24). Di mana pun kita berada, di situ pula Allah berada. Tak ada tempat, yang tidak ada Allah, bahkan di tempat kita merasa sendirian. Dia ada di mana-mana!

2. Allah mengetahui segalanya (Ayub 7:20; Mazmur 33:13). Dia mengetahui betapa takutnya kita, betapa tidak enaknya perasaan kita, dan juga apa yang membuat kita takut. Semakin kita merasa khawatir, semakin kita berbuat seolah-olah Allah tidak peduli dengan situasi yang kita alami. Kita tidak tahu masa depan kita, tetapi Allah tahu. Dia mengetahui akhir dari segalanya. Dia mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita.

3. Allah berkuasa atas segalanya (Kejadian 17:1; 18:14; Matius 19:26). Orang-orang yang selalu khawatir merasa bahwa tak seorang pun berkuasa mencegah hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Bahkan Allah sendiri, pikir mereka, tak mampu mencegah putri mereka dari kehamilan di luar nikah atau mengeluarkan putra mereka dari penjara. Bagaimanapun juga, kuasa Allah tak terbatas. Jawaban dari pertanyaan, "Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk Tuhan?" (Kejadian 18:14) adalah tidak!

William Backus, dalam bukunya yang berjudul The Good News About Worry (Kabar Baik Tentang Kekhawatiran), menulis tentang kakak iparnya, seorang atlet yang sedang dirawat di rumah sakit karena harus menjalani angio-plasty (bedah plastik pada pembuluh darah). Proses pengobatan berjalan sukses, tetapi ia tetap dalam masa krisis hingga 24 jam mendatang. Karena itu ia merasa khawatir! Sambil berbaring, ia berkata, "Saya seorang atlet, saya selalu memaksa tubuh saya melakukan apa pun yang saya inginkan dan tubuh saya pun melakukannya. Namun, tatkala saya memerintahkan diri saya untuk menghentikan kegelisahan yang menekan diri ini, saya tak mampu." Semakin sering ia memerintahkan dirinya untuk tidak gelisah, perasaan itu justru semakin menjadi-jadi.

Tiba-tiba ia merasa seolah-olah Allah berbicara kepadanya, "Siapakah yang berkuasa di sini?" "Engkau," jawabnya dengan rendah hati. Dan ketika kebenaran dan komitmen itu masuk ke dalam benaknya, hatinya pun dipenuhi dengan kedamaian.

Allah mampu memikul beban kita. Beban hidup kita yang sedemikian berat dapat dipindahkan ke pundak Allah. Perhatian-Nya terhadap kesehatan kita, anak kita, keselamatan orang-orang yang kita kasihi, dan perdamaian dunia, lebih besar daripada perhatian kita terhadap hal-hal tersebut. Allah menolong Daud untuk mengalahkan beruang, singa, dan bangsa Filistin. Dia melindungi Daud dari Saul yang marah dan ingin membunuhnya. Dia membawa Daud ke negara musuh supaya aman dari kejaran Saul. Mungkin itulah sebabnya Daud dapat menulis, "Serahkanlah khawatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah" (Mazmur 55:23).

Namun bagaimana kita dapat membawa beban kita kepada Allah? Bagaimana kita dapat meletakkan semua beban itu ke pundak Allah dan meninggalkannya di sana? Dengan bertindak berdasarkan apa yang kita ketahui: kita tahu bahwa Dia berkuasa atas segalanya, Allah yang dapat dipercaya. Dengan merasa khawatir, berarti kita tidak mau memercayaiNya. Kita mencoba menempati posisi-Nya dan seolah mengatakan bahwa kita dapat berbuat lebih baik daripada Dia. Yang perlu kita lakukan adalah menyerahkan kekhawatiran kita kepada Allah.

Saya berjalan menyusuri pantai yang penuh dengan batu bertebaran. Saya melihat seorang anak kecil yang sedang berusaha mengangkat sekarung batu yang telah ia kumpulkan. Ia tak dapat menyusul keluarganya yang berjalan di depan. Sekali dua kali ia terjatuh. Ia tak kuat mengangkat beban seberat itu. Kemudian sang kakak melihatnya. Ia kembali untuk menjemput sang adik dan sekarung batu itu, lalu mengangkat keduanya. Inilah yang ingin Allah lakukan bila kita bersandar kepada-Nya. "Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan," kata sang pemazmur, "dan percayalah kepada-Nya" (Mazmur 37:5).

Allah dapat menyingkirkan ketakutan kita. Kekhawatiran adalah ungkapan ketakutan kita akan masa depan. Kita takut akan akibat-akibat yang mungkin terjadi di depan kita: Pertanyaan-pertanyaan apa yang akan muncul dalam ujian? Apa yang akan terjadi pada saya di dokter gigi nanti? Mungkinkah kota kita tertimpa bencana yang mengerikan?

Kekhawatiran bermula di Taman Eden setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Mereka bersembunyi dari Allah karena takut akan akibat dari tindakannya memakan buah terlarang (Kejadian 3:10). "Aku menjadi takut," ujar Adam.

Dengan mengetahui bahwa Allah itu baik adanya — sehingga tak satu pun yang jahat berasal dari pada-Nya — maka ketakutan kita akan hilang. Bila kita mampu berkata sama seperti Daud, "TUHAN itu baik dan benar" (Mazmur 25:8), maka kita pun memperoleh jaminan yang pasti. Ketika kita merasa khawatir akan masa depan, kita dapat meneladani sang pemazmur yang mampu mengecap dan melihat, betapa baiknya TUHAN itu (Mazmur 34:9).

Tindakan menerima kasih Allah juga menolong untuk mengusir ketakutan kita. Jika kita takut akan sesuatu, Alkitab memberi tahu kita bahwa seyogyanya rasa takut itu adalah akan Allah (Ulangan 10:12,20; 13:14). Takut akan Dia berarti mengasihi-Nya, menerimaNya, dan merasa aman dalam kasih-Nya yang luar biasa kepada kita. Takut akan sang Pencipta adalah jauh lebih baik daripada takut akan ciptaan-Nya. Takut akan Dia yang begitu mengasihi Anda sehingga rela mengurbankan Anak-Nya adalah lebih baik daripada takut karena segala kekhawatiran akan masa depan yang belum nyata, belum terlihat, dan belum benar-benar menimpa diri kita.

Daud mengenal kebaikan dan kasih Allah melalui pengalaman hidupnya. Oleh karenanya ia dapat mengatakan kepada kita bahwa ketika berada dalam lembah kekelaman, ia tidak takut bahaya (Mazmur 23:4). Dalam Mazmur 31 ia menuliskan tentang pengalaman-pengalaman hidupnya yang menyedihkan, yakni ditinggalkan oleh teman-temannya (ayat 11,12) dan diserang oleh musuh-musuhnya (ayat 13,14). Namun ia dapat berkata, "Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya Tuhan," (ayat 15), dan "Masa hidupku ada dalam tanganMu," (ayat 16).

Manakala kita merasa resah, kita dapat berbuat sesuatu. Dari waktu ke waktu Alkitab mengajarkan kepada kita untuk tidak takut. Tanggung jawab kita setelah menerima kebaikan dan kasih dari Allah adalah mengambil keputusan yang sama seperti Daud. Kita harus dapat berkata, "Sebab itu kita tidak akan takut" (Mazmur 46:3).

Allah akan memelihara kita. Ketika Daud berbicara tentang peperangan, kelaparan, dan orang-orang fasik, ia berkata bahwa orang-orang yang percaya kepada Allah "akan menjadi kenyang" (Mazmur 37:19). Inti maksudnya adalah bahwa mereka tidak akan gentar; tidak akan goyah. Di tengah keprihatinan hidup ini, kita tidak perlu gemetar karena rasa takut. Mengapa? Karena Allah akan memelihara kita dengan kuasa-Nya.

Tatkala kita merasa lemah, kekhawatiran mengacaukan pikiran kita. Kita tak ubahnya seperti seorang ayah yang memiliki putra berusia 3 tahun yang sedang berjuang melawan suatu infeksi berbahaya di rumah sakit. Sementara ia pergi bekerja, sang istri berada di sisi tempat tidur anaknya. Meski disibukkan dengan pekerjaan, sebagian pikirannya selalu melayang ke tempat putranya dirawat. Setiap ibu yang pernah melepas putranya ke medan perang pasti dapat memahami perasaan semacam ini. Begitu juga dengan seorang ayah ketika putrinya pergi berkencan untuk pertama kali atau ketika putra remajanya terlambat pulang dengan mobilnya.

Allah akan memelihara saat kita merasa resah. Daud menuliskan, "Serahkanlah khawatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau!" (Mazmur 55:23). Allah kita yang teguh akan menjaga kita agar tidak terguncang oleh kekhawatiran dan beban hidup.

Allah akan senantiasa beserta kita. Kekhawatiran adalah beban perseorangan. Kita cenderung menanggungnya seorang diri. Semakin kita merasa khawatir, semakin kita merasa sendiri dan tak berdaya. Namun, sebagai anak-anak Allah kita tak akan pernah sendiri. Kita tak akan pernah ditinggalkan. Dalam Mazmur 139 Daud meyakinkan kita tentang kehadiran Allah. Ia mengatakan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang dirinya, bahkan sebelum ia dilahirkan (ayat 13-16), dan bahwa ia tak pernah dapat menjauhi Roh Allah (ayat 7-12). Baik pada pagi hari maupun malam hari, di darat maupun di laut, di surga maupun di neraka, Allah hadir menyertai kita.

Ya, Daud tahu benar akan pemeliharaan Allah yang selalu menyertainya. Ia menuliskan, "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku" (Mazmur 27:10). Sebagai anak, siapakah di antara kita yang tidak takut ditinggalkan orangtua? Kadang-kadang kita merasa ngeri membayangkan hal itu. Namun pada saat itu kita dapat mengingat janji Allah, yakni bahwa Dia akan senantiasa menyertai kita.

Yesaya pun menyadari pemeliharaan Allah yang menyertainya. Melalui dirinya, Tuhan bersabda, "Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu" (Yesaya 41:10).

Yosua juga menyadari hal yang sama. Allah berkata kepadanya, "Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau" (Yosua 1:5).

Demikian pula dengan Musa. "Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut pada murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan" (Ibrani 11:27).

Murid-murid Yesus juga menyadari hal ini. Sebelum tcrangkat ke surga, Yesus berkata kepada mereka, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zamari" (Matius 28:20). Begitu pula halnya dengan kita. Janji yang Yesus berikan kepada para murid-Nya itu juga ditujukan bagi kita.

Bila di hari-hari mendatang Anda merasa khawatir, berpalinglah kepada Allah dan ingatlah bahwa

(1) Dia berkuasa atas segalanya,

(2) Dia mampu menanggung beban Anda,

(3) Dia dapat menyingkirkan ketakutan Anda,

(4) Dia akan memelihara kita, dan

(5) Dia tak akan pernah meninggalkan Anda.

PERCAYA DENGAN IMAN

Dalam Perjanjian Baru, Yesus juga berbicara tentang kekhawatiran saat menyampaikan Khotbah di Bukit (Matius 6:25-34). Dalam kesempatan tersebut Dia memberitahukan penangkal kekhawatiran. Dia berbicara kepada orang-orang beriman (seperti kebanyakan dari kita) yang mencari sang Mesias, namun belum siap menghadapi kedatangan-Nya. Yesus menyebut kata khawatir 6 kali dalam 10 ayat ini. Apa yang dikatakan-Nya menasihati kita supaya dapat bertahan dalam masyarakat yang maju pesat, penuh tekanan, dan materialistis ini.

Inti dari khotbah Yesus itu demikian, "Engkau merasa khawatir karena engkau tidak hidup bersungguh-sungguh dalam iman. Engkau terlalu khawatir akan makanan, pakaian, dan hal-hal lainnya. Carilah dahulu Aku dan kerajaan-Ku, maka engkau akan terpelihara."

Ingat, Tuhan telah menasihatkan para pengikut-Nya supaya mereka mengumpulkan harta di surga, bukan di bumi (Matius 6:19-24). Dalam hati, banyak orang menolak pernyataan itu, "Yang jelas, jika saya hidup seperti yang dikatakan-Nya — selalu memikirkan surga — saya pasti mati kelaparan. Bukankah manusia tetap harus makan?" Itulah sebabnya Yesus memulai ajaran-Nya dengan perintah, "Janganlah khawatir" (ayat 25).

Penyebab Kekhawatiran (Matius 6:25-32). Jika para pengikut-Nya masih mengkhawatirkan hal-hal di dunia ini, mereka tak akan bebas mengumpulkan harta di surga. Yesus mengatakan bahwa kita tidak perlu mengkhawatirkan kebutuhan hidup. Jika burung dan bunga bakung di ladang dipelihara Allah, tentu Dia juga akan memelihara anak-anak-Nya.

Kita bertanggung jawab untuk bekerja dan mencukupi kebutuhan-kebutuhan pribadi serta keluarga kita. Rasul Paulus berkata, "Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan" (2Tesalonika 3:10). Yesus tidak mengajar kita untuk menjadi penerima yang pasif. Yang Dia maksudkan adalah bahwa tidak seharusnya kita merasa gelisah, khawatir, atau resah akan kebutuhan-kebutuhan kita.

Sayangnya, kebanyakan dari kita mengkhawatirkan hal-hal yang bukan merupakan kebutuhan utama kita. Kita ingin dilihat orang saat makan di restoran bergengsi, kita ingin memiliki mobil yang lebih bagus dari milik tetangga, membangun rumah yang lebih besar, berpakaian dengan model terbaru, dan masih banyak lagi hal lain yang dipandang penting oleh masyarakat. Kita sudah sangat terbiasa dengan materialisme sehingga kita mengkhawatirkan hal-hal yang akan terjadi jika kita tidak memiliki benda-benda itu.

Yesus berkata bahwa kekhawatiran kita tak ada gunanya. Tuhan tahu bahwa segala kebutuhan kita memang penting, tapi tidak perlu dikhawatirkan. Burung-burung juga harus makan, tetapi mereka tidak memikirkan hal itu. Bunga-bunga pun "berpakaian indah," tetapi mereka tidak perlu dirawat sedemikian rupa seperti sebuah bisul. Mengapa? Karena Bapa di surga memelihara.

Di balik kekhawatiran (ayat 30). Penyebab mendasar dari kekhawatiran terdapat dalam kata-kata Yesus, "Kamu, hai orang yang kurang percaya." Kita berbeban berat karena kita tidak memercayai Allah. Kita meragukan kemampuan-Nya untuk mengatur dunia ini. Kita tidak memercayai Dia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, meskipun Dia berjanji untuk melakukannya. Kita mengalihkan pandangan mata kita dari surga ke bumi. Kita malah memercayai diri sendiri, bukannya Allah. Kita menaruh kembali tanggung jawab akan masa depan ke pundak kita sendiri. Kita merasa tak lagi dapat memercayakan hal-hal seperti itu kepada Allah.

Penangkal kekhawatiran yang Yesus berikan (ayat 33,34). Yesus berkata bahwa kekhawatiran berakar dari masalah prioritas. Kita biasanya lebih khawatir akan makanan, pakaian, persaingan, dan pengaturan masa depan, daripada memusatkan perhatian pada perkara yang terpenting, "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya," Dia berkata, "maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Matius 6:33). Bertekunlah dalam iman, utamakan Allah dalam hidupmu dan engkau akan mengumpulkan harta di surga.

Bila kita mendengarkan perkataan Yesus, kita akan menyadari bahwa menghilangkan kekhawatiran hanya masalah pilihan. Tatkala kita memilih untuk memercayai Allah dan bukan diri sendiri, maka kekhawatiran kita akan hilang. Jadi, jawabannya sudah ada pada kita.

"Kekhawatiran adalah ketidakpercayaan yang terselubung. Ini menunjukkan fakta bahwa kita tidak memercayai Allah."

Apakah Anda merasa begitu khawatir akan makanan? Apakah yang akan Anda pakai? Apakah rumah Anda cukup besar? Apakah masa pensiun Anda terjamin? Banyak orang kristiani telah belajar dari pengalaman pahit kehidupan bahwa hal-hal di atas tidaklah sepenting yang kita pikirkan, dan bahwa Allah benar-benar memenuhi janji pemeliharaan-Nya. Mereka tahu sekarang bahwa memelihara iman adalah yang terpenting, karena dalam masalah-masalah hidup yang sulit, imanlah yang paling mereka butuhkan.


BERBICARA KEPADA PRIBADI YANG MEMEDULIKAN KITA

Dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi, kita akan menemukan jalan keluar lain untuk mengatasi kekhawatiran. Kita tidak perlu menyerah pada kelemahan kita, sebaliknya kita dapat mengambil langkah positif yang menolong kita untuk tidak khawatir lagi.

Paulus memberi perintah khusus kepada jemaat Filipi: "Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga" (Filipi 4:6). Perintah yang sama diberikan Yesus di lereng Bukit Galilea (Matius 6:25). Yesus menjelaskan kekhawatiran yang sia-sia, sedangkan Paulus berkata kepada jemaat Filipi bahwa lebih baik berdoa daripada merasa khawatir.

Janganlah hendaknya kamu khawatir akan apa pun juga, tetapi
nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan
permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang
melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam
Kristus Yesus (Filipi 4:6,7).

Dalam Filipi 4:6 Paulus memakai tiga kata yang menjelaskan apa yang harus kita lakukan agar tak tenggelam dalam kekhawatiran.

1. Doa. Kata doa yang dipakai Paulus ini paling sering digunakan sebagai pengganti ungkapan berbicara kepada Allah. Kata ini mengacu pada doa secara umum dan aspek penyembahan dalam doa. Tatkala berdoa, kita mengakui kebesaran Allah dan menaikkan sembah, puji, dan hormat kepada-Nya. Dengan mengenal Allah sebagai Tuhan yang berkuasa, maka dengan mantap kita dapat menyerahkan kekhawatiran kita kepada-Nya.

2. Permohonan. Kata kedua yang dipakai Paulus saat menguraikan jalan keluar dari kekhawatiran adalah permohonan. Kata ini mengacu pada pengungkapan segala kebutuhan kita kepada Allah. Di dalamnya terdapat permintaan yang sungguh-sungguh, juga tangisan memohon pertolongan. Permohonan ini dapat dinaikkan baik untuk kepentingan kita sendiri atau untuk orang lain. Bila Anda merasa khawatir, serahkanlah kekhawatiran itu kepada Allah. Mintalah pertolongan-Nya. Naikkanlah permohonan Anda dengan sungguh-sungguh kepada-Nya. Allah yang menyuruh kita meminta, mencari, dan mengetuk akan memberi, menolong kita untuk mendapatkan, dan menjawab segala permohonan kita (Matius 7:7,8).

3. Ucapan Syukur. Kata ketiga yang menjelaskan tentang doa-doa yang menghapus kekhawatiran adalah ucapan syukur. Kadang kala kita terlalu prihatin dengan masalah-masalah kita sehingga melupakan hal-hal indah yang telah Allah kerjakan bagi kita di masa lalu. Kita lupa bahwa Dia telah memperlakukan kita seturut kasih karunia dan belas kasihan-Nya, bahkan telah memenuhi segala kebutuhan kita. Dengan mengingat kembali bagaimana Allah telah memelihara kita di masa lalu, maka kita akan menemukan ketenangan.

Ketika berdoa, kita memindahkan beban dari pundak kita ke pundak Allah yang Mahakuasa. Begitu kita memercayakan beban-beban kita kepada-Nya, kita dapat bersyukur karena Dia adalah Allah yang mengasihi kita, yang sangat memedulikan masalah-masalah kita, dan berkuasa menjawab doa kita.

Serahkanlah segala kelemahan Anda kepada Pribadi yang berkuasa mengubahnya. Bila Anda terbangun di malam hari, lalu mengkhawatirkan saudara, pekerjaan, atau anak Anda, berdoalah. Latihlah pikiran Anda untuk berhenti khawatir dan mengalihkan seluruh energi dari kekhawatiran yang merusak kepada doa yang membangun. Mintalah agar Allah menolong, campur tangan, memberi keyakinan, memberi jalan keluar, dan mengerjakan perubahan yang ajaib, karena hanya Dia yang mampu melakukannya.

Bila Anda takut akan masa depan, berdoalah. Ungkapkanlah kepada Tuhan. Serahkanlah perasaan itu kepada-Nya. Bila sewaktu menunggu lampu lalu lintas Anda khawatir akan berbagai tagihan, berdoalah. Minta Allah mencukupkan Anda, lalu lanjutkan kegiatan Anda. Allah mendengar doa Anda.

Dalam sebuah artikel di majalah Focal Point yang diterbitkan Denver Seminary, Paul Borden memberi saran praktis kepada orang-orang yang selalu khawatir. Ia menyarankan agar mereka membuat sebuah daftar kekhawatiran. Bila Anda mengkhawatirkan sesuatu, tuliskan dalam daftar itu. Mungkin Anda mengkhawatirkan kesehatan ibu Anda yang sudah tua, lemari es yang perlu diganti, atau keinginan pindah gereja. Tuliskan semua kekhawatiran itu. Melihat berbagai kekhawatiran itu di atas kertas akan sangat menolong.

Selanjutnya, ubahlah daftar kekhawatiran itu menjadi daftar doa. Doakan hal-hal yang membuat Anda khawatir. Doakan satu per satu. Anda akan melihat bagaimana doa itu menolong Anda sehingga segala kekhawatiran itu tak lagi melemahkan dan menguasai Anda. Lalu, Borden meminta agar daftar doa itu diubah lagi menjadi daftar tindakan. Dengan pengetahuan dan keyakinan dari Allah, lakukan sesuatu terhadap masalah-masalah itu. Meski hanya sedikit yang dapat Anda lakukan, Anda akan segera mendapati bahwa kekhawatiran yang melumpuhkan itu akan menjadi keprihatinan yang sehat dan terkendali akan tanggung jawab kehidupan.

Apakah Anda khawatir? Berdoalah. Jika Anda sudah melakukannya, berdoalah lagi. Gunakan segenap energi, yang dulu dicurahkan untuk khawatir, untuk berdoa.



MENYERAHKAN BEBAN KEPADA TUHAN

Petrus menawarkan jalan keluar untuk mengatasi kekhawatiran ketika menulis surat kepada orang-orang kristiani yang mengalami siksaan hebat: "Rendahkanlah dirimu di bawah tangan TUHAN yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu" (1Petrus 5:6,7).

Ada dua langkah dalam proses ini.

1. Menerima Apa yang Tak Dapat Kita Ubah. Daripada mengomel dan marah, atau menghindari realita dengan menyangkal kekhawatiran kita, lebih baik kita dengan rendah hati menerima keadaan sebagai bagian hidup kita. Kita harus rendah hati menerima apa yang kita terima dari tangan Allah yang kuat.

2. Menyerahkan Beban Kepada Allah. Kita dapat menaruh kekhawatiran yang melemahkan dan menyerahkan seluruh beban kita di tangan Allah yang Mahakuasa. Kita dapat memercayakan masa depan kepada Dia yang mengasihi kita dan rela memberikan AnakNya untuk mati bagi kita. Namun itu kontras dengan filosofi masa kini: "Anda tak memerlukan orang lain selain diri sendiri," atau, "Anda harus menjaga diri sendiri, karena orang lain tak akan melakukannya bagi Anda."

Apakah Anda menanggung beban kekhawatiran yang begitu berat? Apakah berbagai kekhawatiran itu membuat Anda malu atau gengsi untuk mengungkapkannya? Serahkan semuanya kepada Allah. Anda sudah menanggungnya terlalu lama!

Studi Kasus Alkitabiah

Dokter Lukas mengajak kita untuk memerhatikan bagaimana Yesus menolong seseorang yang diliputi kekhawatiran saat berkunjung ke rumah Maria, Marta, dan Lazarus (Lukas 10:38-42). Ketika sedang dalam perjalanan, Dia dan murid-murid-Nya memenuhi undangan Marta untuk berkunjung ke rumahnya. Saya membayangkan kejadian selanjutnya seperti ini.

Mengurus kebutuhan banyak orang memang bukan tugas yang mudah. Sementara Marta sibuk mempersiapkan segala sesuatunya di dapur (memotong sayur-mayur untuk salad, mempersiapkan piring-piring, makanan utama, dan makanan penutup), Maria duduk dengan santai di dekat kaki Yesus.

Segala sesuatu terasa begitu mengesalkan bagi Marta. Ia ingin segalanya berjalan sempurna untuk Tuhannya. Ia merasa frustrasi dan tak berdaya. "Panik oleh kesibukannya," ia memandang sekilas ke ruang tamu, berharap agar Maria datang dan menolongnya. Namun karena terpesona dengan kata-kata Yesus, Maria tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak dari tempat duduknya.
Akhirnya, Marta tak mampu menahan diri lebih lama lagi. Ia pun berjalan ke ruang tamu, "Tuhan," ujarnya dengan nada menuntut dan menantang, "tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?" Kemudian ia memerintah Tuhan, "Suruhlah dia membantu aku" (ayat 40).

Mungkin Anda sama seperti Marta — atau Anda hidup bersama seseorang seperti Marta. Kesabaran Yesus, yakni pengertian-Nya dalam menanggapi respons Marta adalah contoh yang baik bagi Anda. Perhatikan apa yang Dia lakukan.
Pertama, Dia membuat Marta menyadari kekhawatirannya. "Marta, Marta," jawab Tuhan, "engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara" (ayat 41). Saya percaya nada suara-Nya begitu lembut tatkala Dia memanggil ulang nama Marta. Dia menunjukkan masalahnya kepada Marta. Dia memberi tahu Marta bahwa masalahnya itu harus diatasi. Tak ada salahnya menjadi nyonya rumah yang baik. Juga tak ada salahnya menginginkan segalanya berjalan sempurna. Yesus tidak menghakimi Marta. Dia mengarahkan perhatian Marta pada apa yang dikhawatirkannya.

Kedua, Yesus menunjukkan kepada Marta bahwa kekhawatiran sebenarnya merupakan suatu pilihan. Dan, Marta telah memilih untuk membiarkan dirinya gelisah dengan melakukan banyak kesibukan. Pilihan tersebut menyebabkan Marta terdorong untuk mengkritik saudara perempuannya, menyatakan secara tak langsung bahwa Yesus tidak peka, dan berani memerintah-Nya. Tanpa menyalahkan Marta, Yesus menunjukkan bahwa Maria pun sudah menentukan pilihannya (ayat 42).
Ketiga, Yesus mengatakan kepada Marta bahwa ada dua macam pilihan, yakni yang fana dan sementara, dan yang surgawi dan kekal. "Maria telah memilih bagian yang terbaik," Dia berkata kepada Marta, "yang tidak akan diambil dari padanya" (ayat 42). Hidangan yang tersaji dapat dengan mudah dilupakan, tetapi kata-kata Yesus akan tinggal dalam hati Maria, dan berbuah hingga kekekalan.

Bagaimana seandainya Marta datang dan bergabung dengan Maria? Acara makan mereka akan gagal, bukan? Tidak! Mereka semua justru akan bersatu menolong Marta. Atau, Yesus dapat saja memunculkan 7 jenis makanan saat itu juga.
Saya percaya Marta mendapat pelajaran yang berharga dari Yesus. Yesus kembali berkunjung ke rumah mereka untuk mengikuti perjamuan makan malam kurang lebih setahun kemudian. Keluarga Marta mengadakan perjamuan itu untuk memberi penghormatan kepada Yesus dan merayakan kebangkitan Lazarus (Yohanes 12:1-11). Di sana dituliskan, "Marta melayani" (ayat 2). Marta tetap sibuk menyajikan makan malam, tetapi kali ini ia tidak kewalahan dengan tanggung jawabnya itu. Saya yakin ia sudah belajar mengontrol kecenderungannya untuk merasa khawatir.

Sumber dari :Originally published in English under the title What Does It Take to Follow Christ? By: Herb Vander Lugt dan Kurt De Haan


By : Arsy Imanuel

MENGAPA TUHAN MENGIZINKAN PENDERITAAN?



Jawaban yang Sulit Dipahami

Hidup memang sulit dipahami. Saat mencoba mengatasi kenyataan pahit yang kita alami, kita mudah mengalami frustrasi. Kita ingin mendapat jawaban atas masalah-masalah kita yang menumpuk. Kita bahkan bertanya-tanya apakah kita bisa benar-benar memahami mengapa hal-hal buruk menimpa orang-orang yang baik dan mengapa hal-hal yang baik justru dinikmati orang-orang yang jahat. Jawabannya kerap kali sulit dipahami, tersembunyi, dan di luar jangkauan pemikiran kita. Jika seorang teroris terbunuh oleh bom yang ia pasang sendiri, kita bisa memakluminya. Kita juga maklum jika pengendara yang ceroboh mengalami kecelakaan yang serius. Kita pun maklum jika orang yang bermain-main dengan api, terbakar. Kita bahkan lebih maklum lagi jika seorang perokok berat menderita kanker paru-paru. Namun bagaimana jika pria, wanita, dan anak-anak yang tak berdosa terbunuh oleh bom seorang teroris? Bagaimana dengan pengemudi muda yang harus menderita kerusakan otak karena seorang pemabuk membelokkan mobilnya secara tiba-tiba? Bagaimana dengan orang yang rumahnya tiba-tiba terbakar bukan karena kesalahan yang dilakukannya? Dan bagaimana dengan anak usia dua tahun yang menderita leukemia?

Alangkah berbahayanya, bahkan suatu hal yang bodoh, jika kita pura-pura tahu secara lengkap jawaban mengapa Allah mengizinkan penderitaan. Alasannya amat banyak dan kompleks. Kita pun salah jika kita menuntut agar kita harus tahu alasannya. Ketika Ayub yang menderita, yang dikisahkan dalam Perjanjian Lama menyadari bahwa ia tidak berhak menuntut jawaban dari Allah, ia berkata, "Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui" (#/TB Ayub 42:3). Namun Allah telah memberi kita beberapa jawaban. Meskipun kita mungkin tidak dapat memahami mengapa seseorang bisa terserang penyakit, tetapi kita dapat mengerti sebagian alasan mengapa penyakit itu muncul. Dan bahkan meskipun kita tidak mengerti mengapa kita mengalami suatu masalah tertentu, kita dapat mengerti bagaimana kita mengatasi masalah itu dan menanggapinya dengan cara yang berkenan bagi Tuhan.

Saya tidak akan pura-pura mengerti sepenuhnya tentang penderitaan yang mungkin Anda alami sendiri. Meskipun beberapa aspek dari penderitaan manusia adalah hal yang umum, tapi ada hal-hal yang berbeda. Dan apa yang mungkin paling Anda butuhkan saat ini bukan empat garis besar atas pertanyaan mengapa Anda menderita atau bahkan bagaimana cara Anda mengatasinya. Yang mungkin paling Anda butuhkan adalah pelukan, orang yang mau mendengarkan, atau seseorang yang bersedia menemani Anda. Namun kadang-kadang pada saat seperti itu, Anda ingin mengetahui kebenaran firman Allah untuk menghibur Anda dan membantu Anda melihat penderitaan Anda dari sudut pandang Allah. Anda dan saya membutuhkan lebih dari sekadar teori yang belum teruji kebenarannya. Itulah sebabnya di halaman-halaman berikut saya mencoba untuk mencantumkan pandangan dari orang-orang yang telah mengalami berbagai penderitaan baik fisik maupun emosi. Saya berdoa bagi Anda agar iman Anda di dalam Allah tetap teguh ketika dunia seakan runtuh menimpa Anda.

Mengapa Tuhan yang Baik Mengizinkan Penderitaan?

Di manakah Allah ketika kita sedang menderita? Jika Dia baik dan sabar, mengapa kehidupan kerap kali demikian tragis? Apakah Dia telah kehilangan kendali? Atau, jika Dia tetap memegang kendali, apa yang ingin Dia lakukan bagi saya dan orang-orang lain? Beberapa orang memilih menolak keberadaan Allah karena mereka tidak bisa memahami mengapa Allah mengizinkan penderitaan seperti itu. Sebagian orang percaya bahwa Allah ada, tetapi mereka tidak peduli dengan-Nya karena mereka tidak menganggap bahwa Dia baik. Yang lainnya lagi memercayai Allah yang baik dan mengasihi kita, tetapi Allah telah kehilangan kendali atas planet yang memberontak ini. Namun demikian, ada juga orang-orang yang tetap berpegang teguh pada kepercayaan bahwa Allah yang bijaksana, penuh kuasa, dan penuh kasih bisa menggunakan si jahat untuk kebaikan. Jika kita mempelajari Alkitab secara cermat, kita akan menemukan bahwa Allah dapat melakukan apa saja yang Dia inginkan. Kadang-kadang Dia bertindak dengan penuh belas kasihan dan melakukan berbagai mukjizat bagi umat-Nya. Namun, pada kesempatan lain, Dia memilih tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan tragedi. Dia seharusnya selalu akrab terlibat dalam kehidupan kita, tetapi kadang-kadang Dia sepertinya menutup telinga atas teriakan minta tolong kita. Di dalam Alkitab, Dia meyakinkan kita bahwa Dia mengendalikan apa saja yang terjadi, tetapi kadang-kadang Dia membiarkan kita menjadi sasaran orang-orang yang jahat, gen-gen pembawa sifat buruk, virus yang berbahaya, atau bencana alam.

Jika Anda seperti saya, Anda tentu ingin meletakkan kepingan-kepingan jawaban yang benar tentang penderitaan ini agar memperoleh pemahaman yang utuh. Saya percaya bahwa Allah telah memberi kita kepingan-kepingan jawaban yang cukup untuk menolong kita agar tetap memercayai-Nya, bahkan jika kita tidak memiliki semua informasi yang kita inginkan. Di dalam pembahasan yang singkat ini kita akan melihat bahwa jawaban dasar dari Alkitab adalah bahwa Allah kita yang baik mengizinkan kesakitan dan penderitaan di dalam hidup kita untuk memperingatkan kita atas masalah dosa, untuk memimpin kita agar menanggapi-Nya dengan iman dan harapan, untuk membentuk kita agar lebih menyerupai Kristus, dan untuk mempersatukan kita agar saling menolong.

UNTUK MEMPERINGATKAN KITA

Bayangkanlah suatu dunia tanpa penderitaan. Seperti apa bentuknya? Pertama, gagasan seperti itu sangat menarik. Tidak ada lagi sakit kepala. Tidak ada lagi sakit punggung. Tidak ada lagi sakit perut. Tidak ada lagi rasa sakit menusuk ketika palu yang Anda ayunkan meleset dan mengenai jempol Anda. Tidak ada lagi sakit tenggorokan. Namun tidak ada pula rasa sakit yang memperingatkan Anda jika ada tulang Anda yang patah atau persendian yang lepas. Tidak ada lagi peringatan bahaya yang memberitahu Anda bahwa sebuah borok telah melubangi perut Anda. Tidak ada rasa tidak enak untuk memperingatkan Anda bahwa tumor ganas sedang menggerogoti tubuh Anda. Tidak ada lagi kejang yang memberi tahu Anda bahwa pembuluh darah ke arah jantung Anda tersumbat. Tidak ada rasa sakit yang memberi tahu Anda bahwa usus buntu Anda pecah. Sebesar apa pun kebencian kita terhadap rasa sakit, kita harus mengakui bahwa rasa sakit itu kerap kali mempunyai tujuan yang baik. Rasa sakit itu mengingatkan kita akan sesuatu yang tidak beres. Penyebab rasa sakit itu sendirilah yang merupakan masalah utama, bukan penderitaannya. Rasa sakit hanyalah suatu gejala, suatu sirine, atau bel yang akan berbunyi ketika tubuh kita mengalami bahaya atau mendapat serangan.

Pada bagian ini kita akan melihat bagaimana rasa sakit dapat menjadi cara Allah untuk memperingatkan kita bahwa:

1. Ada sesuatu yang tidak beres dengan dunia ini.
2. Ada sesuatu yang tidak beres dengan ciptaan Allah.
3. Ada sesuatu yang tidak beres di dalam diri saya sendiri.

Salah satu masalah ini dapat menjadi alasan timbulnya penderitaan dalam hidup kita. Marilah kita lihat masing-masing diagnosis itu.

1. Ada sesuatu yang tidak beres dengan dunia ini. Kondisi bumi yang menyedihkan menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang berlangsung. Penderitaan yang kita alami dan kesukaran yang dirasakan orang lain menunjukkan bahwa penderitaan tidak membeda-bedakan ras, status sosial, agama, atau bahkan moralitas. Penderitaan dapat terlihat kejam, ngawur, tanpa tujuan, aneh sekali, dan buas tak terkendalikan. Hal-hal buruk menimpa orang-orang yang mencoba hidup baik, dan hal-hal baik dialami orang-orang yang menikmati kejahatannya. Kita mengalami hal-hal yang sepertinya tidak adil. Saya teringat ketika sedang menjaga nenek saya yang sekarat karena kanker. Kakek dan Nenek Blohm pindah ke rumah kami. Ibu saya, seorang perawat, merawatnya pada bulan-bulan terakhir dalam hidupnya. Ia memberikan obat pemati rasa. Kakek amat menginginkan kesembuhannya. Namun, akhirnya tiba saatnya ketika mobil jenazah membawa pergi tubuh yang lunglai itu. Saya tahu ia telah berada di surga, tetapi hal itu masih terasa menyakitkan. Saya membenci kanker sampai sekarang. Saat saya merenungkan semua penderitaan yang dialami teman-teman saya, teman sekerja saya, keluarga saya, tetangga saya, dan anggota jemaat, saya tidak bisa membayangkan betapa panjangnya daftar orang yang menderita; dan daftar itu masih belum lengkap. Kerap kali orang-orang ini menderita tanpa kesalahan yang jelas. Kecelakaan, cacat lahir, kekacauan genetik, keguguran, orangtua yang kejam, sakit kronis, anak pemberontak, sakit parah, penyakit yang tak jelas, kematian pasangan atau anak, putusnya hubungan, bencana alam. Semua ini sepertinya tidak adil. Dari waktu ke waktu saya tergoda untuk menyerah dalam keputusasaan.
Bagaimana kita dapat memecahkan masalah ini? Bagaimana kita dapat menjalani kehidupan yang pahit ini tanpa menyangkal realitas atau terjerumus dalam keputusasaan? Tidak mampukah Allah menciptakan dunia yang tanpa masalah? Tidak mampukah Dia menciptakan dunia di mana orang tidak dapat membuat pilihan yang buruk atau melukai orang lain? Tidak mampukah Dia membuat dunia tanpa nyamuk, rumput liar, dan kanker. Dia mampu, tetapi Dia tidak mau berbuat demikian. Karunia besar kebebasan umat manusia yang telah Allah berikan kepada kita adalah kemampuan untuk memilih, yang di dalamnya terdapat risiko membuat pilihan yang salah. Jika Anda dapat memilih antara menjadi makhluk yang berpikiran bebas di mana pilihan-pilihan yang buruk menimbulkan penderitaan, atau menjadi sebuah robot yang tidak dapat merasakan penderitaan. Mana yang Anda pilih? Makhluk macam apa yang memberikan rasa hormat yang lebih kepada Allah? Makhluk macam apakah yang akan lebih mengasihi-Nya?

Kita bisa saja diciptakan seperti boneka lucu yang dijalankan dengan baterei, yang dapat berkata "Saya mencintaimu" ketika dipeluk. Namun Allah mempunyai rencana lain. Dia mengambil satu "risiko" untuk menciptakan makhluk-makhluk yang dapat melakukan hal yang tak terpikirkan, makhluk yang dapat memberontak terhadap Penciptanya. Apa yang terjadi di surga? Godaan, pilihan-pilihan yang buruk, dan konsekuensi yang tragis menghancurkan kedamaian Adam dan Hawa. Kitab Kejadian 2 dan 3 menunjukkan secara rinci bagaimana Setan mencobai kasih mereka terhadap Tuhan, dan mereka gagal. Di dalam istilah Alkitab, kegagalan itu disebut dosa. Seperti halnya virus AIDS yang menginfeksi tubuh, meruntuhkan sistem kekebalan tubuh, dan kemudian membawa kita pada kematian, demikian juga dosa menyebar seperti infeksi mematikan yang menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap generasi baru mewarisi akibat dosa dan keinginan untuk berbuat dosa (Roma 1:18-32; 5:12,15,18).

Masuknya dosa ke dalam dunia tidak hanya membawa pengaruh yang merusak umat manusia, tetapi juga membawa penghukuman langsung dan terus-menerus dari Allah. Kejadian 3 menghubungkan betapa kematian fisik dan spiritual menjadi bagian dari keberadaan manusia (ayat 3,19), proses melahirkan bayi menjadi menyakitkan (ayat 16), tanah dikutuk sehingga dipenuhi semak belukar yang membuat kerja manusia menjadi amat berat (ayat 17-19), dan Adam serta Hawa diusir dari Taman yang khusus itu, tempat mereka menikmati hubungan yang intim dengan Allah (ayat 23,24). Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menggambarkan seluruh ciptaan Allah mengeluh dan amat merindukan saat mereka dibebaskan dari kutuk kebinasaan dan diciptakan kembali sehingga bebas dari pengaruh dosa (Roma 8:19-22). Penyakit, bencana, dan korupsi merupakan gejala dari masalah yang berat. Manusia telah memberontak melawan Penciptanya. Setiap kesedihan, kesusahan, dan kegetiran merupakan peringatan mara bahaya yang akan kita alami. Seperti halnya neon sign yang besar, realitas penderitaan meneriakkan pesan bahwa dunia tidak seperti yang Allah kehendaki. Oleh karena itu, jawaban yang pertama dan terutama atas penderitaan adalah bahwa hal itu merupakan akibat langsung dari masuknya dosa ke dalam dunia. Penderitaan memperingatkan kita bahwa penyakit spiritual sedang menghancurkan bumi kita. Kerap kali masalah yang kita alami hanyalah efek samping kehidupan dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, bukan karena kesalahan kita secara langsung.

2. Ada yang tidak beres dengan ciptaan Allah. Kita bisa menjadi sasaran tindakan kejam dari orang lain atau pasukan Setan. Baik manusia maupun makhluk roh yang telah jatuh ke dalam dosa (para malaikat yang memberontak) mampu membuat keputusan-keputusan yang merusak diri mereka sendiri maupun orang lain.

Penderitaan dapat disebabkan oleh manusia. Sebagai makhluk yang bebas (dan terinfeksi dosa), manusia telah membuat dan akan terus membuat pilihan-pilihan yang buruk dalam hidupnya. Pilihan-pilihan buruk ini kerap kali memengaruhi orang lain. Misalnya, salah seorang anak Adam, Kain, memilih untuk membunuh saudaranya Habel (Kejadian 4:7,8). Lamekh menyombongkan kekerasan yang ia lakukan (ayat 23,24). Sarai menganiaya Hagar (Kejadian 16:1-6). Laban menipu keponakannya, Yakub (Kejadian 29:15-30). Yusuf dijual saudaranya sebagai budak (Kejadian 37:12-36), dan kemudian istri Potifar menuduhnya mencoba melakukan perkosaan dan membuatnya masuk penjara (Kejadian 39). Firaun dengan kejam menganiaya budak Yahudi di Mesir (Keluaran 1). Raja Herodes membantai bayi-bayi yang hidup di sekitar Betlehem sewaktu berusaha membunuh Yesus (Matius 2:16-18). Luka yang ditimpakan orang lain terhadap kita mungkin disebabkan oleh keegoisan mereka. Atau mungkin juga Anda menjadi sasaran aniaya karena Anda beriman kepada Kristus. Sepanjang sejarah, orang yang mengikut Tuhan menderita di tangan orang-orang yang memberontak terhadap Allah. Sebelum bertobat, Saulus adalah seorang anti-Kristen fanatik yang melakukan apa saja untuk membuat hidup orang percaya menderita. Ia bahkan berusaha membunuh mereka (Kis 7:54-8:3). Namun setelah pengenalannya yang dramatis dengan Tuhan Yesus, ia berani menjalani semua penganiayaan ketika dengan berani memberitakan Injil (2Kor 4:7-12; 6:1-10). Ia bahkan dapat berkata bahwa penderitaan yang dialaminya membantu membuatnya lebih serupa dengan Kristus (Filipi 3:10).

Penderitaan dapat disebabkan oleh Setan dan roh jahat. Kisah kehidupan Ayub merupakan contoh yang jelas bagaimana orang yang baik bisa mengalami tragedi yang luar biasa karena serangan setan. Allah mengizinkan Setan mengambil harta milik Ayub, keluarganya, dan kesehatannya (Ayub 1,2). Saya ngeri, bahkan ketika saya menulis kalimat di atas. Bagaimanapun juga, dan demi tujuan-Nya, Allah mengizinkan Setan menghancurkan kehidupan Ayub. Kita mungkin cenderung membandingkan perlakuan Allah terhadap Ayub dengan seorang ayah yang membiarkan tetangganya yang suka mengganggu memukul anak-anaknya sendiri. Sang ayah hanya ingin tahu apakah mereka masih mengasihi ayahnya setelah dipukuli tetangganya itu. Namun, saat Ayub sadar, itu bukan penilaian yang adil jika berbicara tentang Allah yang bijaksana dan penuh kasih. Kita tahu, meskipun Ayub tidak menilai Tuhan tidak adil, hidupnya merupakan sebuah ujian kasus, suatu kesaksian yang hidup bagi Allah yang penuh ketulusan. Ayub menggambarkan bahwa seseorang dapat memercayai Allah dan mempertahankan integritas, bahkan jika hidupnya berantakan (apa pun sebabnya), karena Allah layak untuk dipercaya. Akhirnya, Ayub belajar bahwa meskipun ia tidak mengerti maksud Allah, ia memiliki banyak alasan untuk percaya bahwa Allah bukannya tidak adil, kejam, sadis, atau tidak jujur dengan mengizinkan hidupnya diporak-porandakan (Ayub 42).

Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? — Ayub 2:10
Rasul Paulus mengalami masalah fisik yang ia hubungkan dengan Setan. Ia menyebutnya "suatu duri di dalam daging… yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku" (2Kor 12:7). Paulus berdoa agar terbebas dari masalah itu, tetapi Allah tidak memberi apa yang ia minta. Sebaliknya, Tuhan membantunya melihat betapa kesukaran ini bisa memiliki tujuan yang baik. Hal ini membuat Paulus bergantung kepada Tuhan dan menempatkan diri pada suatu posisi untuk mengalami kemurahan-Nya (2Kor 12:8-10). Meskipun hampir semua kasus sakit-penyakit tidak dapat langsung dipertautkan dengan pekerjaan Iblis, Injil mencatat beberapa contoh penderitaan yang diakibatkan oleh Setan, termasuk seorang yang buta dan bisu (Matius 12:22), dan seorang anak laki-laki yang sakit ayan (Matius 17:14-18).

3. Ada yang tidak beres dengan saya. Kerap kali ketika terjadi sesuatu yang tidak beres di dalam hidup kita, kita segera mengambil kesimpulan bahwa Allah sedang mencambuk kita karena dosa yang kita lakukan. Hal itu tidak selalu benar. Seperti yang kita bahas dalam butir-butir sebelumnya, kita banyak mengalami penderitaan karena hidup di dunia yang sudah rusak dan dihuni oleh orang-orang yang rusak dan roh-roh yang memberontak. Teman-teman Ayub berpikiran salah karena menganggap ia menderita karena dosa dalam hidupnya (Ayub 4:7,8; 8:1-6; 22:4,5; 36:17). Murid-murid Yesus sendiri mengambil kesimpulan yang keliru tatkala mereka melihat seorang yang buta. Mereka bertanya-tanya apakah kebutaan orang itu disebabkan oleh dosanya sendiri atau dosa orangtuanya (Yohanes 9:1,2). Yesus memberi tahu mereka bahwa kebutaan orang itu tidak disebabkan oleh dosa pribadinya atau dosa orangtuanya (Yohanes 9:3). Dengan mengingat peringatan ini, kita dihadapkan kebenaran yang sukar bahwa beberapa penderitaan benar-benar akibat langsung dari dosa, baik sebagai pendisiplinan yang diterapkan Allah bagi mereka yang Dia kasihi, atau hukuman yang Allah lakukan terhadap para pemberontak di semesta-Nya. Koreksi. Jika Anda dan saya telah percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat maka, kita akan menjadi anak-anak Allah. Dengan begitu, kita adalah bagian sebuah keluarga yang dipimpin oleh Bapa yang penuh kasih yang melatih dan mengoreksi kita. Dia bukanlah orangtua yang kejam dan sadis yang melancarkan pukulan-pukulan keras karena Dia senang melakukannya.

Ibrani 12 menyatakan: Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak… Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibrani 12:5,6,9,10).

Dan kepada jemaat di Laodikia, Yesus berkata, "Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!" (Wahyu 3:19). Raja Daud tahu bagaimana rasanya mengalami kasih yang keras dari Allah. Setelah perzinahannya dengan Batsyeba dan berkomplot untuk meyakinkan bahwa suaminya terbunuh dalam peperangan, Daud tidak bertobat sampai nabi Natan menuduhnya. Mazmur 51 mengisahkan pergumulan Daud dengan rasa bersalahnya dan tangisannya minta ampun. Dalam Mazmur yang lain, Daud mengisahkan tentang dampak dari orang yang menutupi dan mengabaikan dosa. Dia menulis, "Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat" (Mazmur 32:3,4).

Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya. — Ibrani 12:5,6

Dalam 1Kor 11:27-32, Rasul Paulus mengingatkan umat percaya bahwa menyepelekan hal-hal dari Tuhan, seperti ambil bagian dalam Perjamuan Kudus secara tidak serius, akan mendatangkan hukuman. Paulus menjelaskan bahwa hukuman dari Allah ini memiliki tujuan. Ia berkata, "Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia" (ayat 32). Kebanyakan dari kita dapat memahami prinsip bahwa Allah mendisiplinkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Kita mengharapkan Bapa yang penuh kasih akan mengoreksi kita dan memanggil kita untuk memperbarui ketaatan kita kepada-Nya.
Penghakiman. Allah juga bertindak untuk mengatasi umat percaya yang bandel yang bersikeras melakukan kejahatan. Seseorang yang tidak menerima karunia keselamatan Allah akan menerima murka Allah pada hari penghakiman kelak dan bahaya penghakiman yang keras pada saat ini jika Dia memang berkehendak demikian. Tuhan mendatangkan air bah untuk menghancurkan umat manusia (Kejadian 6). Dia menghancurkan Sodom dan Gomora (Kejadian 18,19). Dia mengirimkan wabah pada bangsa Mesir (Keluaran 7-12). Dia memerintahkan bangsa Israel untuk menghancurkan seluruh orang-orang kafir yang tinggal di Tanah Perjanjian (Ulangan 7:1-3). Dia menampar Raja Herodes yang sombong sampai mati di zaman Perjanjian Baru (Kis 12:19-23). Dan pada masa penghakiman mendatang, Allah akan menghakimi secara sempurna siapa saja yang menolak kasih dan hukum-Nya (2Petrus 2:4-9).

Namun, sekarang ini kita masih menghadapi ketidakadilan. Karena alasan-alasanNya yang bijaksana, Allah memilih untuk menunda penghakiman sempurna-Nya. Penulis kitab Mazmur, Asaf, bergumul dengan ketidakadilan hidup. Ia menulis tentang orang-orang fasik yang bebas dengan perbuatan jahatnya, bahkan makin makmur saja, sedangkan orang-orang yang benar mendapat masalah (#/TB Mazmur 73). Berkenaan dengan kemakmuran orang fasik ia berkata, "Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memerhatikan kesudahan mereka" (ayat 16,17). Dengan memikirkan kemahakuasaan Tuhan semesta alam, Asaf mampu melihat hal-hal itu dalam sudut pandang yang benar. Ketika kita bergumul dengan realitas bahwa orang-orang fasik secara harafiah "bebas dari tuduhan membunuh" dan segala macam imoralitas, kita perlu ingat bahwa "Tuhan… sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya orang berbalik dan bertobat" (2Petrus 3:9). Lalu, bagian pertama dari jawaban masalah penderitaan adalah bahwa Allah menggunakan penderitaan itu untuk memperingatkan kita terhadap masalah-masalah yang serius. Penderitaan membunyikan alarm untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan dunia ini, dengan manusia pada umumnya, dan dengan Anda dan saya. Namun seperti yang kita akan lihat dalam bagian berikutnya, Allah tidak hanya memberi isyarat akan masalah-masalah itu, Dia juga menggunakan kesukaran untuk mendorong kita menemukan pemecahannya, di dalam Dia.

UNTUK MEMIMPIN KITA

Ketika seseorang menolak Allah, penderitaanlah yang kerap kali menjadi kambing hitam. Namun anehnya, penderitaan juga mendapat penghargaan ketika orang menggambarkan bahwa penderitaan mengarahkan kembali hidup mereka, menolong mereka untuk melihat hidup lebih jelas lagi, dan menyebabkan hubungan mereka dengan Allah semakin dekat. Bagaimana situasi yang sama memberikan pengaruh yang amat berbeda bagi orang lain? Alasannya terletak jauh di dalam orang itu sendiri, bukan pada peristiwanya. Seorang pemimpin terkenal dan terbuka terhadap media mencela kekristenan sebagai "agama bagi para pecundang." Namun ia tidak selalu merasa seperti itu. Ketika masih muda, ia menerima pelatihan Alkitab, termasuk prasekolah di sekolah kristiani. Ketika bergurau tentang indoktrinasi ketat yang ia peroleh, ia berkata, "Saya kira saya telah diselamatkan tujuh atau delapan kali." Namun kemudian suatu pengalaman yang menyakitkan mengubah pandangannya terhadap kehidupan dan Allah. Adik perempuannya sakit keras. Ia berdoa bagi kesembuhannya, tetapi setelah menderita selama lima tahun, adiknya meninggal dunia. Ia kecewa karena Allah memang mengizinkan hal itu terjadi. Ia berkata, "Saya mulai kehilangan iman saya, dan dengan semakin berkurangnya iman saya, saya merasa semakin baik."

Apa bedanya orang seperti itu dengan Joni Eareckson Tada? Dalam buku Where Is God When It Hurts? (Di Mana Allah Ketika Kita Menderita?) Philip Yancey menggambarkan perubahan sikap secara bertahap yang terjadi pada Joni selama bertahun-tahun setelah ia lumpuh dalam kecelakaan ketika ia berolahraga selam. "Pertama, Joni merasa tidak mungkin untuk mempertahankan kepercayaannya kepada Allah yang penuh kasih… Pertobatannya kembali kepada Allah terjadi secara bertahap. Luluhnya sikap Joni dari kesinisan menjadi percaya terjadi setelah melewati masa-masa penuh air mata dan pergumulan selama tiga tahun" (hlm. 133,134). Titik balik itu terjadi pada suatu malam ketika seorang teman dekatnya, Cindy, memberitahunya, "Joni, engkau bukanlah satu-satunya orang yang mengalami hal ini. Yesus tahu apa yang engkau rasakan karena Dia juga lumpuh." Cindy menggambarkan bagaimana Yesus disalibkan di kayu salib, dilumpuhkan oleh paku. Yancey kemudian berkata, "Pikiran itu membangkitkan minat Joni dan, sesaat kemudian, mengalihkan pikirannya terhadap penderitaannya sendiri. Sebelumnya, ia tidak pernah berpikir bahwa Allah merasakan rasa sakit yang menyengat seperti yang sekarang menyiksa tubuhnya. Kesadaran itu amat melegakannya (hlm.134). Joni tidak meneruskan mencari jawaban mengapa kecelakaan yang menghancurkan hidupnya itu terjadi. Sebaliknya, ia makin bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas. Selanjutnya Yancey berkata tentang Joni, "Ia bergumul dengan Allah, ya, tetapi ia tidak menjauh dari-Nya… Joni sekarang menyebut kecelakaannya sebagai suatu ‘pengacau yang agung’, dan mengklaim bahwa semua yang terjadi itu adalah hal yang terbaik. Allah menggunakan kecelakaan itu untuk mendapatkan perhatiannya dan memimpin pikirannya kepada-Nya" (hlm. 137,138).

Prinsip bahwa penderitaan dapat menghasilkan ketergantungan yang sehat pada Allah diajarkan oleh Rasul Paulus dalam Salah satu suratnya kepada jemaat di Korintus. Ia menulis demikian:

Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati (#/TB 2Kor 1:8,9).

Ide yang sama dapat ditemukan dalam komentar Paulus tentang masalah tubuhnya sendiri. Tuhan memberi tahu Paulus, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2Kor 12:9). Kemudian Paulus menambahkan, "Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (ayat 10). Penderitaan memberi jalan untuk menunjukkan betapa sebenarnya kita ini lemah. Penderitaan memaksa kita untuk memikirkan kembali prioritas, nilai, tujuan, mimpi, kesenangan, sumber kekuatan, dan hubungan kita dengan sesama dan Allah. Penderitaan mampu mengarahkan perhatian kita kepada kenyataan-kenyataan rohani, jika tidak justru membuat kita meninggalkan Allah. Penderitaan memaksa kita untuk mengevaluasi kembali arah hidup kita. Kita dapat memilih untuk berputus asa dengan memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang kita hadapi sekarang. Namun kita juga dapat memilih untuk tetap berharap dengan mengenal rencana jangka panjang Allah bagi kita (Roma 5:5; 8:18,28; Ibrani 11). Dari semua pasal dalam Alkitab, Ibrani 11 paling meyakinkan saya kembali bahwa entah hidup ini menyenangkan atau aneh sekali, saya harus tetap beriman dalam kebijaksanaan, kuasa, dan kendali Allah. Apa pun yang terjadi, saya memiliki alasan untuk memercayai-Nya seperti halnya para tokoh Alkitab dulu berharap kepada-Nya. Misalnya, Ibrani 11 mengingatkan kita tentang Nuh, seorang yang menghabiskan waktu 120 tahun lamanya untuk menunggu Allah menggenapi janji-Nya mendatangkan air bah (Kejadian 6:3). Abraham telah menunggu bertahun-tahun dalam penderitaan sebelum anak yang Allah janjikan lahir. Yusuf dijual menjadi budak dan dipenjara tanpa bersalah, tetapi ia akhirnya melihat bagaimana Allah menggunakan semua hal yang tampaknya jahat di dalam hidupnya itu untuk tujuan yang baik (Kejadian 50:20). Musa menunggu sampai 80 tahun sebelum Allah memakainya untuk membantu membebaskan umat Yahudi dari Mesir. Dan bahkan kemudian, memimpin orang-orang yang kurang beriman merupakan pergumulan tersendiri baginya (lihat Keluaran). Ibrani 11 mendaftar orang-orang seperti Gideon, Simson, Daud, dan Samuel, yang melihat kemenangan-kemenangan akbar ketika mereka hidup bagi Tuhan. Namun di tengah ayat 35 suasananya berubah. Tiba-tiba kita dihadapkan dengan orang-orang yang harus menahan penderitaan yang luar biasa yakni orang-orang yang mati tanpa mengerti mengapa Allah mengizinkan mereka mengalami tragedi semacam itu. Pribadi-pribadi itu disiksa, diejek, dicambuk, dilempari batu, dipotong jadi dua, ditusuk, dianiaya, dan dipaksa hidup sebagai orang-orang buangan (ayat 35-38). Allah berencana bahwa dengan mata rohani yang tertuju pada kekekalan maka kesetiaan mereka dalam masa kesukaran akan mendapat pahala (ayat 39,40).

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. — Ibrani 11:1

Penderitaan memaksa kita untuk melihat jauh ke depan melampui keadaan kita sekarang. Penderitaan mendorong kita untuk menanyakan pertanyaan yang besar "Mengapa saya berada di sini" dan "Apa tujuan hidup saya?" Dengan mencari jawaban atas kedua pertanyaan itu dan menemukan jawabannya di dalam Allah yang terdapat dalam Alkitab, kita akan menemukan stabilitas yang kita butuhkan untuk menahan penderitaan yang paling berat yang menimpa hidup kita karena kita tahu bahwa kita tidak selamanya menderita. Jika kita tahu bahwa Allah yang berdaulat tetap menyertai sepanjang sejarah umat manusia dan merajut semuanya itu menjadi permadani indah yang akhirnya akan memuliakan-Nya, kita akan melihat segala sesuatu dalam sudut pandang yang lebih baik. Dalam Roma 8:18 Rasul Paulus menulis, "Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita." Paulus tidak meringankan kesukaran-kesukaran kita, tetapi ia memberi tahu orang percaya untuk melihat kesukaran-kesukaran saat ini dengan kacamata kekekalan. Masalah-masalah kita mungkin berat, bahkan menghancurkan. Namun Paulus berkata bahwa jika dibandingkan dengan kemuliaan yang akan diterima oleh orang yang mengasihi Allah, meskipun dalam keadaan hidup yang paling gelap dan berat, semuanya itu akan memudar. Kita perlu melihat satu contoh lagi, yang mungkin menjadi ilustrasi paling penting yang perlu kita renungkan. Ingatlah ketika Kristus tergantung di kayu salib, yang saat ini dikenal sebagai Jumat Agung. Pada saat itu, hari berlangsung seperti biasa. Namun hari itu adalah hari yang penuh penderitaan, kesedihan yang mendalam, gelap, dan muram. Itulah hari ketika Yesus merasa kesepian. Itulah hari ketika Allah sepertinya tidak ada dan membisu, saat Iblis kelihatannya menang, dan harapan dihancurkan. Namun kemudian tibalah hari Minggu. Yesus bangkit dari kubur. Peristiwa yang mengagumkan itu membuat hari Jumat menjadi berarti. Kebangkitan memberi makna baru pada apa yang terjadi pada kayu salib. Bukan sebagai saat kekalahan, tetapi menjadi hari kemenangan. Kita juga dapat melihat ke depan. Kita dapat bertahan pada "Jumat" kita yang kelabu dan bisa melihatnya sebagai hari yang "baik" karena kita melayani Allah yang menang di hari Minggu. Jadi ketika kesukaran menimpa, dan pasti menimpa kita, ingatlah hal ini: Allah menggunakan situasi-situasi semacam itu untuk menuntun kita kepada-Nya dan kepada pandangan hidup yang jauh ke depan. Dia memanggil kita untuk percaya, berharap, dan menunggu.

UNTUK MEMBENTUK KITA

Pelatih atletik suka memakai ungkapan "No pain, no gain" (Tiada hasil tanpa usaha). Sebagai seorang bintang lintasan (Oke, mungkin saya tidak sehebat itu, tetapi saya berusaha keras!), saya mendengar pelatih selalu mengingatkan kami bahwa jadwal latihan yang keras akan terbayar lunas ketika kita mulai bertanding. Pelatih itu benar. Oh, kita memang tidak selalu menang, tetapi kerja keras kita benar-benar menghasilkan keuntungan yang nyata. Saya belajar banyak tentang diri saya sendiri selama tahun-tahun itu. Dan sekarang saya bahkan belajar lebih keras dalam berdisiplin diri untuk joging setiap hari. Saya bisa saja melupakannya di kemudian hari. Namun saya tidak ingin sakit karena melonggarkan jadwal olahraga. Saya tidak ingin memaksa "sistem radiator" saya bekerja terlalu keras. Saya tidak ingin harus merasa lelah saat saya mendaki bukit. Lalu, mengapa saya melakukannya? Hasil yang saya peroleh benar-benar sesuai dengan perjuangan saya. Tekanan darah dan denyut nadi saya tetap normal, perut saya tidak membuncit, dan saya merasa lebih sehat. Olahraga menunjukkan berbagai manfaat nyata, tetapi bagaimana dengan usaha yang tidak ingin kita pilih? Bagaimana dengan penyakit, kecelakaan, dan kesedihan? Apa yang kita peroleh dari penderitaan semacam itu? Benarkah hasilnya benar-benar sepadan dengan penderitaannya? Marilah kita lihat apa yang dirasakan oleh orang yang menderita dalam Roma 5:3-4. Rasul Paulus menulis, "… kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan."

Paulus menyatakan tentang keuntungan penderitaan dengan mengatakan "kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita." Mengapa ia dapat berkata bahwa kita harus bersukacita atau berbahagia jika kita harus menahan tragedi yang menyakitkan? Ia jelas tidak mengatakan agar kita bersukacita secara harafiah terhadap datangnya penderitaan, tetapi bersukacita atas apa yang Allah dapat dan akan lakukan bagi kita dan bagi kemuliaan-Nya lewat pencobaan-pencobaan yang kita alami. Pernyataan Paulus mendorong kita untuk merayakan hasil akhir, bukan proses yang menyakitkan itu sendiri. Ia tidak bermaksud agar kita bersukacita secara tidak wajar atas kematian, cacat tubuh, kerugian uang, putusnya hubungan, atau kecelakaan yang tragis. Semua hal yang mengerikan itu mengingatkan bahwa kita hidup di dunia yang telah rusak oleh kutuk akibat dosa. Rasul Yakobus juga menulis bagaimana kita harus bersukacita pada hasil akhir masalah-masalah kita. Ia berkata, "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun" (1:2-4). Jika kita menggabungkan kebenaran dari dua ayat tersebut, kita dapat melihat bagaimana hasil penderitaan yang baik dan patut dipuji itu adalah ketekunan, kematangan karakter, dan harapan. Allah dapat menggunakan kesukaran-kesukaran hidup untuk membentuk kita agar mempunyai iman yang lebih matang, lebih saleh, dan lebih menyerupai Kristus. Jika kita memercayai Kristus sebagai Juru Selamat kita, Tuhan tidak begitu saja menyulap kita menjadi manusia yang sempurna. Apa yang Dia lakukan adalah menghilangkan hukuman dosa dan membawa kita pada jalan menuju surga. Kehidupan lalu menjadi masa untuk mengembangkan karakter karena kita belajar lebih jauh tentang Allah dan bagaimana kita harus menyukakan hati Nya. Penderitaan secara dramatis memaksa kita untuk menghadapi masalah-masalah hidup yang lebih dalam. Dengan melakukan itu, kita bertumbuh makin kuat dan matang.

Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun. — Yakobus 1:4

Kakek saya, Dr. M.R. De Haan, berbicara tentang proses pembentukan hidup lewat bukunya Broken Things (Yang Terkoyak). Ia menulis:

Khotbah terbesar yang pernah saya dengar tidak dikhotbahkan dari atas mimbar, tetapi dari sisi pembaringan. Kebenaran terbesar dan terdalam dari firman Tuhan kerap kali diungkapkan bukan oleh mereka yang berkhotbah dari lulusan sekolah teologi, tetapi oleh jiwa-jiwa sederhana yang belajar dari sekolah penderitaan dan dari pengalaman atas hal-hal penting bagaimana Allah bekerja. Orang paling ceria yang pernah saya temui, dengan sedikit kekecualian, adalah mereka yang mendapat sinar matahari paling sedikit dan mengalami penderitaan yang paling berat dalam hidup mereka. Orang yang paling bersyukur yang pernah saya temui bukanlah mereka yang berjalan di atas permadani bunga mawar sepanjang hidupnya, tetapi mereka yang terkurung di rumah, kerap kali di atas ranjang mereka, dan telah belajar untuk bergantung kepada Allah sebagai satu-satunya yang bisa dilakukan oleh orang-orang kristiani ini. Saya memerhatikan, orang-orang yang suka mengeluh biasanya justru mereka yang menikmati hidup sehat. Para pengeluh adalah orang yang sebenarnya tidak memiliki hal untuk dikeluhkan. Sebaliknya orang-orang kudus yang telah menyegarkan jiwa saya berkali-kali saat mereka berkhotbah di sisi pembaringan adalah orang-orang yang paling bersukacita dan paling bersyukur atas berkat Allah Yang Mahakuasa (hlm. 43,44).

Bagaimana Anda bereaksi terhadap kesukaran-kesukaran hidup? Apakah Anda menjadi semakin sinis atau makin baik? Apakah Anda bertumbuh di dalam iman Anda atau justru menjauh dari Allah? Apakah karakter Anda menjadi lebih seperti Kristus? Apakah Anda membiarkan penderitaan membentuk Anda dan menyesuaikan diri Anda dengan gambaran Anak Allah?

Bagaimana segala sesuatu turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan? Mungkin firman Tuhan yang paling sering dikutip pada waktu penderitaan adalah Roma 8:28. Ayat itu berbunyi, "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." Ayat ini kerap kali disalahpahami dan mungkin disalahgunakan, tetapi kebenarannya dapat membawa penghiburan yang besar. Roma 8 menekankan apa yang Allah perbuat bagi kita. Roh Kudus yang tinggal di dalam diri kita memberi kita kehidupan rohani (ayat 9), meyakinkan kita bahwa kita adalah anak-anak Allah (ayat 16), dan menolong kita dengan doa-doa kita pada saat kita lemah (ayat 26,27). Roma 8 juga meletakkan penderitaan kita ke dalam gambaran yang lebih besar mengenai apa yang Allah kerjakan yakni bahwa Allah melaksanakan rencana penebusan-Nya (ayat 18-26). Ayat 28 sampai 39 meyakinkan kita akan kasih Allah bagi kita, sehingga tidak ada seorang pun atau apa pun yang bisa menghalangi Allah menyelesaikan apa yang ingin Dia kerjakan, dan tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih-Nya. Jadi, jika kita memerhatikan konteks Roma 8 ini dengan sungguh-sungguh, ayat 28 benar-benar meyakinkan kita bahwa Allah bekerja bagi mereka yang memercayai Anak-Nya sebagai Penebus. Ayat itu tidak menjanjikan bahwa kita akan memahami semua peristiwa hidup atau bahwa setelah melewati masa ujian, kita akan diberkati dengan hal-hal yang baik dalam hidup ini. Namun ayat itu meyakinkan kita bahwa Allah melakukan pekerjaan baik melalui hidup kita. Dia membentuk hidup dan keadaan kita untuk membawa kemuliaan bagi-Nya. Ron Lee Davis, dalam bukunya Becoming a Whole Person in a Broken World (Menjadi Pribadi yang Utuh Dalam Dunia yang Hancur) menulis, "Berita baik itu bukanlah bahwa Allah akan membuat keadaan seperti yang kita inginkan, tetapi bahwa Allah dapat menenun kekecewaan dan bencana menjadi rencana kekekalan-Nya. Kejahatan yang menimpa kita dapat diubah menjadi kebaikan dari Allah. Roma 8:28 adalah jaminan yang Allah berikan bahwa jika kita mengasihi Allah, hidup kita dapat dipakai untuk mencapai tujuan-Nya dan memperluas kerajaan-Nya"(hlm.122).
"Namun," Anda mungkin bertanya, "bagaimana Allah dapat menjadi pengendali jika hidup kelihatannya tak terkendalikan? Bagaimana Dia dapat membuat semuanya bekerja demi kemuliaan-Nya dan juga kebaikan kita pada akhirnya?" Dalam bukunya Why Us? Warren Weirsbe menyatakan bahwa Allah "membuktikan kedaulatan-Nya, bukan dengan selalu campur tangan dan menghalangi peristiwa-peristiwa itu, tetapi dengan mengatur dan mengatur kembali peristiwa-peristiwa itu sehingga tragedi pun bisa digunakan untuk mencapai tujuan akhir-Nya (hlm. 136). Sebagai Tuhan alam semesta yang berdaulat, Allah memakai semua kehidupan untuk mengembangkan kedewasaan kita dan menjadikan kita seperti Kristus, serta melanjutkan rencana kekekalan-Nya. Meskipun demikian, untuk mencapai semua tujuan itu, Allah ingin agar kita menolong orang lain. Itulah yang akan dibahas pada bagian berikutnya.

UNTUK MEMPERSATUKAN KITA

Rasa sakit dan penderitaan sepertinya memiliki kemampuan khusus untuk menunjukkan kepada kita betapa kita saling membutuhkan. Pergumulan mengingatkan kita betapa rapuhnya kita. Bahkan kelemahan orang lain dapat mendukung kita ketika kekuatan kita sendiri melemah. Kebenaran ini menjadi semakin nyata bagi saya setiap saya bertemu dengan sekelompok kecil teman-teman persekutuan doa gereja. Selama kebersamaan yang teratur itu, kami saling membagi beban atas anak yang sakit, kehilangan pekerjaan, ketegangan di tempat kerja, anak yang memberontak, keguguran, permusuhan dalam keluarga, depresi, stres setiap hari, anggota keluarga yang belum diselamatkan, keputusan-keputusan yang sulit, tindak kriminal di sekitar kita, peperangan melawan dosa, dan masih banyak lagi. Kerap kali pada akhir pertemuan itu saya memuji Tuhan atas dorongan yang kami beritakan satu sama lain. Kami makin akrab dan makin dikuatkan ketika kami menghadapi pergumulan-pergumulan hidup bersama-sama.

Pengalaman-pengalaman pribadi semacam ini dalam terang firman Tuhan mengingatkan saya pada dua kunci kebenaran:

1. Penderitaan menolong kita melihat kebutuhan kita terhadap umat
percaya lainnya.

2. Penderitaan menolong kita untuk memenuhi kebutuhan orang lain
seperti halnya kita mengizinkan Kristus hidup melalui kita.

Mari kita bahas satu per satu cara Allah memakai rasa sakit dan penderitaan untuk tujuan mempersatukan kita dengan umat percaya dalam Kristus lainnya.

1. Penderitaan membuat kita tahu bahwa kita membutuhkan umat percaya lainnya. Dalam menggambarkan kesatuan umat percaya di dalam Kristus, Rasul Paulus menggunakan analogi tubuh manusia (1Kor 12). Ia mengatakan bahwa kita saling membutuhkan agar berfungsi dengan baik. Paulus menggambarkan situasi itu sebagai berikut: "Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya" (ayat 26,27). Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus berbicara tentang Kristus, "DaripadaNyalah seluruh tubuh, yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota, menerima pertumbuhannya membangun dirinya dalam kasih" (Efesus 4:16). Ketika kita mulai mengenali segala hal yang dapat dilakukan umat percaya lain kepada kita, kita akan menyadari betapa banyak yang bisa diperoleh dengan menjangkau mereka ketika kita mengalami masa-masa pergumulan. Jika suatu masalah kelihatannya mematahkan kekuatan kita, kita dapat bersandar pada umat percaya lain untuk menolong kita menemukan kekuatan baru di dalam kuasa Tuhan.

2. Penderitaan menolong kita untuk memenuhi kebutuhan orang lain seperti halnya kita mengizinkan Kristus hidup melalui kita. Dalam 2Kor 1, Paulus menulis, "Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah" (ayat 3,4). Seperti yang telah kita lihat dalam bagian yang lalu, kita membutuhkan satu sama lain karena kita memiliki sesuatu yang berharga untuk saling dibagikan. Kita memiliki kebijaksanaan dan pandangan spiritual yang kita pelajari saat kita mengalami berbagai macam pencobaan. Kita tahu nilai kehadiran pribadi dari seseorang yang penuh kasih. Jika kita mengalami penghiburan Allah selama situasi gawat, kita akan mampu untuk menghibur orang yang mengalami situasi-situasi yang hampir sama dengan yang kita alami. Saat menyiapkan buku ini, saya membaca pengalaman orang-orang yang amat menderita, dan saya bicara dengan orang-orang yang mengalami rasa sakit yang hampir sama. Saya mencoba mencari orang yang paling bisa menolong mereka pada saat kesukaran. Jawabannya sekali lagi: orang lain yang pernah mengalami permasalahan yang hampir sama. Orang itu dapat berempati secara penuh, dan komentar-komentarnya memancarkan pengertian yang keluar dari pengalaman. Bagi seseorang yang berbeban berat, bila ada orang lain berkata, "Saya mengerti apa yang Anda alami," tetapi ia tidak sungguh-sungguh mengalaminya, ucapan itu terdengar kosong dan tidak ada artinya. Meskipun penghibur terbaik adalah mereka yang pernah mengalami situasi yang mirip dan mengalami pertumbuhan rohani yang makin kuat karenanya, itu tidak berarti bahwa orang yang belum pernah mengalami penderitaan semacam itu tidak bisa apa-apa. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk melakukan apa yang dapat kita kerjakan untuk berempati, mencoba untuk mengerti, mencoba untuk menghibur. Galatia 6:2 mengatakan, "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." Dan Roma 12:15 menyatakan, "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, menangislah dengan orang yang menangis!" Dr. Paul Brand, seorang pakar penyakit lepra, menulis, "Jika rasa sakit menyerang, orang yang ada di dekat penderita akan terpukul oleh rasa terkejut. Kita mencoba mengatasi rasa tertekan itu. Kita akan ke rumah sakit dengan langkah pasti untuk menjenguk orang itu; mengucapkan beberapa kata penghiburan, dan mungkin membawakan artikel yang dapat melegakannya.

Singkatnya, tidak ada obat mujarab bagi orang yang menderita. Orang seperti ini hanya membutuhkan kasih, karena kasih secara naluri mendeteksi apa yang dibutuhkan. — Philip Yancey

"Tetapi ketika saya bertanya kepada para pasien dan keluarganya, ‘Siapa yang menolong Anda selama Anda menderita?’ Saya mendengar jawaban yang tidak terduga. Orang yang mereka gambarkan kerap kali bukan orang yang dapat memberi jawaban dengan baik dan berkepribadian menarik atau periang. Penolong mereka justru orang yang tenang, penuh pengertian, dan lebih senang mendengarkan daripada berbicara. ‘Kehadiran.’ ‘Seseorang yang selalu ada ketika saya membutuhkan.’ Tangan untuk digenggam, pengertian, pelukan di masa-masa sulit. Orang yang mau diajak berbagi" (Fearfully and Wonderfully Made, hlm. 203,204). Jelas sudah bahwa Allah menciptakan kita untuk saling tergantung. Kita memiliki banyak hal yang bisa ditawarkan kepada mereka yang menderita. Sebaliknya orang lain pun memiliki banyak hal yang dapat dibagikan ketika kita menghadapi masalah. Ketika kita mengembangkan kebersamaan itu, kita mengalami penghiburan yang luar biasa jika kita tahu bahwa Allah memakai penderitaan untuk memperingatkan kita akan dosa. Dia memakai kesukaran untuk menuntun kita kepada-Nya, dan Dia bahkan akan menggunakan masalah untuk membuat kita makin menyerupai Kristus.

Bagaimana Anda Dapat Menolong Orang Lain?

Saat ini Anda mungkin sedang dilingkupi penderitaan, sehingga sepertinya tidak mungkin untuk menolong orang lain. Meskipun demikian, pada titik tertentu saat Anda menjalani penderitaan itu yakni saat Anda menerima penghiburan Allah, Anda akan siap memberi penghiburan kepada orang lain (2Kor 1). Kenyataannya, menolong orang lain mungkin menjadi bagian yang penting dari proses penyembuhan emosi Anda sendiri. Atau mungkin Anda membaca buku ini dengan harapan akan lebih mampu menolong teman yang terluka atau orang yang Anda kasihi. Saran-saran di bagian ini dirancang untuk Anda juga. Menolong orang lain itu berisiko. Pertolongan kita mungkin tidak selalu diterima. Kita mungkin kadang-kadang mengatakan hal-hal yang salah. Namun mencoba untuk menolong adalah suatu keharusan bagi kita. Perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37) mengingatkan kita bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk menolong orang-orang terluka yang kita temui. Inilah beberapa saran yang mungkin bisa menolong Anda:



Jangan menunggu orang lain untuk bertindak lebih dulu.
Hadirlah secara fisik bersama mereka jika memungkinkan, dan berikan
sentuhan atau pelukan yang sewajarnya.
Pusatkan pada kebutuhan mereka dan bukan pada ketidakenakan Anda
sendiri karena tidak bisa memberikan jawaban yang memadai.
Izinkan mereka untuk mengungkapkan perasaan. Jangan mencela emosi
mereka.
Pelajarilah masalah mereka.
Jangan berpura-pura bahwa Anda tidak pernah mengalami pergumulan
dalam hidup.
Jangan bicara secara bertele-tele.
Hindari perkataan, "Anda tidak seharusnya mempunyai perasaan
demikian," atau "Anda tahu apa yang seharusnya Anda lakukan."
Yakinkan mereka bahwa Anda pun mendoakan mereka.
Berdoalah! Minta agar Allah menolong Anda dan mereka.
Teruslah menjalin hubungan dengan mereka.
Tolonglah mereka untuk menghilangkan rasa bersalah dengan meyakinkan
bahwa penderitaan dan dosa bukanlah dua hal yang tidak dapat
dipisahkan.
Tolong mereka menemukan pengampunan di dalam Kristus jika mereka
menderita karena dosa, atau jika mereka sadar akan dosa mereka saat
mereka merenungkan hidup mereka.
Beri dorongan kepada mereka untuk mengingat kembali kesetiaan Allah
pada masa lalu.
Pusatkan pada teladan dan pertolongan Kristus.
Ingatkan mereka bahwa Allah mengasihi dan memerhatikan kita, serta
tetap memegang kendali.
Dorong mereka untuk meluangkan waktu istirahat satu hari.
Dorong mereka untuk menemui orang lain yang mereka butuhkan (teman,
keluarga, pendeta).
Tolong mereka untuk menyadari bahwa menghadapi kesukaran itu
memerlukan waktu.

Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis. Roma 12:15

Ingatkan mereka akan kasih pemeliharaan Allah (Mazmur 23).
Ingatkan mereka bahwa Allah mengendalikan alam semesta, baik
peristiwa besar maupun kecil dalam kehidupan.
Jangan mengabaikan masalah mereka.
Jangan mencoba berpura-pura "menyukakan hati mereka". Lakukanlah
dengan sungguh-sungguh. Jadilah teman mereka seperti ketika
kesukaran itu belum menimpanya.
Tunjukkan kepada mereka kasih yang Anda harapkan dari orang lain
jika Anda berada dalam situasi seperti mereka.
Jadilah pendengar yang baik.
Nyatakan betapa berat penderitaan mereka.
Beri mereka waktu untuk sembuh. Jangan mempercepat prosesnya.

Yang Lebih Baik Daripada Jawaban

Kita berkeras meminta jawaban yang lengkap. Sebaliknya, Allah menawarkan Diri-Nya sendiri. Dan itu sudah cukup. Jika kita tahu bahwa kita dapat memercayai-Nya, kita tidak membutuhkan penjelasan yang lengkap. Cukup sudah jika kita mengetahui bahwa rasa sakit dan penderitaan kita bukannya tanpa arti. Cukup sudah jika kita mengetahui bahwa Allah masih menguasai alam semesta dan bahwa Dia sungguh-sungguh memelihara kita masing-masing. Bukti terbesar dari perhatian Allah bagi kita dapat ditemukan jika kita melihat Yesus Kristus. Allah sangat mengasihi kita yang tengah menderita ini sehingga Dia mengirimkan Anak-Nya untuk menderita dan mati bagi kita, agar kita bebas dari hukuman kekal (Yohanes 3:16-18). Karena Yesus, kita dapat menghindari penderitaan terbesar, yaitu penderitaan karena terpisah dari Allah selamanya. Dan karena Kristus, kita dapat menanggung tragedi yang paling buruk pada saat ini karena Dia telah memberi kita kekuatan dan meletakkan harapan di hadapan kita.

Kita berkeras meminta jawaban yang lengkap. Sebaliknya, Allah menawarkan Diri-Nya sendiri.

Langkah pertama dalam menghadapi penderitaan dengan realistis adalah dengan mengenali akarnya di dalam masalah dosa yang universal. Tahukah Anda betapa berat penderitaan yang harus Yesus tanggung di kayu salib untuk membebaskan Anda dari hukuman dosa? Letakkan kepercayaan Anda padaNya. Terimalah kado pengampunan-Nya yang cuma-cuma. Hanya di dalam Dia Anda akan menemukan jawaban atas penderitaan dalam hidup Anda dan dalam dunia ini.

By : Arsy Imanuel, Sumber dari : Originally published in English under the title Why Would a Good God Allow Suffering? from: Kurt De Haan
 

Blog Rankings

Arts Blogs - Blog Rankings